BeritaUnggulan

Kuliah Syariah Bahas Metodologi Ulama dalam Menyikapi Hadis Kontradiktif

Rabu malam (22/10), Pengurus Kuliah Syariah kembali menggelar diskusi panel bertema, “Metodologi Ulama dalam Menyelesaikan Pertentangan Hadis: Telaah Kritis atas Respons Ulama terhadap Hadis Kontradiktif.” Kegiatan ini bertempat di Perpustakaan Sidogiri dan menghadirkan dua panelis ahli, yaitu Dr. K. Abdul Wahab Ahmad, M.H.I. dan Ust. Abdullah Ilyas, Lc.

Acara diawali dengan sambutan dari Koordinator LPSI, Ust. Solehuddin, yang menekankan pentingnya keaktifan peserta dalam kegiatan ilmiah. “Kami berharap para murid Aliyah selalu aktif dalam kajian dan musyawarah yang telah ditetapkan. Ini penting agar terbiasa berpikir kritis dan ilmiah,” ujarnya.

Panelis pertama, Dr. K. Abdul Wahab Ahmad, M.H.I., menjelaskan metode para ulama dalam mengompromikan hadis-hadis yang tampak bertentangan. Beliau memulai dengan menyoroti cara Nabi ﷺ menyampaikan hadis kepada para sahabat.

“Nabi menyampaikan hadis kepada para sahabat secara perlahan dan berulang, agar maknanya dapat dipahami dengan sempurna,” jelas anggota Komisi Fatwa MUI Jember tersebut. Beliau menambahkan, memahami hadis yang tampak kontradiktif menuntut penguasaan mendalam terhadap cabang-cabang ilmu hadis.

Panelis kedua, Ust. Abdullah Ilyas, Lc., memaparkan bahwa ilmu hadis secara umum terbagi menjadi dua: ilmu tentang matan (teks hadis) dan ilmu tentang sanad (rantai periwayatan).

“Dalam kajian matan, sering ditemukan hadis yang tampak bertentangan secara tekstual, meskipun substansinya tidak. Karena itu, lahirlah disiplin ilmu seperti mukhtalaf al-hadis dan musykil al-hadis,” jelas alumnus Ahqaff University tersebut.

Beliau juga memaparkan beberapa metode ulama dalam menyelesaikan pertentangan hadis, antara lain Jama’, Nasakh, Tarjih, dan Tawaqquf.

Kedua panelis menegaskan bahwa hadis-hadis Nabi ﷺ tidak mungkin saling bertentangan secara hakiki. Metodologi yang dikembangkan para ulama menjadi bukti kedalaman dan kesungguhan mereka dalam menjaga keautentikan ajaran Islam.

Baca juga: Laboratorium Pembelajaran, Wadah Visualisasi Fikih dan Sejarah di Perpustakaan Sidogiri
Baca juga: Kala Pencuri Jadi Ahli Ibadah; Pelajaran Penting dari Hasan al-Bashri

Penulis: Nijaful Ali
Editor: Fahmi Aqwa

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *