NKRI Menurut Habib Mohammad Baharun

share to

Sepekan lalu, tepatnya malam Rabu (21/01), Prof. Dr. Habib Mohammad Baharun, SH, MA, Ketua Komisi Hukum MUI Pusat mengisi seminar ilmiah di Sidogiri dengan tema Agama, Pancasila, dan Politik Kebangsaan Perspektif Pesantren. Apa saja yang beliau sampaikan? Simak selengkapnya dalam tulisan kali ini!

Laporan: Muhammad ibnu Romli

Dengan tema Agama, Pancasila, dan Politik Kebangsaan Perspektif Pesantren tentunya kita bisa menebak bahwa beliau akan menyampaikan tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam penyampaiannya, beliau menerangkan arti sebenarnya dari slogan, “NKRI harga mati”. Menurut beliau, jangan kira sosok yang menggaungkan NKRI harga mati ingin menandingi kehargamatian agama. Keduanya berbeda. Maksud dari NKRI harga mati ialah jangan sampai menghancurkan NKRI.

“NKRI harga mati itu bukan berarti ingin menyaingi al-Quran yang harga mati. Maksudnya, jangan main-main dengan NKRI. NKRI gak perlu diotak-atik lagi,”

dawuh beliau dengan jelas.

Di bagian akhir acara, beliau menyinggung tentang NKRI bersyariah. Menurut beliau kelompok yang mengkoar-koarkan semacam itu di khalayak sama sekali tidak melihat situasi negara dengan obyektif.

“Sekarang yang ingin saya sampaikan, yaitu, ada kawan-kawan yang saking semangatnya sehingga tidak melihat situasi dan kondisi dengan obyektif perihal politik di Indonesia ini. Misalnya, ya perjuangkan NKRI bersyariah.”

ungkap beliau di hadapan peserta Annajah Center Sidogiri (ACS)

Menurut beliau, slogan NKRI Bersyariah hanyalah akan memancing a’daul Islam menyerang. Inilah yang selama ini dihindari oleh Majelis Ulama Indonesi (MUI).

“Kalau (slogan NKRI Bersyariah) diucapkan di tempat umum, kira-kira agama lain diam atau siap-siap (menyerang)? (Buktinya) sudah ada suara-suara, “Ini ada apa (kenapa banyak orang berteriak slogan demikian)?” Jadi memahami politik adalah strategi. Perhatikan, kenapa Majelis Ulama Indonesia tidak berkoar-koar ketika fatwanya menjadi undang-undang? Karena takut ada orang lain yang tidak senang, (malah) menjegal (sehingga tidak menjadi undang-undang). Jadi, sekitar separuh dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia sudah menjadi undang-undang. Sudah masuk lembaran negara,”

tegas beliau di ruang auditorium lantai II

Sebagai bukti, beliau mencontohkan dengan bank syariah. Tidak mudah untuk tembus menjadi undang-undang. Namun, bila berhasil, maka sulit pula untuk dibubarkan.

“Anda pikir bank syariah itu bukan undang-undang? Gak gampang orang sekarang membubarkan bank syariah, karena sudah menjadi undang-undang. Undang-undang pergadaian syariah, asuransi syariah, hotel syariah, rumah sakit syariah, dll tinggal tunggu saatnya semua bank konvensional menjadi syariah semua,”

pungkas beliau.

Baca Juga: ACS Bersama Habib Mohamad Baharun

Simak pula wawancara eksklusif dari sidogiri.net dan annajahsidogiri.id
share to

Miromly Attakriny : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *