HikayatMasyayikh Sidogiri

K.H. Siradjul Millah Waddin: Sang Organisator Ulung

Dalam sejarah Pondok Pesantren Sidogiri, pernah terjadi keresahan di kalangan santri dan pengurus terkait keamanan uang titipan santri. Suasana sempat memanas dan menimbulkan keraguan. Namun, di tengah situasi tersebut, muncul ide dari Kiai Siradjul Millah Waddin bin Nawawie untuk menawarkan solusi. Dengan ketenangan dan kebijaksanaannya, beliau menawarkan gagasan yang kemudian menyelesaikan masalah secara elegan.

Beliau mengusulkan agar membuat ruang penyimpanan khusus yang dilengkapi lemari besi sebagai tempat penitipan uang santri. Untuk mewujudkannya, beliau meminta putranya, Mas Abdullah, agar membuat pintu lemari dari cor besi. Tak hanya itu, lemari tersebut dilengkapi dengan tiga gembok, sebagai bentuk keamanan berlapis.

Kemudian, masing-masing kunci dari gembok tersebut tidak dipegang oleh satu orang saja, melainkan dibagi kepada tiga pihak: beliau sendiri, Kiai Ghozi, dan pengurus bagian keuangan. Sistem ini dirancang sedemikian rupa agar ketiganya wajib hadir bersama saat membuka lemari, sehingga tidak ada celah kecurigaan atau penyalahgunaan. Transparansi dijaga dengan mekanisme yang sederhana, tapi efektif.

Kepedulian beliau tidak hanya sebatas pada urusan teknis seperti keamanan keuangan. Suatu ketika, beliau merasa prihatin melihat suasana pondok yang ramai oleh perbincangan-perbincangan ringan di kalangan santri, yang menurutnya mulai melenceng dari semangat belajar dan ibadah. Untuk merespons hal itu, beliau menggagas pembentukan dua struktur penting: Kepala Bagian Ubudiyah dan Taklimiyah. Gagasan ini muncul dari kegelisahan beliau terhadap kondisi pesantren yang menurutnya mulai menyerupai pasar, karena terlalu banyak diisi oleh obrolan yang kurang bermanfaat. Dengan dibentuknya dua bagian tersebut, fokus pesantren kembali diarahkan pada penguatan ibadah dan pembinaan keilmuan santri.

Pada masa kepemimpinan beliau sebagai Ketua Umum Pondok Pesantren Sidogiri, suasana pondok dikenal sangat kondusif. Tidak tercatat adanya kasus pencurian maupun perkelahian antar santri. Ketertiban menjadi budaya yang tumbuh alami, bukan karena pengawasan ketat, tetapi karena tatanan yang dibangun dengan rapi dan sistematis.

Kini, tepat haul ke-38 sejak wafatnya K.H. Siradjul Millah Waddin bin Nawawie, kita kembali mengenang jasa dan keteladanan beliau—seorang kiai visioner yang meletakkan dasar-dasar organisasi dengan cara yang halus, namun berdampak besar.

Semoga dengan mengenang kiprah beliau, kita semua mendapatkan berkah, ridha, dan syafaat dari beliau, serta mampu meneladani semangat pengabdian dan keikhlasan dalam membangun umat.

Al-Fatihah.

Penulis: Imam Rohimi
Editor: Fahmi Aqwa

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *