Taujihat Majelis Keluarga dalam Musyawarah Kerja IASS

share to
Katib Majelis Keluarga, Mas d. Nawawy Sa'dullah menyampaikan taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri

Katib Majelis Keluarga, Mas d. Nawawy Sa’dullah menyampaikan taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri

Senin, 26 R. Tsani 1436 H.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله  الحمد لله  والصلاة والسلام على رسول الله وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد

 

Alhamdulillah, gembira sekali rasanya saya melihat semangat Saudara-Saudara para Pengurus IASS sekalian untuk melakukan musyawarah kerja, untuk membangun kiprah yang terarah dari para alumni Pondok Pesantren Sidogiri. Semoga musyawarah ini bisa membawa perubahan bagi masyarakat luas agar bisa menjadi lebih baik lagi.

Musyawarah kerja ini merupakan kesempatan bagi kita untuk membuat peta mengenai langkah-langkah strategis yang mesti kita tempuh, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang, agar IASS ini memiliki manfaat yang besar, khususnya bagi alumni dan Pondok Pesantren Sidogiri. Jadi, manfaatkanlah dengan baik dan sungguh-sungguh. Ini adalah arena kita berbicara, memeras pikiran, mengerahkan segala kemampuan untuk merencanakan hal-hal terbaik yang realistis.

Jangan sampai Saudara-saudara mengikuti musyawarah kerja hanya sekadar memenuhi formalitas dan sikap sambil lalu, tanpa memiliki misi yang jelas dan ingin Saudara perjuangkan untuk menjadi keputusan-keputusan. Kami akan sangat kecewa jika ada peserta dalam musyawarah sebesar ini yang bersikap acuh tak acuh terhadap program-program kerja yang sedang kita godok nanti. Masing-masing dari kita, datang ke musyawarah ini untuk memperjuangkan kepentingan ma’had dan kepentingan umat. Maka, sejauh apa semangat Saudara-Saudara dalam bermusyawarah, maka sebenarnya sejauh itu pula gambaran kepedulian Saudara-Saudara terhadap kepentingan ma’had dan umat ini.

Saudara-Saudara para peserta Musyawarah Kerja sekalian … Adanya organisasi, program, anggaran dan lain-lain, merupakan hal-hal urgen yang sudah seharusnya kita persiapkan dengan baik dan matang melalui musyawarah ini. Akan tetapi, semuanya harus kita letakkan sebagai media dan sarana. Sedangkan muara dan sumbernya harus selalu mengacu kepada visi Pondok Pesantren Sidogiri, yaitu mencetak ibadillah as-shalihin atau manusia-manusia yang bertakwa.

Oleh karena itu, segenap instansi, institusi, ataupun organisasi yang berafiliasi kepada Pondok Pesantren Sidogiri harus menuju ke arah yang sama dengan Sidogiri, meskipun bidang yang ditekuni beranekaragam. IASS, sebagai salah satu organisasi yang menjadi cermin Sidogiri di masyarakat luas, harus benar-benar bisa menerjemahkan hal ini dengan baik. IASS harus benar-benar bisa menjadi kepanjangantangan dari apa yangg telah digagas dan dibangun oleh para masyayikh kita.

Jangan sampai kita silau oleh capaian-capaian tertentu yang tampak wah di mata orang lain, tapi sebenarnya tidak memiliki nilai apa-apa di hadapan para masyayikh kita sendiri. Keberhasilan kita ini diukur berdasarkan sudut pandang para masyayikh kita, seperti Kiai Cholil Nawawie, Kiai Hasani Nawawie, Kiai Abdul Alim dan para masyayikh-masyayikh yang lain. Maka, sebisa mungkin marilah kita belajar untuk menghadirkan sosok-sosok beliau dalam setiap langkah yang akan kita lakukan atas nama institusi atau atas nama apapun yang membawa nama Sidogiri. Kita mesti menghadirkan pandangan hidup beliau-beliau itu, dengan senantiasa membayangkan: seandainya Kiai Cholil tahu, apakah beliau ridha dengan apa yang kita lakukan? Seandainya Kiai Hasani melihat apakah beliau akan tersenyum atau malah sebaliknya? Seandainya Kiai Abdul Alim tahu apakah beliau setuju atau tidak? Dan, beliau-beliau itu kemungkinan besar terus memantau segala hal yang kita lakukan atas nama Sidogiri. Boleh jadi, pantauan beliau saat ini jauh lebih tajam daripada pantauan beliau saat masih berada di tengah-tengah kita sekalian.

Sedangkan indikator-indikator keberhasilan yang biasa dipakai oleh orang lain, cukuplah kita jadikan sebagai penunjang, jangan sampai dijadikan standar utama yang menjadi kiblat kita. Jangan sampai menjadi perhatian utama yang menyebabkan kita mengabaikan ruh perjuangan para masyayikh Sidogiri. Sangat banyak hal-hal yang dianggap sebagai kemajuan luar biasa oleh orang-orang di luar sana, tapi sejatinya hal itu merupakan kemunduran luar biasa di hadapan para masyayikh dan kitab-kitab yang kita baca.

Sebagai perbandingan, saya pernah mendengar, bahwa kebanyakan orang menganggap Abad Kelima Hijriah sebagai masa keemasan Islam dalam sejarah karena kemajuan peradaban yang dicapai umat Islam saat itu. Namun, menurut Imam al-Ghazali, justru masa tersebut merupakan masa kemunduran luar biasa. Sebab, Imam al-Ghazali mengukur kemajuan dengan sisi yang berbeda; sisi yang hakiki, yaitu kelurusan akidah dan keteguhan masyarakat terhadap ajaran agama. Pada Abad Kelima itu, justru umat Islam terpecah belah di bidang akidah ke dalam berbagai macam aliran yang beranekaragam; dan mereka disibukkan dengan persaingan politik serta perebutan kekuasaan yang begitu sengit.

Menurut standar ukuran yang dipakai oleh Imam al-Ghazali, masa keemasan Islam justru terdapat di masa para Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Yaitu, sebuah masa di mana umat Islam hidup dengan sangat sederhana. Dengan masjid Nabawi yang beralas pasir dan bertiang pelepah kurma, tapi di dalamnya penuh dengan ilmu, ibadah, dan cahaya keimanan yang terang benderang. Dengan pedang yang mungkin sudah berkarat dan kuda-kuda yang mungkin sudah ringkih, tapi mereka menjadi singa-singa jihad yang membuat musuh-musuh mereka gemetar ketakutan.

Seperti halnya dulu, setengah abad yang lalu, Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang sangat berwibawa dan dicintai oleh segenap masyarakat Muslim Indonesia. Nahdlatul Ulama meruntuhkan pesawat tempur pasukan sekutu hanya dengan sebuah Resolusi Jihad. Melalui petuah para ulama, Nahdlatul Ulama mematahkan dominasi komunis yang berurat berakar sampai ke desa-desa. Padahal pada masa itu, Nahdlatul Ulama di tingkat propinsi masih kesulitan sekali untuk membuat sebuah kantor. Saya mendengar sebuah cerita, pernah pada saat Muswil di Surabaya, ada seorang Kiai sampai melepas songkoknya untuk dijadikan wadah sumbangan di antara para hadirin. Para Kiai itu sumbangan untuk keperluan menyewa rumah bagi Rois Syuriah yang didaulat untuk pindah dan tinggal di Surabaya.

Namun demikian, dengan sarana yang sangat terbatas, Nahdlatul Ulama pada saat itu sangat mengakar di tengah masyarakat kita, jauh berbeda dengan kondisi saat ini, ketika kantor-kantor NU sudah mentereng di mana-mana.

Ini sekadar perbandingan. Bukan berarti saya hendak mengajak Saudara-saudara untuk kembali ke masa lalu, untuk beralas pasir dan berdinding bambu. Saya hanya ingin menyatakan bahwa kemajuan kita terletak pada hal-hal yang bersifat moral-rohaniah, bukan dalam hal-hal yang bersifat materi-jasmaniah.

Jangan pernah berpikir bahwa kita lebih bisa, lebih maju, lebih berawawasan, lebih mengetahui perkembangan zaman, sehingga menganggap remeh apa yang telah dilakukan dan dicapai oleh para pendahulu kita. Para pendahulu kita memang tampak seperti biasa-biasa saja, tapi mereka tampak gagah, mulia dan penuh dengan karisma.

Apa yang dibangun oleh para pendahulu kita berdiri dengan tegak dan kokoh hingga saat ini, karena mereka membangunnya dengan hati, bukan dengan materi. Seandainya para masyayikh kita mewariskan uang dan kekayaan, maka saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Sidogiri sudah runtuh dan tamat semenjak dahulu. Sidogiri bisa terus bertahan sampai saat itu, karena warisan yang kita terima adalah ilmu dan keteladanan. Kedua warisan ini membuat semua orang menerimanya dengan penuh khidmat dan keyakinan, bukan menerimanya dengan keraguan dan kesemuan.

Oleh karena itu, jangan pernah berpikir bahwa kita tidak bisa berbuat sesuatu tanpa uang. Pikiran itulah yang meruntuhkan kekokohan moral kita, sehingga mungkin ada di antara kita yang berani menabrak batas-batas hanya karena ingin mendapatkan dana untuk organisasi kita. Pikiran semacam itu pula yang membuat madrasah dan institusi keagamaan di masyarakat kita menjadi ompong dan tak bertaji.

Merupakan sebuah fakta di mana-mana, bahwa ada banyak orang yang berkiprah di bidang dakwah dan perjuangan agama, akhirnya putus asa dan tidak berbuat apa-apa hanya karena tidak memiliki dana. Perasaan dan sikap ini adalah musuh terbesar yang harus kita perangi terlebih dahulu dalam diri kita sebelum kita berperang melawan musuh-musuh kita.

Sebagai kaum santri, kita dididik untuk mengandalkan semangat, kejujuran, ketulusan, dan integritas kepribadian. Maka, jangan sampai kita ikut-ikutan menyuburkan dan menebarkan opini tentang kesaktian uang. Hal itu merupakan sesuatu yang tabu bagi kita.

Maka, sekali lagi mari selalu kita ingat, bahwa apa yang telah dibangun oleh para Masyayikh kita bisa menjadi kokoh dan abadi, karena mereka mengandalkan kekuatan hati, bukan kekuatan-kekuatan lain yang semu. Semoga kita senantiasa bisa menyerap teladan dari mereka, dan tidak melupakannya dalam setiap detak pikiran, gerakan tangan dan langkah kaki kita.

Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua untuk betul-betul berjuang memberdayakan alumni dan mengembalikan mereka terhadap berbagai ajaran dan teladan yang mereka dapatkan selama di pesantren. Semoga Allah memberikan taufik kepada pikiran kita agar bisa meletakkan IASS sebagai wahana perjuangan yang perlu kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar organisasi yang kita perhatikan dengan sambil lalu. Semoga Allah menanamkan dalam diri kita kebeningan hati agar bisa menyikapi segala sesuatu dengan benar; keteguhan tekad sehingga tidak mudah patah semangat; juga memberikan jalan keluar dalam segala persoalan yang kita hadapi. Semoga Allah mengumpulkan di bawah teduh bendera Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para keluarga dan sahabat beliau, para ulama dan para masyayikh kita. Semoga hidup kita husnul khatimah dan apa yang kita perjuangkan bisa menjadi amal jariyah yang tidak putus hingga akhir sejarah nanti.

رَبَّنَا يَسِّرْ لَنَا اُمُوْرَنَا مَعَ الرَّاحَةِ لِقُلُوْبِنَا وَأَبْدَانِنَا وَالسَّلاَمَةِ وَالعَافِيَةِ فِيْ دِيْنِنَا وَدُنْيَانَا. آمِيْنْ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

Sekian. Semoga sambutan ini bisa memberikan manfaat, dan tidak sekedar menjadi penghias seremonial bagi Musyawarah Kerja ini. Selamat melaksanakan Musyawarah Kerja, semoga dapat menghasilkan keputusan-keputusan terbaik dan bisa dilaksanakan pada masa-masa yang akan datang.

Pasuruan, 25 R. Tsani 1436

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

d. Nawawy Sadoellah

Katib Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *