Melalui Lembaga Penelitian Studi Islam (LPSI), Bagian Kuliah Syariah kembali menggelar seminar dengan mengusung tema “Sirah Nabawiyah di Mata Orientalis: Antara Kritik, Distorsi, dan Kekaguman Diam-Diam”, Selasa (15/07). Bertempat di Pepustakaan Sidogiri, seminar ini dihadiri oleh Ust. Ahmad Dairobi Naji dan Ust. Moh. Afifuddin, M.Pd sebagai narasumber.
Narasumber pertama, Ust. Ahmad Dairobi Naji mendefinisikan orientalis sebagai ilmuwan yang getol mengkaji literatur-literatur Islam, termasuk sirah nabawiyah. Sebagai ilmuwan asal Barat (Eropa dan Amerika) yang melakukan studi dengan sudut pandang mereka, para orientalis mempunyai karakter objektif dalam menganalisa referensi Islam, meski tidak sedikit pula bagian dari mereka yang tidak objektif.
Kendati demikian, Redaktur Majalah Sidogiri Media ini menyatakan bahwa para orientalis mengagumi sosok Rasulullah. “Semua orang, termasuk orientalis sepakat bahwa Rasulullah merupakan figur yang hebat,” terang Eks. Kepala BPP periode pertama ini.
Hanya saja menurut beliau, para orientalis yang tidak objektif menutupi kekaguman tersebut dengan pendistorsian data sehingga melakukan kritik-kritik yang dialamatkan kepada Rasulullah. Hal itu bertujuan untuk menghembuskan angin skeptisisme dalam hati umat Islam. Di antaranya, dengan menilai Rasulullah sebagai pendusta, dan berhalunisasi menerima wahyu dari Malaikat Jibril.

Penulis Buku “Menjadi Sufi Berduit” ini juga membantah dua kritik tersebut. Beliau menjelaskan bahwa justru ada orientalis yang menerima kenabian Rasulullah seperti Heraklius, Raja Romawi yang menyebut tidak ada indikasi bahwa Rasulullah pernah berdusta. “Tidak mungkin ada orang dusta, tidak diketahui selama berabad-abad,” jelasnya.
Selanjutnya, Ust. Dairobi Naji menyatakan bahwa tidak mungkin Rasulullah berhalunisasi menerima wahyu dari Malaikat Jibril. “Jika mereka berpikir seperti itu, mana ada halusinasi menghasilkan al-Quran yang kemudian menjadi pedoman, peradaban, undang-undang, ajaran akidah, syariah, dan akhlak,” ujar pria yang kini berdomisili di Jember ini.
Pada segmen terakhir, narasumber kedua, Ust. Moh. Afifuddin mendefinisikan orientalis secara umum sebagai ilmuwan yang mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan Timur, terutama Islam yang memang lahir dari Timur (Arab). Istilah Timur Tengah, Timur Jauh, dan Timur Dekat muncul saat masa kolonialisme Belanda.
Di sisi lain, Kepala Badan Pers Pesantren ini memaparkan bahwa di antara dasar-dasar kritik orientalis, ketidaklengkapan perangkat mereka dalam menganalisis data historiografi Islam. Perangkat mereka dalam mencapai segala pengetahuan hanya berkutat pada pancaindra dan akal. Lain halnya dengan Islam yang melengkapi dua perangkat tersebut dengan khabar shadiq (berita jujur).
Penulis: Imam Rohimi
Editor: Fahmi Aqwa











