Kami Bukan Pahlawan Tapi Pejuang

share to

 

 

 

 

 

 

 

“Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak.” (Pidato HUT Proklamasi, Bung Karno)

Sudah 73 tahun Indonesia merdeka, terbebas dari jajahan bangsa asing, terbebas dari kejamnya dunia penjajahan, dan berdiri sendiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kemerdekaan Indonesia ditandai dengan diproklamasikannya kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh Ir. Soekarno – Mohammad Hatta.

Untuk itu, tidak heran jika setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaannya, sebagai tanda kebanggaan, kebahagiaan, serta kehormatan kepada para petahana bangsa. Sejarah Indonesia hingga bisa merebut kemerdekaan sangatlah panjang. Untuk mencapai suatu tujuan yang dinamakan “merdeka”, dibutuhkan berbagai pengorbanan besar serta pertumpahan darah oleh para pejuang.

Kami (santri) sebagai generasi pemuda Indonesia mungkin merasa sedih tidak bisa ikut andil dalam membebaskan Indonesia dari tangan Penjajah, tetapi kami sangat menghargai dan menghormati jasa para pahlawan yang sudah berjuang demi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Karena, Kemerdekaan Indonesia tidak bisa lepas dari peran kaum pesantren. Para ulama dengan para santri beserta rakyat yang beragama Islam, memeberikan amunisi besar bagi penjajah kala itu. Peran santri dan Pesantren tidak hanya mengawal pemahaman agama masyarakat Nusantara. Tetapi keterlibatannya dalam perjuangan, menjadi basis melawan segala bentuk penindasan, bahkan penulis buku The History of Java mengakui bahwa Kiai merupakan ancaman serius atas kepentingan Belanda di Indonesia. Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah.

Tidak terhitung sudah berapa kiai yang disokong oleh para santri dan rakyat jelata melakukan pemberontakan melawan penjajah Belanda, sehingga Belanda menjadikan Pesantren sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Tidak lepas dari itu, para kiai Sidogiri juga memiliki peran penting dalam memobilisasi rakyat guna membendung invasi asing yang ada di bumi nusantara. Salah satu tanda perjuangan kiai dan Santri Sidogiri adalah “lonceng” yang berada di gerbang masuk menuju Pesantren Sidogiri. Sekarang lonceng tersebut difungsikan sebagai penanda waktu.

Konon Belanda terpaksa menjatuhkan bom ke lokasi Pesantren, lantaran perjuangan Kiai dan para Santri Sidogiri dalam melawan penjajahan. kemudian bom tersebut diabadikan sebagai “lonceng” Pesantren. Salah satu ulama Sidogiri yang terlibat aktif dalam perjuangan meraih kemerdekaan adalah Kiai A. Sa’doellah, menurut pandangan beliau, agresi Belanda harus dihadapi dengan berperang. Memerangi Belanda adalah peperangan suci untuk membela tanah air dari invasi kaum kafir.

Juga perjuangan dari KH. Abd Djalil bin Fadil yang rela jatuh tersungkur karena ditembak oleh serdadu Belanda. Hingga jenajah beliau diseret dan dibuang di sungai Sidogiri. Setidaknya Ini adalah bukti bahwa kemerdekaan Indonesia tidak luput dari perjuangan para ulama dan santri. Sangat salah jika santri (khususnya santri Sidogiri) dikatakan tidak mencintai NKRI. Buktinya para Ulama’ dan Santri rela berdarah-darah ketika negri ini diinjak-injak.

Jadi, Jangan pernah meragukan sikap nasionalisme kami, sebab santri sidogiri sangat mencintai NKRI. Santri Sidogiri siap untuk patuh dan setia kepada negara dan patuh terhadap undang-undang yang ada, selagi tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Dan kami ucapkan selamat ulang tahun Indonesiaku. Dirgahayu Republik Indonesia ke – 73. Semoga diumur yang sudah tua ini, Indonesia menjadi negara yang bisa mensejahterakan rakyatnya dan menjadi Bangsa yang semakin baik, semakin Indah, semakin peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya. (itu harapan kita bersama).

=====
Penulis: M. Afifur Rohman
Editor: N. Shalihin Damiri

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Chat WA dengan kami