Kajian HadisSejarah

Puasa Asyura dalam Lembaran Sejarah dan Hadis

Senin, 12 Rabiul Awal 1 H. Rasulullah tiba di Madinah setelah melewati perjalanan panjang penuh ancaman, derita, dan pemburuan. Setelah mendapat sambutan luar biasa antusias, Rasulullah menyusuri kompleks Madinah dan mendapati sekelompok Yahudi sedang menjalani puasa. Dengan rasa penasaran, Rasulullah bertanya, “Apa ini?” Mereka menimpali, “Ini hari besar, di mana Allah menyelamatkan Musa dari Firaun.”

Perlu diketahui, Rasulullah tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal sedangkan puasa orang Yahudi adalah saat Muharam saat hari Asyura, hari ketika Nabi Musa selamat dari pengejaran Firaun. Apakah historis di atas bertentangan?

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Zadul Maad fi Hadyi Khairil Ibad, berusaha mengurai kemusykilan tersebut. Ia menjelaskan, kedatangan Rasulullah di Madinah pada Senin 12 Rabiul Awal berdasarkan kalender Qamariyah, sementara puasa Asyura yang dijalankan orang Yahudi berdasarkan kalender Syamsyiah.

Dengan begitu, puasa Asyura kaum Yahudi Madinah bertepatan dengan kedatangan Rasulullah, yang memang terjadi perselisihan waktu antara dua standar kalender. Mestinya, jika didasarkan pada penyelamatan Nabi Musa, puasa Asyura adalah pada 10 Muharram mengikuti siklus Qamariyah, bukan Syamsiyah, sebagaimana juga terjadi dalam penentuan ibadah haji yang juga mengacu pada kalender Qamariyah.

Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki mengungkapkan dalam kitab Syariatullah al-Khalidah bahwa puasa Asyura merupakan puasa pertama yang diwajibkan atas umat Islam. Kewajiban ini berlanjut sampai bulan Ramadhan tahun kedua hijriah dengan landasan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ (١٨٣)

“Wahai orang-orang beriman! Diwajibkan atas kalian puasa seperti yang diwajibkan atas umat-umat sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 138).

Dengan demikian, puasa Asyura berubah dari hukum wajib ke hukum sunah muakkad. Nah, untuk tidak tasyabuh dengan Yahudi yang hanya puasa Asyura saja, Rasulullah menganjurkan untuk puasa sehari sebelum atau sesudah hari Asyura melalui perintah beliau:

صُوْمُوْهُ وَصُوْمُوْا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ وَلَا تُشَبِّهُوْا بِالْيَهُوْدِ
“Puasalah Asyura dan puasa lah sehari sebelum atau sesudahnya serta jangan menyerupai Yahudi” (HR. Ahmad).

Perintah tersebut tidak menunjukan Rasulullah pernah melakukan puasa sehari, baik sebelum atau sesudah Asyura. Sebab ada pada hadis lain diterangkan harapan Rasulullah untuk puasa tepat di hari Tasua’. Hadis tersebut beliau sabdakan pada hari Asyura, di bulan Muharram tahun 11 H.

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى الْعَامِ الْقَابِلِ لَأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ (رواه مسلم)

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan puasa di hari ke sembilan Muharram” (HR. Muslim).

Wal-hasil, puasa Asyura merupakan puasa wajib yang kemudian di-naskh dengan puasa Ramadhan, sehingga berubah menjadi hukum sunah. Kesunahan ini, juga diiringi dengan puasa Tasua’ (tanggal 9) atau puasa di hari kesebelas Muharam. Wallahu a’lam.

Penulis: Imam Rohimi
Editor: Fahmi Aqwa

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *