Menyemai Syukur Menuju Ilahi

share to

“Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) Kalau kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.”

(QS. Ibrahim [14]: 7)

Prolog
Pernahkah Anda merenung bahkan menghitung berapa besar nikmat yang telah dianugerahkan Allah I kepada kita? Sudahkah kita merasa bersyukur hari ini atas nikmat-nikmat tersebut?

Bersyukur merupakan salah satu keniscayaan setiap orang kepada Allah I. Bahkan Nabi Muhammad r yang jelas-jelas dijamin masuk surga, dan dosanya diampuni oleh Allah I, masih menyempatkan diri bersyukur kepada Allah I, sehingga beliau dikenal sebagai ‘abdan syakûra (hamba yang banyak bersyukur). Setiap langkah dan tindakan beliau r  merupakan perwujudan rasa syukurnya kepada Allah I.

Suatu ketika, Sayidah Aisyah  pernah bertanya tentang kebiasaan Nabi r yang selalu melakukan salat malam sehingga menyebabkan tumit beliau r memar dan berdarah. “Wahai Rasul, kenapa Anda masih salat? Bukankah Allah I telah mengampuni dosa-dosa Anda, baik yang sudah lewat atau yang akan datang. Lalu Nabi r menjawab, “Apakah aku tidak senang jika dikatakan hamba yang bersyukur?”

Di samping itu, syukur juga merupakan salah satu jalan yang wajib ditempuh oleh sâlik (orang ingin sampai ke hadirat Allah I) sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya` Ulûmiddin. Sebagian ulama salaf mengatakan, “Nikmat itu gesit, maka ikatlah dengan bersyukur”. Bahkan dalam QS. Ibrahim [14]: 7 Allah I menganjurkan kita bersyukur, sehingga bisa menambah nikmat yang telah kita dapatkan.

Cara Bersyukur
Ketika kita menerima pemberian Allah I kita pun memuji-Nya, tetapi ini sama sekali belum mewakili rasa syukur kita. Pujian yang indah saja belum cukup untuk bisa dikatakan syukur. Dia baru dikatakan bersyukur apabila juga diwujudkan dalam bentuk amal shaleh yang diridhai oleh Allah I. Al Junaid, seorang tokoh sufi, pernah ditanya tentang makna (hakikat) syukur. Dia menjawab, “Jangan sampai engkau menggunakan nikmat karunia Allah I untuk bermaksiat kepada-Nya”. Senada dengan Imam Junaid adalah Imam Ghazali, beliau berkomentar, “Syukur adalah memanfaatkan segala anugerah Allah I tersebut untuk taat kepada-Nya.”

Imam Ghazali merumuskan tiga faktor yang harus ada dalam konteks syukur yang sungguh-sungguh, yaitu dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, serta dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan.

Pertama, syukur dengan hati, yaitu dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah Allah I. Di samping itu dia juga harus selalu bertujuan menggunakan anugerah nikmat tersebut untuk kebaikan.

Kedua, syukur dengan lidah, yaitu dengan mengakui bahwa berbagai anugerah yang telah diberikan kepada kita adalah dari Allah I. Cara bersyukur dengan lidah juga harus dilakukan dengan cara memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah I, sebagai Dzat yang telah memberikan nikmat, seperti memperbanyak mengucapkan “Alhamdulil-Lâh” (segala puji bagi Allah I). ”Barangsiapa mengucapkan subhânal-Lâh, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca Lâ ilâha illal-Lâh, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca Alhamdulil-Lâh, maka baginya 30 kebaikan.”

Ketiga, syukur dengan perbuatan bisa dilakukan oleh anggota tubuh, yaitu dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya (beribadah hanya kepada Allah I).

Menurut Imam Al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur, yaitu lidah, kaki, mata, telinga, tangan, perut, dan kemaluan. Seluruh anggota ini diciptakan Allah I sebagai nikmat-Nya untuk kita. Contoh bersyukur dengan perbuatan atas nikmat lidah adalah dengan mengeluarkan kata-kata yang baik, memperbanyak zikir, dan mengungkapkan nikmat yang kita rasakan. Allah I berfirman yang artinya, ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Adh-Dhuhaa [93] : 11).

Kenapa Kita tidak Bersyukur?
Ada dua alasan kenapa seseorang tidak bersyukur atas nikmat Allah I; bodoh dan lupa. Sedangkan penyebab kita sering lupa bersyukur adalah karena kita tidak menganggap nikmat terhadap sesuatu yang dimiliki oleh orang lain, seperti mata yang bisa melihat. Orang yang bisa melihat sering lupa bahwa melihat merupakan anugerah yang besar yang harus disyukuri. Kebanyakan dari kita akan bersyukur jika kedua mata kita sudah tidak bisa melihat lagi.

Untuk mengatasi problem ini kita bisa mencoba apa yang telah diteladankan sebagian golongan sufi, yaitu dengan sering berkunjung ke rumah sakit dan kuburan. Dengan begitulah mereka mengobarkan semangat lagi untuk selalu bersyukur kepada Allah I, sehingga kita bisa sadar bahwa tangan yang telah diberikan oleh Allah I adalah anugerah yang sangat besar, yang “wajib” disyukuri. 

Penulis: Nizar Zulmi

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Chat WA dengan kami