“Normalnya, kematian adalah hal lumrah, tetapi kematian seorang ulama adalah musibah,” jelas Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf pada sesi Mauidzatul-Hasanah peringatan haul ke-4 K.H. A. Nawawi bin Abd. Djalil, Selasa malam (29/04).
Acara haul ke-4 Kiai Nawawi ini dihadiri oleh ribuan jamaah. Mulai dari tamu undangan seperti habaib, dan para kiai yang menempati area dalem Alm. Kiai Nawawi, hingga keramaian alumni dan simpatisan, tampak memadati area pesantren. Sementara para santri, ditempatkan di asrama masing-masing.
Baca Juga: K.H. A. Nawawi Abd. Djalil, Ulama Akidah Benteng Aswaja
Dalam kesempatan ini, Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf menyampaikan musibah yang terlahir sebab wafatnya ulama. Menurutnya, kematian seorang ulama akan membuat kebodohan semakin merajalela.
“Kematian orang alim bagaikan retakan dari sebuah pondasi bangunan, tidak bisa digantikan kecuali dengan yang sepadan,” jelasnya.
Pengasuh PP. Sunniyah Salafiyah, Kraton, Pasuruan ini juga mengungkapkan bahwa ilmu tidak Allah hapus dari muka bumi dengan seketika. “Allah tidak mencabut ilmu dari muka bumi secara langsung, tapi dengan mencabut nyawa para ulama,” ungkapnya mengutip sebuah hadis.
Di sisi lain, Ketua Rabithah Alawiyah ini juga menjelaskan bencana yang akan melanda umat Muslim sepeninggal wafatnya ulama. “Kematian ulama tidak hanya sebuah pencabutan nyawa, tetapi juga dicabutnya cahaya, berkah, dan ruh ilmu,” tegasnya.
Acara haul ini dipungkasi dengan pembacaan doa tahlil dan wahbah, yang dipimpin oleh Habib Seggaf bin Hasan Baharun, dan K.H. A. Fuad Noerhasan setelahnya.
Penulis: A. Kholil












