BeritaUnggulan

ACS Gelar Seminar Akidah, Menyingkap Rahasia Karamah Wali

Annajah Center Sidogiri (ACS) kembali menggelar seminar akidah yang kali ini mengangkat tema, “Menyingkap Tabir Karamah” pada Ahad (27/09) malam. Diskusi ilmiah tentang akidah yang berlokasi di lantai dasar Perpustakaan Sidogiri ini diikuti oleh seluruh aktivis ACS dari seluruh tingkatan.

Untuk mengupas rahasia karamah para wali secara mendalam, ACS menghadirkan KH. Muhammad Idrus Ramli sebagai narasumber.

Potret KH. Muhammad Idrus Ramli, tengah menyampaikan materi

Dalam presentasinya, Kiai Idrus mendefinisikan wali Allah sebagai sosok yang telah makrifat kepada Allah. Peristiwa besar di luar kebiasaan yang timbul dari seorang wali Allah merupakan karamah.

“Karamah merupakan peristiwa luar biasa yang terjadi pada orang-orang salih, tidak bersamaan dengan pengakuan menjadi Nabi. Sedangkan wali adalah orang yang telah bermakrifat kepada-Nya, mengetahui sifat-sifat, serta menjauhi maksiat dan syahwat,” tutur Penulis Buku Wahabi Gagal Paham tersebut.

Mengutip sederet keterangan Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam kitab Hilyatul Auliya-nya, alumnus Sidogiri tersebut meneruskan definisi wali ke pembahasan ciri-ciri kewalian. Beliau mengatakan bahwa wali dapat dikenali melalui beberapa tanda. Salah satu tanda wali yang paling mencuat adalah aura yang terpancar dari seorang wali mampu mendorong orang saleh, senang berada di sampingnya.

“Orang-orang berakal dan orang salih senang berada di dekatnya. Mereka bahkan tunduk. Mereka datang kepadanya tanpa ada kepentingan bisnis atau urusan kerabat,” imbuhnya.

Untuk membuktikan argumentasinya, kiai Idrus bercerita tentang sosok wali, baik melalui pengalaman pribadi maupun kisah yang telah terdata dalam kitab.

Menurut pengalaman pribadinya, saat Kiai Idrus berada di Malaysia, ia menemukan sosok syaikh yang paling disegani oleh masyarakat sana. Konon, syekh tersebut mampu mengungkap masa lalu siapa pun yang bertamu ke kediamannya. Karena itulah, masyarakat harus berpikir dua kali sebelum sowan ke beliau.

“Beliau sangat ditakuti dan disegani oleh masyarakat sana. Bahkan saya pun kala itu takut menemui sang syekh,” terangnya.

Kendati demikian, atas dorongan teman, kiai Idrus tetap mengunjungi syekh tersebut di kediamannya. Namun, sebelum itu, Kiai Idrus menuturkan bahwa ia terlebih dahulu bertawasul kepada masyaikh Sidogiri agar dijaga seluruh aib dan kejelekannya di hadapan syekh.

“Sebelum berangkat, saya bertawasul kepada masyaikh Sidogiri agar ditutupi aib di hadapan syekh,” sambungnya.

Setelah bertemu dengan syekh, kiai Idrus mengaku tidak mendapati kejanggalan sebagaimana cerita orang-orang sana, tetapi seusai obrolan di antara kiai Idrus dengan syekh berakhir, kiai Idrus pun pamit pulang. Sebelum pulang tiba-tiba syekh mengatakan saufa tajuru marrot, kamu akan sering mengunjungi negara’ ini.

“Syekh tersebut mengatakan saufa tajuru marrot (kamu akan sering berkunjung kemari) sebelum saya pulang. Nah, saya pulang sambil diantar ke mobil saya. Namun, beberapa lama setelah kepulangan saya di Indonesia. Beliau diberitakan telah wafat,” terangnya.

Pembahasan terus berlanjut hingga ke bagian hadis dhaif mengenai kisah seorang waliyullah. Dalam masalah hadis dhaif, kiai Idrus menyampaikan bahwa cerita dalam hadits dhaif, tetap diperkenankan untuk diceritakan dan diambil pesan moralnya. Namun dengan catatan, cerita tersebut tidak mencederai pondasi syar’i.

“Kisah yang diceritakan dalam hadits dhaif, atau kisah-kisah Israiliyat, tetap boleh disebarkan, asalkan tidak sampai merusak syar’i,” pungkasnya.

Fokus: Salah satu aktivis ACS fokus menyimak pemaparan narasumber

Seminar akidah ini, diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman yang memadai terkait waliyullah. Sehingga menancapkan keyakinan kuat dalam hati, bahwa waliyullah yang ditandai dengan karamahnya benar-benar ada dan nyata.

Penulis: Syahrul Maulana
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *