Ustadz Idrus Ramli Rekam Aliran Sesat di Nusantara

share to

Serius: Santri Mendengarkan Ceramah Ust. Muhammad Idrus Ramli

LIMA PULUH tahun dari wafatnya Nabi Muhammad SAW, tepatnya masa khalifah Ustman RA, penyebaran Islam sudah sampai wilayah Nusantara. Lantaran pada waktu itu wilayah sekitar Arab, sudah sempurna ditaklukkan, maka dakwah terus dilanjutkan ke luar kawasan Arab.

Enam ratus tahun kemudian, penduduk muslim Indonesia, berhasil menjadi mayoritas. Salah satu sultan di kerajaan Islam Pasai, al-Malik ash-Shalih, seorang pakar tafsir dan fikih mazhab Syafi’i, mengadakan Islamisasi besar-besaran di Aceh. Kemudian diikuti oleh kerajaan Islam lainnya.

Hingga tahun 1930 M, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama, memaparkan dalam kitab Risâlatu-Ahlis-Sunnah-nya, “Mayoritas penduduk Indonesia adalah kaum muslimin yang bermazab Syafi’i; berakidah Asy’ari; bertarekat Syadzili; dan dalam tasawuf Imam Ghazali.”

Setelah itu, bermunculan akidah-akidah menyimpang. Mulai dari Wahabi hingga Syi’ah. Bahkan, saking kreatifnya orang Jawa, mereka membuat aliran sendiri: kebatianan. Dan, aliran inilah yang terus berkembang dari masa ke masa.

Tercatat, saat Sidogiri Penerbit meluncurkan buku tentang kebatinan (2009 M), aliran kebatian di Indonesia berkembang hingga dua 250 kelompok. Akan tetapi, setelah saya riset ulang di beberapa wilayah Nusantara, ternyata jauh lebih banyak dari angka yang tertera dalam buku tersebut.

Baru-baru ini, di Jember, ada yang melaporkan ada kelompok baru bernama Iqra’ bi Nafsik. Kelompok ini setiap malam Jumat Legi mengadakan ritual aneh. Tepatnya pukul dua belas malam, mereka, baik pria ataupun wanita, bersama-sama menyeburkan diri ke sebuah kolam. Tidak hanya itu, bagian atas kolam ditutup dengan kain putih. Katanya, uji nyali iman. Padahal satu-satunya dzat yang pantas menguji keimanan ialah Allah SWT, bukan kita!

Ditambah lagi dengan adanya gesekan pendidikan. Pasca hilangnya orde baru atau masyhur dengan sebutan reformasi, tepatnya tahun 1999 M. Saat itulah, pendidikan—yang dulunya tidak dihiraukan—memiliki perhatian khusus. Sehingga, angka santri di pesantren salaf yang ijazahnya tidak diakui negara kian merosot. Tak banyak dari pesantern salaf yang terpaksa menerima pendidikan formal, sekedar mempertahankan lambaganya.

Dengan minimnya pesantren salaf, minim pula sosok yang dapat membaca kitab kuning. Sehingga, di lembaga itu sendiri, dengan mudahnya aliran sesat tersebar pesat, wabil-khusûs, pemikiran liberal.

Dari itulah, kita sebagai santri di pesantren salaf, sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Demi mengokohkan akidah Ahlusunnah Waljamaah. Sebab, sesuai dengan catatan sejarah, Islam bisa menandingi orang-orang kafir, jika mayoritasnya adalah Ahlusunnah Waljamaah. Jika sebaliknya, maka Islam akan kalah. Untuk itu rajinlah kalian belajar dengan niatan mengagungkan Agama Allah, nawaitu ta’alluma lii’lâi-kaliamatil-Lâh!

*) Dikutip dari ceramah Ust. Muhammad Idrus Ramli di acara penutupan Annajah (25/06) dengan tema, “Revitalisasi Ideologi di Kalangan Kader Ahlusunah Waljamaah”.

====
Penulis: Muhammad ibnu Romli
Editor  : N. Shalihin Damiri

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *