BeritaUnggulan

Seminar UKPI, OMIM Angkat Tema “Etika Bisnis Syariah”

Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) Aliyah melalui Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) kembali mengadakan seminar kedua untuk jurusan Muamalah dan Tafsir Hadits, Rabu (16/07). Bertempat di Aula Gedung SCorp, seminar yang bertajuk “Etika Bisnis Syariah Masa Kini: Antara Peluang dan Tantangan” mendatangkan Ust. Abdulloh, Lc. asal Bangkalan.

Seminar dibuka dengan sambutan dari Ust. Muhammad Mufid, selaku Wakil I Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Aliyah. Beliau berharap kepada segenap murid dari jurusan Muamalah dan Tafsir Hadits untuk memanfaatkan seminar dengan baik. “Harapan kami, manfaatkan sebaik-baiknya kegiatan ekstrakurikuler ini dan simak dengan baik sehingga ilmu yang diperoleh menjadi ilmu manfaat buat kalian,” terang beliau.

Disusul dengan penyampaian materi dari Ust. Abdulloh, Lc., dengan makalah yang berjudul “Adābut-Tijārah al-Islamiyah bainal-Furashi wat-Tahaddiyāt” yang beliau tulis khusus untuk seminar kali ini.

Senyum: Ust. Abdulloh, Lc. di sela-sela penyampaian materi

Pria yang juga alumni Pondok Pesantren Sidogiri ini menegaskan bahwa santri harus memahami istilah-istilah keilmuan. Dalam bisnis syariah sendiri terdapat istilah iqtishād yang berarti ekonomi sebagai sistem, sedangkan tijarah yang berarti bisnis sebagai pelaksana dari sistem tersebut.

Dengan demikian, katanya, bisnis syariah sebagai pelaksana mempunyai tiga basis dasar. Ada bisnis berbasis kapitalis yang terlalu memprioritaskan keuntungan pribadi, bisnis sosialis yang menguntungkan golongan tertentu, dan bisnis islami yang menyeimbangkan keuntungan pribadi dan sosial.

Oleh karena itu, santri yang ingin terjun ke dunia perniagaan agar memerhatikan etika bisnis. Di antaranya, mengatur waktu, totalitas, berakhlak baik, dan tawakal. “Pebisnis Jepang itu pandai mengatur waktu untuk menyongsong kesuksesan masa depan. Akan tetapi, juga berani bunuh diri jika kemudian stres, karena tidak sesuai tujuan,” ujar beliau.

Di sisi lain, alumnus Ahqaff University, Mukalla, Hadramaut ini juga memotivasi santri agar tidak memiliki mental pengemis. “Satu dirham hasil keringat sendiri lebih aku senangi daripada diberi sepuluh dirham,” jelas beliau mengutip kalam Imam Ahmad bin Hanbal.

Sebelum menutup penyampaiannya, sosok yang pernah mengajar di kelas Takhasus MMU Tarbiyah Idadiyah ini memberi ungkapan pemantik semangat menjadi santri kaya raya. “Lebih baik menjadi santri kaya daripada miskin. Boleh miskin asalkan tidak minta-minta,” pungkas beliau.

Penulis: Imam Rohimi
Editor: Fahmi Aqwa

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *