Ust. Achyat Ahmad: Rasionalisme dan Khabarun-Shadiqun Yang Dibuang

share to

Anggota Annajah Center Sidogiri (ACS) semester 4 ikuti mentoring di ruang Istirahat Guru al-Ghazali lantai I, Senin Kemarin (02/12). Dengan tema pembahasan adalah rasionalisme, yang dimentori oleh Direktur ACS, Ust. Achyat Ahmad.

Anggota ACS yang duduk di semester IV merupakan anggota yang khusus dalam pembahasan kontra liberal. Maka pada malam senin kemarin, mentoring membahas tentang latar belakang adanya paham rasionalisme dan aspek-aspek lain dalam liberalisme.

Baca juga: Annajah Centre Sidogiri; Antisipasi Gerakan Syiah dan Wahhabi

Dalam penyampaiannya kemarin, Ust. Achyat Ahmad mengawalinya dengan pembacaan ummul-kitab, agar diskusi atau mentoring berjalan lancar dan barakah. Kemudian beliau meneruskannya dengan mengartikan apa itu rasionalisme, yang dalam bahasa Arab-nya, al-aqliyah.

Al-aqliyah adalah suatu pandangan khas Barat yang segala sesuatunya diukur berdasarkan akal. Sehingga apabila ada sesuatu yang menurut mereka sudah sesuai dengan akal maka, itu dikatakan ilmiah. Hal ini berlaku sebaliknya, yakni apabila tidak sesuai dengan akal maka disebut tidak ilmiah.

Baca juga: ACS Datangkan Ust. Ahmad Dairobi Naji dalam Seminar Ilmiah Bertema ‘Bias Tuduhan Radikal dan Liberal

Lebih jelasnya, ust. Achyat menjabarkan dari mana paham rasionalisme di Barat ini tumbuh. Bahwasannya, rasionalisme timbul dari pengalaman sejarah orang-orang Barat dengan agama. Dimana lebih dari seribu tahun, bangsa Barat telah tunduk pada agama Kristen. Menurut Barat, agama Kristen memiliki aspek-aspek yang sulit diterima oleh akal, baik dari konsep teologinya hingga konsep tentang alam semesta. Bahkan sampai-sampai di Barat muncul ungkapan; ‘saya beriman karena tidak paham, dan karena saya tidak paham maka saya beriman’. Sehingga menurut Barat, agama dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang tidak dapat dipertemukan. Karena, jika mempelajari agama menggunakan ilmu pengetahuan, itu tidak masuk dalam akal, sehingga sulit dinalar. Jika mempelajari ilmu pengetahuan, agama seolah membatasi ruang lingkup akal pikiran. Hal inilah yang menyebabkan di Barat, banyak orang yang beriman tanpa pemahaman.

“Latar belakang terbentuknya paham rasionalisme adalah pengalaman sejarah Barat dengan agama Kristen. Hingga pada Abad ke-15 terjadilah zaman kebangkitan atau abad Renaisans (renaissance) dimana Barat memberontak terhadap Bible yang melahirkan suatu paham disebut sekularisme, pemisahan urusan dunia dan agama”. Jelas Ust. Achyat.

Baca Juga:  ACS Adakan Pelatihan Menulis Artikel

Paham Rasionalisme Barat menjelaskan bahwa sesuatu yang dianggap ilmiah itu apabila mampu ditangkap panca indra dan masuk akal. Hal ini berbeda dengan yang diajarkan dalam agama Islam, bahwa penyampaian ilmu itu dapat diterima dengan panca indra, masuk akal, dan khabrun-shadiqun atau kabar yang benar (Wahyu atau hadits). Nah, di Barat Khabarun-Shadiqun ini ditiadakan.

Sehingga yang dikhawatirkan, apabila khabarun-shadiqun ditiadakan, maka segala sesuatu yang menurut barat tidak masuk akal akan dianggap tidak ilmiah. Misalnya saja, wahyu Allah, akal tidak pernah mampu menerimanya apabila hanya diukur dari panca indra saja tanpa khabarun-shadiqun. Karena siapakah yang pernah melihat wahyu?, maka perlu adanya khabar yang benar sebagai penyempurna sampainya ilmu pada kita.

Baja juga: 

ACS Datangkan Ust. Ahmad Dairobi Naji dalam Seminar Ilmiah Bertema ‘Bias Tuduhan

Mentoring ACS, Sejarah Berdarah Wahabi

ACS Adakan Pelatihan Menulis Buku Ilmiah

 Mentoring ACS; Posisi Madzhab Asy’ari Dalam Fikih dan Hadits

Penulis : Musafal Habib

Editor   : Saeful Bahri bin Ripit

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *