BeritaUnggulan

Kunjungan dari Negeri Jiran, Institut Ilmu Darul Makmur Studi Banding ke Sidogiri

Selasa (1/7), Pondok Pesantren Sidogiri menerima kunjungan dari Institut Ilmu Darul Makmur (IIDM), Pahang, Malaysia. Rombongan yang terdiri 5 orang ini, berkunjung dalam rangka studi banding terkait pengelolaan bahtsul masail dan kurikulum turats. Turut hadir menyambut rombongan, para anggota dari Lajnah Tashih Sidogiri, seperti K.H. Muhibbul Aman Aly, Ust. H.M. Sholeh Romli, dan Ust. Shofiyul Muhibbin, serta Kepala Bagian Musyawarah wa Taklimul Kitab (MTK), Ust. Muhammad Zakaria, di Ruang Kerja Kantor Sekretariat.

Pada awal pertemuan, Ust. Fahmi Bin Zahari selaku Pegawai Hal Ehwal Islam Unit Pembangunan Turath IIDM, menjelaskan bahwa IIDM merupakan lembaga yang bertugas menetapkan dan memantau kurikulum madrasah dan pesantren di Pahang, Malaysia. Salah satu dari agenda program IIDM adalah ingin menyelaraskan seluruh kurikulum madrasah dan pesantren yang ada di Pahang.

Berangkat dari agenda tersebut, IIDM melakukan studi banding ke Sidogiri untuk mencontoh kurikulum pesantren yang sudah dilaksanakan sejak lama. “Sekaligus kami ingin mengetahui metode bahtsul masail yang ada di pesantren di Indonesia. Sebab, sejauh ini metode bahtsul masail di Indonesia belum pernah ada yang menerapkan di Malaysia,” imbuhnya.

Selanjutnya, K.H. Muhibbul Aman Aly menjelaskan secara detail sejarah awal mula bahtsul masail yang ada di Indonesia serta metode yang dipakai. Dahulu, para ulama Nusantara yang menuntut ilmu di Makkah selalu berkumpul untuk membahas isu-isu yang sedang terjadi dari sudut pandang fikih.

Lalu sekitar tahun 1920, K.H. Hasyim Asyari, Jombang, membawa tradisi ini ke Indonesia. Mulailah tradisi ini berkembang dari kalangan kyai hingga santri. Puncaknya, sekitar tahun 1980 mulai terbentuklah Majelis Musyawarah Pondok Pesantren, sebuah forum bahtsul masail pertama yang terdiri dari beberapa pesantren ternama di jaman itu. “Jadi, bahtsul masail merupakan tradisi yang sudah ada sejak lama, bahkan sebelum K.H. Hasyim Asyari membentuk Nahdlatul Ulama,” tutur Kyai Muhib yang juga aktif sebagai staf pengajar di MMU Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri.

Kyai Muhib juga memaparkan secara detail metode bahtsul masail yang saat ini banyak dipakai di kalangan pesantren. Mulai dari kitab-kitab yang digunakan, metode mengkaitkan ibarat kitab dengan masalah yang dibahas, hingga tugas dari moderator, perumus, dan mushohhih.

Dalam pertemuan ini juga, Ust. Muhammad Zakaria, Kepala Bagian MTK, menjelaskan tahap-tahap pembelajaran santri, khususnya di bidang bahtsul masail. Muhafa merupakan jenjang awal pengenalan santri dengan bahtsul masail. Kemudian pada tingkat Kafah, santri mulai membahas topik-topik berat. Terakhir, Lajnah Murajaah Fiqhiyah, wadah bagi para santri senior yang berfokus membahas masalah waqi’iyah.

Penyerahan cendera hati dari Pondok Pesantren Sidogiri dan Institut Ilmu Darul Makmur

Pertemuan ini pun diakhiri dengan pemberian cendera hati dari kedua belah pihak dan sesi foto bersama. Ust. Nik Mohd Sofa’Urrahman Bin Nik Mohd Rosdi, Pegawai Hal Ehwal Islam Unit Penyelidikan Isu-Isu Semasa IIDM, menyampaikan kesannya setelah berkunjung ke Sidogiri kepada Redaksi sidogiri.net. “Kami sangat puas dengan apa yang kami dapat dari studi banding ini. Juga, kami senang setelah tahu bahwa kurikulum yang diterapkan di Sidogiri, ternyata selaras dengan kurikulum yang sudah lama kami harapkan.”

Penulis: Moh. Syauqillah
Editor: Fahmi Aqwa

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *