BeritaUnggulan

PP Raudlatul Musthofa Tulungagung Studi Banding ke Sidogiri

Sebanyak 25 delegasi dari PP Raudlatul Musthofa melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Sidogiri pada Ahad (10/05). Kunjungan tersebut bertujuan studi banding dengan mempelajari pengelolaan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri serta sistem kepengurusan di lingkungan Pondok Pesantren Sidogiri.

Mereka ditemui di Ruang Auditorium Kantor Sekretariat oleh perwakilan pengurus asrama santri, Ustadz Hasan Basri serta Ustadz Munjil Anam selaku perwakilan dari Kopontren Sidogiri.

Fokus: Ustadz Hasan Basri sedang memberikan sambutan

Dalam sambutannya, Ustadz Hasan Basri menjelaskan prosedur pendaftaran dan sistem seleksi anggota baru untuk daerah khusus bahasa Arab dan bahasa Inggris di lingkungan Pondok Pesantren Sidogiri.

“Seleksi untuk masuk ke daerah Arab dan Inggris memang cukup ketat karena kapasitas tempat yang tersedia terbatas,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa terdapat sejumlah persyaratan akademik bagi santri yang ingin bergabung dengan asrama khusus tersebut. Santri kelas VI tingkat Ibtidaiyah diwajibkan memiliki nilai madrasah minimal 90, sedangkan santri kelas I dan II tingkat Tsanawiyah minimal memiliki nilai 80.

Menurutnya, peninjauan nilai akademik dilakukan sebagai bagian dari proses seleksi potensi dan kesiapan santri.

Selain persyaratan nilai, Kepala Daerah K ini juga menjelaskan bahwa calon anggota daerah Arab hanya diperuntukkan bagi santri kelas VI Ibtidaiyah serta kelas I dan II Tsanawiyah. Adapun santri kelas III Tsanawiyah tidak diperkenankan mendaftar karena difokuskan pada persiapan tugas mengajar.

Sementara itu, Ustadz Munjil Anam memaparkan sejarah dan perkembangan Kopontren Sidogiri. Ia menjelaskan bahwa koperasi pesantren tersebut berawal dari sebuah toko kelontong yang didirikan oleh KH. A. Sadoellah Nawawie pada tahun 1961.

“Kopontren Sidogiri bermula dari toko kelontong sederhana yang kemudian berkembang dengan dukungan dan pendanaan dari Bani Nawawie,” jelas Direktur PT. Sidogiri Mitra Utama tersebut.

Ust. Munjil juga menegaskan bahwa perkembangan Kopontren Sidogiri tidak lepas dari inovasi dan budaya musyawarah dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

“Setiap muncul persoalan, pengurus segera mengadakan diskusi untuk mencari solusi. Karena itu, kepekaan terhadap masalah menjadi hal yang sangat penting,” pungkasnya.

Penulis: Syahrul Maulana
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *