Haul ke-22 KH. Abd. Alim dilaksanakan pada Jumat malam (15/05) di Pondok Pesantren Sidogiri. Kegiatan tersebut dihadiri oleh para alumni, santri, simpatisan, dan masyarakat. Haul tahun ini, berlangsung bertepatan dengan pelaksanaan Silaturahim Nasional ke-7 Ikatan Alumni Santri Sidogiri (Silatnas IASS), sehingga jumlah peserta yang hadir lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Haul diawali dengan pembacaan Maulid, dilanjut Surah Yasin dan Tahlil. Tausiyah disampaikan oleh Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf.
Dalam mauizahnya, Habib Taufiq menyampaikan bahwa haul bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum untuk mengenang jasa dan membalas budi kepada para pendahulu yang telah berjasa dalam perjuangan ilmu dan dakwah.
Ia juga menjelaskan perbedaan antara orang berilmu dan orang yang memperoleh hikmah dari Allah. Menurutnya, tidak semua orang berilmu otomatis menjadi pribadi yang baik, sedangkan orang yang dianugerahi hikmah pasti memperoleh kebaikan dan keberuntungan dunia maupun akhirat.
Selain itu, Ketua Rabithah Alawiyah tersebut, juga mengenang sosok KH. Abd. Alim sebagai ulama yang sederhana dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar serta mengajar daripada tampil di hadapan publik.
“Saya tidak pernah melihat Kiai Abd. Alim berdiri di atas mimbar. Keseharian beliau diisi dengan belajar dan mengajar,” tuturnya.
Habib Taufiq juga mengingatkan para santri dan alumni agar tidak hanya berstatus sebagai alumni secara administratif, tetapi turut meneladani akhlak, perjuangan, dan ketekunan para Masyayikh Sidogiri.

Ia menekankan pentingnya mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Menurutnya, ilmu tidak akan memberikan manfaat dan pahala tanpa diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Pelajarilah ilmu apa pun yang kalian kehendaki, tetapi pahala dari ilmu itu tidak akan diperoleh sampai ilmu tersebut diamalkan,” pesannya.
Penulis: Muhammad Rofiul Qodri
Editor: Elmaghroby












