Sebagai bagian dari program unggulan Pondok Pesantren Sidogiri, Daurah Musyawarah Tsanawiyah (DMTS) kembali digelar oleh Musyawarah wa Ta‘limul Kitab (MTK) pada Jumat (30/10). Kegiatan ini ditujukan bagi santri tingkat Tsanawiyah sebagai wadah pelatihan berpikir kritis dan penguatan pemahaman terhadap hukum-hukum fikih yang bersifat tematis maupun problematis, khususnya yang berkaitan dengan persoalan masyarakat kontemporer.
“Acara ini menjadi ajang silaturahmi antar pesantren. Berbeda dengan Bahtsul Masail Wustha (BMW), kegiatan ini lebih diarahkan kepada pembinaan kader santri tingkat Tsanawiyah agar mereka mampu mendalami fikih sekaligus terampil berbicara di ruang publik,” ujar Kepala Bagian MTK, Gus M. Zakaria Abd. Wahab.
Beliau menambahkan, melalui kegiatan ini diharapkan para santri terdorong untuk lebih kritis dan aktif membaca realitas sosial maupun problem keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat. Tidak hanya memperkuat aspek keilmuan, DMTS juga menjadi sarana pelatihan mental agar santri lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat di hadapan publik.
“Harapan kami, para santri dapat belajar bermusyawarah dengan baik, bukan sekadar mengasah pengetahuan, tetapi memastikan bahwa pemahaman mereka benar, sesuai dengan maksud para muallif kitab serta topik yang dibahas,” jelas salah satu staf pengajar MMU Tsanawiyah tersebut.
Tahun ini, DMTS diikuti oleh 14 delegasi pesantren dan dilaksanakan di Aula Gedung Sidogiri Corp. Pemilihan lokasi ini dikarenakan Mabna as-Suyuthi, yang biasanya menjadi tempat pelaksanaan, tengah digunakan untuk keperluan wali santri.
Baca juga: Sidogiri Takziyah ke Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran
Baca juga: Sidogiri Juara 1 Lomba MQK dan Khitobah Arabiyah di STAI Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan
“Pelaksanaan DMTS bertepatan dengan hari aktif di pesantren, sehingga kami memilih lokasi lain agar tidak mengganggu kegiatan santri,” tutur Ust. Mahbubillah, selaku Wakil III MTK.
Adapun para mushahih pada DMTS tahun ini adalah K.H. Musyaffa’ Bisyri dan Ust. H. A. Sholeh Romli, sementara para perumus yang membimbing jalannya musyawarah terdiri dari Mas Mohammad Jibril Nawa, Ust. Shofiyul Muhibbin, dan Ust. Abd. Rokib Saki.
Melalui kegiatan ini, MTK berharap DMTS dapat menjadi sarana pelestarian tradisi ilmiah pesantren, khususnya dalam bidang musyawarah. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat santri untuk menjadikan musyawarah sebagai wadah mengasah nalar, memperkuat keilmuan, dan membangun kepercayaan diri dalam berargumentasi secara ilmiah dan beradab.
Penulis: Nijaful Ali
Editor: A. Kholil












