KH. Abdul Adzim bin Oerip (Bagian III/Selesai)

share to
KH. Abdul Adzim bin Oerip
KH. Abdul Adzim bin Oerip

Penyayang Binatang yang Disegani Binatang 

Kiai Abd. Adzim terkenal sabar dan syafaqah (belas kasih/sayang) pada binatang. Suatu ketika beliau pergi ke sebuah undangan di daerah Kedung Kemaron, Kejayan.

Pulangnya, di tengah perjalanan beliau melihat semut kelanggrang (rangrang)di jasnya. Lalu beliau memerintahkan pada kusirnya untuk kembali. Padahal waktu itu jalanan masih berbatu-batu dan jarak antara tempat itu dengan Kedung Kemaron sekitar 5 km. Maka kembalilah beliau dengan kereta kudanya ke tempat undangan tadi. Sesampainya di tempat itu, beliau meletakkan kelanggrang tersebut di pagar yang diyakini beliau kelanggrang itu terbawa dari situ. Kata beliau, “Kelanggrang ini sama dengan manusia, punya anak-istri dan saudara. Kalau dibawa, kasihan keluarganya, menangis.” Cerita ini cukup masyhur di Indonesia, malah ada penulis yang memasang cerita ini dalam bukunya, tapi tidak menyebut nama sang kiai dan tempat kejadian. Ternyata sang Kiai itu adalah Kiai Abd. Adzim Sidogiri.  

Di dalemnya beliau meletakkan empat lepe’an berisi air gula di bawah meja makan. Empat lepe’an itu disediakan untuk semut-semut. Satu untuk semut kecil, satunya untuk semut yang agak besar, dan seterusnya. Dari syafaqah-nyabeliau terhadap binatang, jika ada rombongan semut berjalan di dalemnya, beliau melarang untuk dibersihkan. Justru beliau memberi jalan, supaya semut tersebut bisa lewat. 

Pernah ada ayam bertelur di surau beliau (Surau G). “Biar, biar! Kasihan,” kata beliau. Akhirnya, banyak serangga tengu di sana. Waktu istirahat, Kiai digigiti serangga tengu itu. Setelah 

diberitahu khadamnya, beliau berkata, “Kumpulkan dan bawa keluar. Jangan dibunuh, kasihan!!” Beliau memang suka merawat binatang. Tapi uniknya dalam hal merawat binatang, beliau berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Karena binatang-binatang yang menjadi piaraannya adalah binatang liar, seperti semut dan burung yang hinggap di pohon mangga halaman rumahnya. Beliau menyediakan bumbung (bambu yang dilubangi) untuk sarang burung kecil yang hinggap di pepohonan yang ada di depan dalem, dan beliau melarang orang-orang untuk mengganggu burung-burung itu. Setiap pagi beliau memberi makan sendiri burung-burung itu. Suatu ketika beliau ditanya oleh santrinya, “Mengapa Kiai begitu sayang terhadap hewan seperti semut, sampai-sampai menyediakan makanan dan memberi makan sendiri?” Beliau menjawab, “Ya, karena doanya sesuatu yang tidak mempunyai akal itu lebih mustajab dari pada manusia.” Mungkin yang dimaksud adalah manusia yang bergelimang dosa. 

mau diperlakukan seperti itu? Turun, kamu ndak usah numpak, turun saja!” kata beliau. Akhirnya si kusir turun dan menuntun dokar tersebut sampai ke tempat acara undangan. Memang tiap akan menaiki dokar, beliau berpesan pada kusirnya, “Ojok dipecuti lho jarane! (Jangan dipecuti kudanya ya!).Jadi dokar berjalan mengikuti jalannya kuda. 

Setiap pergi menghadiri undangan, Kiai Abd. Adzim selalu naik dokar. Konon beliau memiliki 7 ekor kuda. Dokar beliau lain daripada yang lain, rodanya bukan terbuat dari karet, tapi dari besi. Kalau berjalan, dokar itu bersuara ribut. Sebab disamping rodanya dari besi, jalannya memang berbatu. Mendengar suara ribut itu, orang-orang yang sedang berada di sawah tiarap dan bersembunyi. Mereka menyangka itu suara kendaraan tank Belanda. Setelah dilihat, eh ternyata dokar Kiai Abd. Adzim. 

Lantaran Kiai Abd. Adzim itu penyayang binatang, beliau pun disegani oleh binatang. Kurang-lebih 9 tahun setelah beliau wafat, ketika penggalian pesarean untuk Kiai Noerhasan bin Nawawie, makam beliau terbongkar sedikit. Ternyata telisip (kayu penahan tanah supaya tidak mengenai jenazah, biasanya terbuat dari bambu) beliau masih utuh, bahkan masih hijau, terkesan seperti baru dipasang. Ada sebagian masyarakat yang berkomentar, “Maklum, Kiai Abd. Adzim ini waktu hidupnya menyayangi binatang. Sehingga ketika beliau wafat, telisipnya tidak dimakan rayap, karena takut (segan) pada beliau.” ltulah Kiai Abd. Adzim, penyayang binatang yang disegani binatang. 

Adik yang Menjadi Kakak Panca Warga 

Menurut adat Jawa, sebenarnya Kiai Abd. Adzim memanggil kakak pada Kiai Cholil Nawawie. Sebab ibu Kiai Abd. Adzim, Nyai Munawwarah, adalah adik KH. Nawawie bin Noerhasan, ayah Kiai Cholil. Namun hal itu menjadi terbalik sebab Kiai Abd. Adzim menikah dengan Nyai Fatimah. Yakni Kiai Cholil-lah yang memanggil kakak pada beliau. Sebab istri beliau adalah kakaknya. 

Di antara keponakan Kiai Nawawie, hanya Kiai Abd. Adzim yang tidak boso (berbahasa Jawa halus) kepada Kiai Nawawie. Karena-menurut sebagian riwayat-Kiai Abd. Adzim ikut Kiai Nawawie sejak kecil. Dan di antara putra Kiai Nawawie, hanya Kiai Noerhasan yang tidak boso kepada Kiai Abd. Adzim. Karena-masih menurut riwayat yang sama-beliau sejak kecil tinggal serumah dengan Kiai Abd. Adzim, yaitu di rumah ibundanya, istri pertama Kiai Nawawie.  

Jika Panca Warga (lima putra Kiai Nawawie, yakni Kiai Noerhasan, Kiai Cholil, Kiai Siradj, Kiai Sa’doellah, dan Kiai Hasani) berkumpul, mereka memanggil Kiai Abd. Adzim untuk hadir di tengah-tengah mereka, dimintai pertimbangan dan pendapat dalam memecahkan berbagai masalah. Memang, keluarga besar Kiai Nawawie sangat perhatian kepada Kiai Abd. Adzim, lebih-lebih Kiai Noerhasan dan Kiai Hasani, sebab Kiai Abd. Adzim adalah menantu tertua Kiai Nawawie.  

Meski demikian, Kiai Abd. Adzim-didorong oleh sifat tawaduknyasering menunjuk Kiai Cholil untuk menjawab permasalahan hukum Fikih yang terjadi dalam masyarakat. Bila ada orang yang mengajukan permasalahan hukum, beliau memerintahkan untuk bertanya kepada Kiai Cholil atau yang lainnya. Jadi, beliau lebih mengutamakan orang lain, meskipun persoalan itu bisa dijawab oleh beliau sendiri. Lagi pula jawaban dari Kiai Cholil membuat ulama lainnya taslîm (menerima), bahkan sampai pada KH. Mahrus Ali, Lirboyo Kediri. 

Sewaktu Kiai Cholil masih kecil, pernah ada orang Plugon Plinggisan mengadu pada Kiai Abd. Adzim tentang sawahnya yang dimakan tikus. Saran beliau, “Sampaikan pada tikus di sawah, kalau tetap makan tanaman, akan saya laporkan pada Kiai Cholil Sidogiri. Begitu ya..!” Setelah titah Kiai Abd. Adzim dilaksanakan, tanamannya tidak pernah dirusak tikus lagi. Akhirnya orang itu sowan pada Kiai Cholil dan menceritakan kejadian tersebut. Kiai Cholil yang masih kecil berkata, “Iso ae kang Adzim. Yo iku saking kang Adzim dhewe! (Bisa saja Kang Adzim. Itu ya dari Kang Adzim sendiri!). Kejadian ini merupakan isyarat Kiai Abd. Adzim bahwa kelak Kiai Cholil akan menjadi wali besar. Meski masih kecil, Kiai Cholil sudah diambil karâmah-nya.  

