ArtikelNgaji Fikih

Hukum Niat Puasa Ganda, Puasa Qadha dan Puasa Sunah

Hari Tasua dan Asyura tiba dengan segala keutamaan dan keistimewaannya untuk kita yang menyambutnya dengan berpuasa, seperti sabda Rasulullah:

ثَلَاثٌ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، فَهَذَا صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Tiga (puasa) di setiap bulan dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya. Ini bernilai puasa setahun. Puasa Arafah, aku berharap Allah melebur dosa satu tahun yang berlalu dan satu tahun berikutnya. Puasa Asyura, aku berharap Allah melebur dosa satu tahun yang lalu” (HR. Muslim no. 196).

Realitanya, tidak setiap orang murni berpuasa Asyura dan Tasua. Ada yang menjadikan satu puasa Asyura atau Tasua disertai dengan niat puasa qadha. Lantas, apakah dua puasa mengharuskan dua niat juga atau cukup dengan satu niat saja?

Sebelum itu, kita harus memahami dulu konsep menggabungkan dua niat. Imam as-Suyuthi dalam kitab al-Asybah wan-Nazhair memetakan masalah ini menjadi empat bagian. Pertama, niat ibadah digabung dengan niat non ibadah, seperti niat wudhu disertai niat menyegarkan tubuh. Kedua, dua fardhu yang berbeda diniati bersama, seperti niat haji dengan umrah. Ketiga, menggabungkan dua niat ibadah sunah yang berbeda, seperti niat puasa Arafah dan puasa Senin. Terakhir, niat fardhu plus niat sunah.

Lebih lanjut, Imam as-Suyuthi menampilkan beberapa kasus turunan dari bagian terakhir tersebut:

صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَة مَثَلًا قَضَاء أَوْ نَذْرًا، أَوْ كَفَّارَة وَنَوَى مَعَهُ الصَّوْم عَنْ عَرَفَة، فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ، وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا، قَالَ: وَكَذَا إنْ أَطْلَقَ فَأَلْحَقَهُ بِمَسْأَلَةِ التَّحِيَّةِ، قَالَ الْإِسْنَوِيُّ: وَهُوَ مَرْدُودٌ وَالْقِيَاسُ أَنْ لَا يَصِحَّ فِي صُورَةِ التَّشْرِيك وَاحِد مِنْهُمَا، وَأَنْ يَحْصُلَ الْفَرْضُ فَقَطْ فِي صُورَةِ الْإِطْلَاقِ.

“Seorang puasa qadha, nazar, atau kafarah pada hari Arafah dan niatnya digabung dengan niat puasa Arafah. Al-Barizi berfatwa bahwa hal itu sah, dapat terpenuhi dari keduanya. Ia berkata: Demikian pula jika dilakukan secara mutlak (tanpa niat tertentu), disamakan dengan masalah tahiyyah al-masjid. Namun, al-Isnawi membantahnya dan mengatakan: Pendapat yang benar menurut qiyas adalah bahwa dalam bentuk tasyrīk (penggabungan dua niat) tidak sah bagi keduanya, dan bahwa hanya yang wajib dapat terpenuhi dalam bentuk niat itlaq (tanpa niat tertentu).”

Alhasil, terdapat perbedaan pendapat antara Imam al-Barizi dan Imam al-Isnawi terkait menggabungkan niat puasa qadha pada hari Asyura atau Tasua. Masalahnya, ada pada penggabungan niat antara puasa sunnah dan fardhu. Menurut al-Barizi, sama dengan shalat Tahiyyatul Masjid, yang bisa digabung dengan shalat Fardhu, meskipun mutlak. Sementara al-Isnawi menolaknya, dan menyebut hanya Fardhu yang didapat. Wallah a’lam.

Penulis: Imam Rohimi
Editor: A. Kholil

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *