Sejarah Kuliner Santri dan Restu Kiai Hasani

share to

Halaman Pasar Santri 2019 dalam rangka memeriahkan milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-282.

Keterbatasan lembaran sejarah membuang sebagaian besar sejarah yang belum tertulis. Pada semester pertama, Badan Pers Pesantren (BPP) mengupayakan untuk menelusuri sejarah awal seluruh media pesantren, dalam bentuk lomba. Pada semester kedua, BPP kembali mengadakan sayembara penelususran sejarah instansi di Sidogiri. Namun, sampai saat ini, belum pernah sejarah berdiri Pasar Santri dan Kuliner Santri tertuang dalam naskah. Untuk itu, Kabar Ikhtibar menghadirkan sepak-terjang keduanya pada edisi kali ini.

Laporan: Muhammad ibnu Romli

Malam Senin (02/08) kami berbincang lebar dengan Mohamad Hilmi Khoifillah (21), Rembang, yang konon ayahnya menjadi perintis bazar satiap akhir tahun ajaran. Bpk. H Nor Hamim, namanya. Beliaulah yang memiliki inisiatif membangun bazar di halaman Daerah K.

Kiai Hasani Nawawie dalam suatu acara.

“Dulu, pertama kali bazar didirikan terletak di depan Daerah K,” ceritanya, mengawali perbicaraan. Setelah mengambil nafas sejenak beliau melanjutkan, “Pertama kali saya memiliki inisiatif semacam itu, saya izin ke kantor, dan diberi restu oleh KH Hasani Nawawie. Pertama kali yang meresmikan adalah KH. Abdul Alim bin Abd. Djalil. Sehari setelahnya, baru KH Hasani yang meresmikan,” tambahnya.

Menurut laporan, kantor sekretariat dulu masih terletak di samping Daerah F (kini Daerah P). Di sanalah tempat pengurus harian bisa ditemui, termasuk KH. Hasani bin Nawawie.

Kiai Abd. Alim bin Abd. Djalil yang meresmikan bazar Sidogiri pada pertama kalinya.

“Bazar yang dulu tidak seperti sekarang. Konon, hanya ada kitab dan semacamnya, sementara makanan dan minuman masih jarang,” terang alumni asal Pekoren, Rembang ini. Setelah dimintai penjelasan perihal tujuan, beliau menjelaskan, “Saya ingin, kalau nanti tabungan sudah keluar, santri bisa lebih bijak mengelolanya. Dengan artian, memilih barang yang lebih besar manfaatnya, seperti kitab dan lain sebagainya.”

Memang, bazar dulu hanya identik dengan kitab, buku dan pakaian. Namun, seiring waktu berjalan, tersedialah makanan dan minuman. Dari sana bazar terbagi menjadi dua: Pasar Santri dan Kuliner Santri.

Asal-mula muncul kuliner, sangat erat dengan kopontren. Mula-mula kopontren membuka stand sendiri. Sejak dulu, di antara lauk-pauk di sana berasal dari keluarga Sidogiri.Dari sanalah, bazar (kini: Kuliner Santri) membuka stand khusus keluarga Sidogiri, secara terpisah dari kopontren.

Letak stand Kuliner Santri ini pun sempat berpindah-pindah. Pada mula, Daerah K, lalu pindah ke kopontren unit I. Lalu, ke timur as-Suyuthi. Pada Milad Sidogiri 280, Kuliner Santri sempat berpindah ke lapangan baru.

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *