Daurah Ilmiah Milad, Singkap Makna Tasawuf
Sebagai kelanjutan dari suksesnya kegiatan Bahtsul Masail Wustha (BMW) ke-70 di Gedung 1455 pada hari Sabtu (22/06), Panitia Sie Daurah & BMW menggelar kegiatan Daurah Ilmiah sebagai rangkaian dari agenda besar Milad Sidogiri ke-289. Untuk pendalaman materi dan efisiensi waktu, kegiatan diselenggarakan dalam dua sesi. Sesi pertama pada malam Kamis (10/08) menghadirkan Syekh Muhammad bin Musthafa Abul Huda ad-Dimasyqi lalu berlanjut pada sesi kedua pada Kamis pagi (10/08) dengan narasumber Dr. Habib Ali Baqir Assegaf.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, penyelenggaraan daurah tahun ini berlangsung di Aula Gedung Sidogiri Corp yang terbilang memadai setelah panitia melakukan penyesuaian para peserta. Undangan dibatasi khusus bagi keluarga Sidogiri, Pengurus Harian, serta Staf Pengajar Madrasah Miftahul Ulum (MMU) sebagai bentuk menjaga tradisi luhur yang menyambungkan nilai serta ikatan dengan mereka.
Baca juga: Daurah Annajah Ramadhan Hadirkan Inovasi Baru
Selain itu, murid kelas akhir tingkat Aliyah turut dilibatkan dalam mengikuti daurah ini, karena dianggap mempunyai kematangan akademis dan psikologis dalam mencerna dan menerima materi tingkat lanjut. Atas hal tersebut, Ust. Moh. Ainul Yaqin AW selaku Admin Sie Daurah & BMW menyampaikan alasan keterlibatan murid Aliyah kelas akhir ini, “Kedewasaan berpikir, kesiapan dasar keilmuan, serta kemampuan memahami pembahasan tingkat lanjut menjadi alasan utama pemilihan jenjang ini.”
Dalam sambutannya, Ust. Umar Chamdan selaku Ketua Milad Sidogiri ke-289 menyampaikan pemilihan tasawuf sebagai tema daurah, karena sejalan dengan tema Milad tahun ini. “Tema milad, merdeka dari hawa nafsu merupakan intisari dari ajaran tasawuf,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bagian Cegah Berantas Barang Berbahaya (CB3) tersebut.
Pada sesi pertama, Syekh Muhammad bin Musthafa Abul Huda ad-Dimasyqi lebih banyak berfokus pada penguatan fondasi tasawuf. Dalam paparannya, tasawuf terbangun dengan enam fondasi yang kuat, yaitu mengikuti al-Quran dan hadis, menganut akidah yang shahih, menghormati para wali Allah, mencari alasan agar tidak menyalahkan orang lain, tidak mengamalkan dispensasi (rukhshah) syariat, serta menekuni wirid.

Kelompok yang mengaku sebagai penganut tasawuf sering mengabaikan salah satu dari enam fondasi di atas, yaitu menganut akidah yang sejalan dengan ajaran Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi. “Tekun ibadah tidak menjadi bukti atas keabsahan akidah. Sekte Muktazilah dan Karramiyah, mereka semua ahli ibadah, tapi sesat dalam akidah,” jelas ulama asal Damaskus tersebut, yang diterjemah oleh Ust. Muhammad Abdul Alim, Wakil Ketua Sie Daurah & BMW.
Baca juga: Khutbah Jum’at dan Jalsah Ilmiah bersama Masyayikh Ribath Ilmi Syarif Hadramaut
Menariknya, pernyataan di atas diperkuat oleh penyampaian dari Dr. Habib Ali Baqir Assegaf di sesi kedua. Dalam ulasannya, beliau turut menegaskan bahwa tasawuf sunni terbangun atas akidah Asya’irah-Maturidiyah, fikih empat mazhab lalu perbuatan baik (ihsan). “Perbuatan dikatakan baik bila dibangun di atas akidah yang shahih dan fikih yang benar. Jika menyalahi hal tersebut, maka termasuk tasawuf bidah,” ujar murid dari Syekh Said Foudah ini.
Alumnus Universitas al-Ahgaff Yaman ini juga mengimbuhkan bahwa label tasawuf tidak hanya disematkan pada Ahlussunnah, karena kalangan lain pun mengklaim praktik serupa dengan akidah yang berbeda.
Menariknya pada tahun ini, daurah ilmiah juga disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube SidogiriTV. Antusiasme dari para Sidogirian nampak dari banyaknya penonton siaran langsung yang menyentuh angka tiga ribuan.
Penulis: Imam Rohimi| Reporter Kabar Ikhtibar