Kiai Abd. Adzim juga sangat menghargai putra-putra Kiai Nawawie, tidak menegur secara langsung. Hal ini tampak saat KA. Sa’doellah bermain bulu tangkis dengan salah seorang pemain bulutangkis putri nasional, bernama Minarti yang rumahnya di Plinggisan. Mendengar ribut-ribut santri, Kiai Abd. Adzim bertanya apa yang terjadi. Santri menjawab kalau KA. Sa’doellah sedang bermain bulutangkis dengan pemain nasional. Kemudian Kiai Abd. Adzim mengambil ceret yang berisi air dan disiramkan ke halaman rumah beliau (versi lain, Kiai Abd. Adzim menggerak-gerakkan pohon jambu air). Tak lama kemudian, hujan deras turun dan permainan itu selesai dengan sendirinya tanpa ada yang melarang. 

Bersama Kiai Abd. Djalil 

Kiai Abd. Adzim dan Kiai Abd. Djalil adalah dua menantu Kiai Nawawie. Keduanya hidup pada satu masa. Hanya saja Kiai Abd. Djalil mangkat lebih dahulu. Hubungan keduanya sangat akrab, saling menghormati dan menghargai, saling mengalah dan tidak ada yang merasa lebih unggul. Misalnya, kalau Kiai Abd. Djalil diundang orang dan ditanya kesanggupannya untuk datang pada jam berapa, beliau berkata, “Terserah Kiai Abd. Adzim.” Ketika Kiai Abd. Adzim ditanya, jawabannya juga sama, “Terserah Kiai Abd. Djalil”. Akhirnya dua Kiai ini sama-sama keluar dari dalem dan bermusyawarah untuk menentukan waktu dalam menghadiri undangan tersebut. Kiai Abd. Adzim dan Kiai Abd. Djalil selalu bersama selagi tidak berbenturan dengan urusan keluarga, sampai pada permasalahan yang menyangkut hubungan sosial seperti menghadiri salat Jenazah, walimah, dll. 

Dalam suatu walimah, Kiai Abd. Djalil membacakan sebuah Hadis yang menurut persepsi Kiai Abd. Adzim ada suatu kata yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu Sharaf. Kemudian beliau menyuruh seseorang menanyakan hal itu pada Kiai Abd. Djalil. Dengan perasaan agak takut, orang itu pun menyampaikan apa yang dikatakan oleh Kiai Abd. Adzim pada Kiai Abd. Djalil. Kata Kiai Abd. Djalil, “Apa yang dikatakan oleh Kiai Abd. Adzim itu benar. Tapi apa yang saya katakan itu adalah samâ’i”. Bukan itu saja, banyak hal-hal yang sering dimusyawarahkan antara keduanya, apabila ada suatu persoalan yang dianggap ganjil. Dalam masalah makan, Kiai Abd. Djalil berhenti makan ketika merasakan enak. Sedangkan Kiai Abd. Adzim sebaliknya. Kata beliau, “Mumpung ada di dunia, kita nikmati saja apa yang diberikan Allah kepada kita.”  

Dalam hal pengajian, Kiai Abd. Adzim memberikan kebebasan kepada santri untuk memilih kitab yang akan diajarkan, asalkan bukan kitab yang diaji oleh Kiai Abd. Djalil. Demi menjaga ketawadukannya dan menjaga persatuan di antara keluarga Sidogiri. Bahkan kalau ditanya siapa yang jadi Pengasuh, Kiai Abd. Adzim langung menunjuk Kiai Abd. Djalil. Begitu pula sebaliknya. Dalam segi keilmuan, Kiai Abd. Djalil lebih menonjol dalam bidang Fikih, sedangkan Kiai Abd. Adzim lebih menonjol dalam bidang Tasawuf. Kiai Abd. Adzim penekanannya pada ubudiah, sedangkan Kiai Abd. Djalil lebih memberikan penekanan dalam hal keilmuan. 

KH. Hamim Podokaton pernah mengatakan bahwa Kiai Abd. Djalil adalah Wallâhu, sedangkan Kiai Abd. Adzim adalah Wallâhi. Menurut penuturan KH. Bahar Warungdowo, keponakan Kiai Abd. Djalil, kalau melihat zhâhir-nya, I’rab Jer (Wallâhi) itu lebih bagus karena didahului dengan huruf qasam

Kiai Hasan Asy’ari al-Falaki Pasuruan berkata: 

Ilmu ada pada Kiai Abd. Djalil   

Kewalian ada pada Kiai Abd. Adzim  

lstikamah Berjamaah meski Sakit Parah 

Aktivitas yang selalu dijalani Kiai Abd. Adzim semasa hidupnya adalah salat berjamaah lima waktu di Masjid. Sepuluh menit sebelum sampainya waktu salat, beliau sudah mondarmandir di masjid untuk mengingatkan agar salat berjamaah. Bahkan sebelum Subuh, beliau sendiri yang memukul bel dan membangunkan santri di sekitarnya. Cara beliau membangunkan santri ialah dengan cara mendorong bilik-bilik cangkruk sampai miring dengan tongkatnya. Setelah santri terbangun, beliau tarik kembali tongkatnya, lalu bilik-bilik cangkruk itu kembali seperti semula. 

Beliau sendiri yang menjadi imam di masjid. Terkadang beliau juga memberi taushiah pada santri-santri. Beliau sangat istikamah dalam segala hal. Dalam keadaan sakit pun tetap istikamah membaca surat as-Sajadah dan al-Insan ketika mengimami salat Subuh hari Jumat. Beliau selalu aktif menjadi imam salat maktubah, kecuali jika menghadiri undangan di luar semisal walimah, biasanya yang menggantikan beliau menjadi imam adalah santri senior-senior,  namun mereka tidak berani salat di mihrab beliau. Saking istikamahnya berjamaah, dalam keadaan sakit yang parah pun beliau masih berusaha tidak meninggalkan salat berjamaah. Pada waktu sakit parah, beliau menyuruh orang untuk membantu dalam bersuci, dan memapahnya ke masjid untuk melaksanakan salat berjamaah. Namun ketika melaksanakan salat, beliau sangat tegar, seakan-akan tidak dalam keadaan sakit parah. Pernah juga ketika merasa sakit panas beliau dilarang untuk mandi, demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi karena ingin melaksanakan salat dan bermunajat kepada Allah , beliau memaksakan diri untuk mandi, meski banyak yang menghalangi beliau, hingga beliau pingsan di sungai.  

Kiai sangat disiplin dalam menjaga waktu salat. Terbukti dalam menentukan waktu salat, beliau membawa tiga jam untuk perbandingan. Bahkan beliau sediri yang memukul bel kloning (bel sekolah) yang terletak di bawah pohon mangga di depan dalemnya kala itu. Sehingga dalam menentukan waktu harus tepat. Karena itulah masyarakat Sidogiri berpegang pada waktu beduk Sidogiri. Sebab, beduk Sidogiri pasti cocok waktunya, lantaran dipegang langsung oleh Kiai Abd. Adzim. Beliau tidak pernah salat di akhir waktu, dalam keadaan apapun.

Malah kalau ada tamu, beliau tak segan-segan meninggalkannya, jika sudah masuk waktu salat. Biasanya beliau mengajak tamunya untuk mengikuti salat berjamaah di masjid. 

Sebelum salat, biasanya Kiai Abd. Adzim duduk terlebih dahulu sekitar 15 menit, kemudian berdiri langsung takbir, “Allâhu Akbar!”. Konon saat beliau takbiratul ihram, kaca-kaca dan dinding di masjid bergetar. Karena cara beliau takbiratul ihram itu tidak lazim, salah seorang cucu beliau penasaran dan menanyakannya pada Habib Abdullah bin Abdul Qodir  Bilfaqih, Malang. Habib menjawab, itu istighrâq. Yakni di hati  meniadakan selain Allah . Hanya ingat kepada Allah  saja. Jadi semua bentuk lamunan dibuang terlebih dahulu. 

Kiai Abd. Adzim mengharuskan santri berjamaah lima waktu. Suatu ketika ada sebagian santri tidak mengikuti salat berjamaah Duhur dan Asar. Mereka sedang mengambil mangga di selatan pondok, mengetahui hal itu, Kiai mengejar mereka sambil berteriak, “Salat, salat, salat!!” Sontak santri-santri mbeling itu lari pontang-panting. Mereka langsung ke sungai dan mengambil wudu, lalu pergi ke masjid. Anehnya, sampai di sana mereka melihat ternyata Kiai sudah mengimami dapat satu rakaat. Mereka pun terheran-heran. 

Selain istikamah berjamaah, beliau tidak meluangkan waktu kecuali untuk beribadah. Apabila beliau sudah capek melaksanakan salat sunat, beliau berjalan-jalan di sekitar PPS. Setelah itu, beliau kembali mengerjakan salat sunat. Beliau juga istikamah bangun malam, sampai-sampai dijadikan sebagai tanda jika Kiai Abd. Adzim takbir, berarti jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Setiap jam satu malam hingga jam setengah empat, beliau melaksanakan ritual wiridan dengan cara berendam di dalam air. Tepatnya, di jeding khusus beliau di utara Surau G. Zaman dulu kolam jeding sangat dalam, dan bagian atasnya tidak begitu tinggi. 

Kiai Abd. Adzim sangat tegas menegur bila azan dibuat main-mainan, atau mendengar bacaan al-Quran yang keliru. Suatu ketika beliau mendengar santri sedang azan menggunakan gaya baru, beliau langsung keluar dari dalemnya menuju masjid sambil dawuh, “Sopo iku rek sing azan? Kok cek ena’e! Menne yo azan maneh!! (Siapa itu yang azan? Kok ‘enak didengar’! Besok azan lagi ya!!). Keesokan harinya ada santri yang azan semrawut, lalu beliau keluar lagi seraya berkata, “Sopo iku sing azan kuburan? (Siapa itu yang azan kuburan?)”. Akhirnya, menjelang waktu Magrib, tidak ada santri yang berani mengumandangkan azan. Melihat hal itu, ada seorang santri senior dari Sampang memberanikan diri untuk mengumandangkan azan. Anehnya, di saat dia sedang azan, Kiai tidak dawuh apa-apa. Beliau naik ke masjid sambil bergumam, “Masya Allah, Masya Allah.” Sejak saat itulah santri tadi menjadi muazin di masjid di waktu salat.  

Dalam beribadah, utamanya salat, beliau menggunakan pakaian lebih dari satu (rangkap) dan disempurnakan dengan jubah, dilengkapi imâmah dan ridâ’ sebagai pelengkap dalam beribadah. Dari tekunnya beliau beribadah kepada Allah  dan pasrah pada apa yang terjadi pada diri dan keluarganya, sepertinya beliau tidak menghiraukan kepada keluarganya. Semuanya dipasrahkan pada garis yang sudah ditentukan oleh Allah SWT.  

Kiai Abd. Adzim istikamah salat berjamaah sampai akhir hayatnya. Menjelang wafatnya, beliau masih berusaha untuk berjamaah Isya di masjid, sekalipun harus digendong. Di masjid, keluar darah dari jalan belakangnya. Beliau hendak wudu lagi, tapi diingatkan oleh Kiai Baqir, “Anu saja ‘Bah, ikut Imam Malik saja, tidak apa-apa.” Dengan nada marah beliau mengatakan, “Ojo’! Tetep ae aku melo’ Imam Syafi’i. Mbesu’ hisabane ce’ gellis. Le’ melo’ imam macem-macem, hisab melo’ imam iki, imam iko, suwe. Le’ melo’ imam siji enak, gellis hisabane! (Jangan! Saya tetap ikut Imam Syafii. Agar esok (di hari Kiamat) hisabnya cepat. Kalau ikut bermacam-macam imam, hisabnya nanti ikut imam ini, imam itu. Kalau ikut imam satu, enak, hisabannya cepat!)”. Akhirnya Kiai diusung ke jeding Surau G. Setelah wudu, Kiai merasa tidak kuat dan pusing. Beliau memang sedang sakit panas (Tipus?). Beliau lalu klesetan di surau. Saat itulah beliau berpulang ke rahmatullah. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’un. 

Sumber lain mengatakan bahwa beliau menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan sujud di waktu salat, sebagaimana wafatnya Kiai Nawawie. Ketika beliau meninggal, kiai-kiai menangis semua, termasuk Kiai Hasani, beliau menangis sambil mengatakan. “Tak ada lagi yang seperfi Kang Adzim ini. Habis sudah!”  

Kiai Abd. Adzim wafat bertepatan dengan haul ibundanya, Nyai Munawwarah. Tepatnya pada hari Ahad Wage (malam Senin), tanggal 21 Dzulhijjah 1378 H atau 28 Juni 1959 M. Usia beliau 80 tahun. Beliau meninggalkan seorang istri, tiga putri, dan beberapa cucu. Putri-putri beliau adalah Nyai Zuhroh (istri KH. Baqir, Sidogiri), Nyai Alifah (istri KH. Abd. Haq, Keboncandi), dan Nyai Syafi’ah (istri KH. Achmad Kraton/Pacarkeling, sebelum bercerai). Keluarga yang ditinggalkan dalam keadaan ikhlas dan ridla. Yang hadir pada saat itu mayoritas ulama Pasuruan, dari Lirboyo Kediri, Jombang, dan Jawa Timur. Saat pemakaman beliau, yang memberi ceramah adalah KH. Achmad Shiddiq dari Jember. Ada yang memperkirakan beliau disalati 10 kali atau lebih.

Selamat jalan Kiai. Semoga muncul orang-orang seperti  Kiai, baik dari keluarga Kiai maupun dari santri-santri Kiai.

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *