Kamis pagi (10/09) Pondok Pesantren Sidogiri menerima kunjungan studi banding dari Pondok Pesantren At-Taufiqiyah, Aengbaja Raja, Bluto, Sumenep yang tiba sekitar pukul 09.00 WIS.
Jajaran Pimpinan Madrasah Miftahul Ulum I’dadiyah menemui rombongan yang terdiri dari 6 pembimbing dan 36 santri tersebut. Mereka datang ke Sidogiri dalam rangka ingin mengenal lebih dekat metode baca kitab Al-Miftah lil Ulum, milik Pondok Pesantren Sidogiri.
Baca juga: Respons Perkembangan Zaman, Darul Aitam & Darul Khidmah Sidogiri Lantik Tim Media Sosial
Diawali dengan sambutan dari pihak tamu kunjungan, Ustadz Sugianto, selaku Kepala Madrasah Diniyah PP. At-Taufiqiyah mengungkapkan rasa syukurnya bisa mengunjungi Pondok Pesantren Sidogiri.
Selain mengusung misi pendidikan, beliau juga memaparkan bahwa kunjungan ini juga bertujuan untuk menyambung sanad keilmuan.
“Insyaallah kunjungan ini akan banyak mendapatkan banyak ilmu, sekaligus sebagai sarana penyambung sanad,” terangnya.
Sebagai pihak yang membidangi metode baca kitab Al-miftah sekalian perwakilan tuan rumah, Kepala Madrasah MMU I’dadiyah, Ustadz Abdurrahim menjelaskan beberapa hal terkait pendidikan, mulai dari kepengurusan sampai progam pendidikan MMU I’dadiyah.

Beliau menjelaskan bahwa MMU I’dadiyah tidak hanya menaungi Al-Miftah, bahkan semua santri baru harus menempuh jenjang tersebut, apabila tidak masuk jenjang Ibtidaiyah atau Tsanawiyah.
“I’dadiyah reguler menangani murid yang telat mendaftar MMU Ibtidaiyah dan Tsanawiyah,” jelas beliau.
Lebih lanjut, beliau mengungkap statistik dan misi strategis metode baca kitab Al-Miftah lil Ulum yang saat ini telah mencapai angka di atas seribu pengguna lebih, yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan di Malaysia dan Mesir.
“Keinginan koordinator, pada tahun 2030 mendatang Al-Miftah sudah go internasional,” ujar beliau.
Pria asal Pameksan ini juga menambahkan bahwa untuk mengoptimalkan kinerja program besar madrasah, pimpinan MMU I’dadiyah membentuk Tim I’dadiyah yang beranggotakan 40 orang.
“Intinya, semua kegiatan harus ada penanggung jawabnya supaya berjalan dengan baik,” tegas beliau.
Beliau juga secara terbuka memaparkan program Tathbiq yang tidak sekadar menekankan membaca, melainkan juga memaknai dan menerjemahkan kitab dan dipandang sebagai progam penunjang efektif dan masih tergolong baru. Pada progam ini menggunakan tiga kitab materi utama pembelajaran, Fathul-Qarib, Safinatun-Najah, dan Muqaddimah Hadramiyah.

“Insyaallah, ke depan program ini akan diperkenalkan ke lembaga lain karena sudah berjalan sekitar tiga tahun,” terangnya sekaligus menutup sambutan.
Seusai sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan demonstrasi dari murid MMU I’dadiyah dan peserta studi banding, kemudian sesi ramah-tamah, dan ditutup dengan saling serah cindera hati.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












