AgendaBerita

Seminar UKPI: Implementasi Teknologi AI untuk Mendukung Studi Ilmu Tafsir al-Qur’an dan Hadis

Setelah menyukseskan seminar bertema, “Dakwah tanpa Kata: Menebar Kebaikan melalui Keteladanan Akhlak” pada Selasa malam, 30 Juni 2026 lalu, Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) Madrasah Miftahul Ulum Aliyah melalui Unit Pengembangan Intelektual (UKPI) kembali menggelar seminar yang dikemas dalam tajuk, “Dinamika Tafsir dan Hadis di Era Gempuran Artificial Intelligence (AI)”, Selasa malam, (21/07). Berlokasi di Gedung Sidogiri Corp, kegiatan kali ini dikhususkan untuk murid MMU Aliyah jurusan Tafsir-Hadis dan anggota Lembaga Penelitian Studi Islam (LPSI) FK Tafsir dan FK Hadis.

Baca Juga: Dakwah Melalui Keteladanan, UKPI Angkat Spirit Akhlak Nabi dalam Seminar Keilmuan

Pada kesempatan tersebut, UKPI menghadirkan Ustadz M. Imron Husnan sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan peran AI dalam membantu mendapatkan tafsir. Ia mengatakan bahwa sebenarnya AI dapat dimanfaatkan untuk mencari berbagai macam data dan referensi ilmu tafsir al-Qur’an dan hadis. Menurutnya, pemanfaatan AI diperlukan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi masa kini.

“Respon AI sangat cepat. Berbagai pertanyaan yang dilontarkan akan dijawab dengan sangat cepat pula. Tentu saja, kecanggihan teknologi yang satu ini sangat relevan digunakan untuk mencari referensi maupun tafsir al-Qur’an,” tuturnya.

Kendati demikian, pria yang lahir pada 9 November 1976 tersebut menambahkan bahwa AI merupakan wadah kecil dari Google. Semua data, referensi, maupun tafsir yang pernah diunggah di Google, dapat dengan mudah diakses melalui AI.

Potret Ustadz M. Imron Husnan memaparkan materi seminar

Data tersebut tentu tidak semuanya berasal dari ulama Ahlussunah wal Jamaah. Oleh karenanya, diperlukan kehati-hatian ekstra dalam pengambilan data. Ia juga tidak menyarankan mengambil data atau referensi dari AI secara mentah.

“Namun, semua data yang sudah diadopsi dari AI harus dikoreksi ulang dengan mengecek keterangan tersebut dalam kitab aslinya,” tambahnya.

Pria asal Bangkalan ini juga menekankan agar teknologi AI hanya dijadikan sebagai alat bantu alternatif. Bukan jalan satu-satunya untuk memperoleh ilmu.

“AI bukanlah guru. Jangan jadikan AI sebagai solusi terakhir untuk memperoleh ilmu,” ungkapnya.

Melalui seminar yang berlangsung selama sekitar dua jam tersebut, pengurus berharap para peserta bisa lebih peka dalam membaca perkembangan teknologi tanpa meninggalkan metode-metode ulama salaf dalam memahami al-Qur’an dan hadis melalui tafsir. Kegiatan pun ditutup dengan dialog interaktif dan doa bersama.

Penulis: Syahrul Maulana
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *