Israiliyat, Terima yang Bercahaya Campakkan yang Bernoda

share to

Pengusikan terhadap ayat Tuhan ternyata bukan hanya terjadi pada kitab Injil. Kitab termulia sekaligus terbaik, al-Quran, juga mengalami pengusikan. Bedanya, jika Injil diusik dengan cara didistorsi (tahrif) maka al-Quran diusik dengan dongeng-dongeng israiliyat. Memang benar, Allah menjamin orisinalitas (keaslian) al-Quran, tapi hal ini tidak berlaku bagi tafsirnya.

Keterangan: Gus Bahak saat mempersentasikan matera, dalam acara Konsultan Non Reguler yang diselenggarakan oleh Pengurus Perpustakaan Sidogiri.

Wawancara: Salah satu redakasi Majalah Dinding (Mading) Maktabati sedang mewancarai narasumber.

Laporan: Gus Muhammad Ilyas

Malam sabtu (26/12) kemarin, semua pustakawan terlihat sibuk menyiapkan acara rutinan tiap semester Perpustakaan Sidogiri. Beberapa petugas bagian Kebersihan dan Meubelir mondari-mandir berbelanja konsumsi dan hidangan, sedangkan yang lain menyiapkan tempat acara. Tiga pustakawan stand by di ruang Resepsionis untuk melayani pembelian materi, sedangkan lainnya membantu dengan caranya masing-masing. Tidak lupa, dua petugas (Elektro, red) didatangkan untuk mengatur sound system.

Ya, acara konsultan non-reguler dengan judul “Pengaruh Israiliyat Terhadap Penafsiran al-Quran” yang bertempat di lantai dasar Perpustakaan membuat suasana Perpustakaan tak seperti biasanya. Bila di hari-hari biasa Perpustakaan sudah ramai oleh kegiatan Kaffah, malam itu tak biasa. Perpustakaan semakin ramai oleh para santri yang berminat mengikuti seminar ilmiah itu. Bahkan lantai dasar penuh sesak oleh ratusan santri, hingga membuat ruang baca terbuka harus difungsikan juga sebagai tempat menampung peserta yang datang agak terakhir.

Setelah sekitar 30 menit lebih menunggu, KH. Ahmad Bahauddin Nur Salim, konsultan non-reguler pada kesempatan kali ini datang dan langsung menuju ke tempat acara, tanpa istirahat terlebih dahulu di Kantor Perpustakaan. Pemred Maktabati, Muhammad, ditunjuk sebagai MC acara, sedangkan hadir sebagai moderator, Ust. Afifuddin, Kepala Kuliyah Syariah sekaligus Konsultan Reguler Alhi Sejarah.

Pada awal pembicaraan, Gus Baha, biasa beliau dipanggil, mengutip sebuah petuah Arab yang populer di kalangan pesantren yang artinya, “Ambil yang bersih buang yang kotor.”  Hal ini beliau pesankan pada segenap yang hadir jika berkeinginan mempelajari kisah israiliyat yang tersebar di berbagai kitab tafsir. “Sebab bisa saja yang dikatakan mereka adalah gubahan atau perubahan yang mereka lakukan, bahkan sebagian diniatkan oleh mereka untuk menjatuhkan derajat para nabi, utamanya nabi-nabi yang tidak dari kalangan mereka (bani israil),” tambahnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3iA Narukan Kragan Rembang Jateng ini selanjutnya membeberkan beberapa kisah israiliyat yang harus kita tolak. Salah satunya adalah kisah sakit Nabi Ayub. Sedangkan beberapa yang harus kita tolak adalah seperti kesaksian Rahib Bahirah, kesaksian Siti Khadijah, dialog Hiraql dengan Abu Sufyan.

Ada banyak kisah Israiliyyat yang keliru dan menyebabkan menjadi semacam pengganggu terhadap aqidah Umat Islam. Pertama, Dalam Riwayat Israiliyyat terdapat unsur-unsur penafikkan terhadap sifat maksum para Nabiyullah dan Rasulullah. Kedua, Riwayat-Riwayat Israiliyyat berpotensi menyimpangkan kepercayaan umat Islam terhadap sebagian ulama salaf dari kalangan sahabat dan Tabi’in karena ada banyak dongeng Israiliyyat dinisbatkan kepada kalangan salafus salih seperti; Abu Hurairah Ra. Ketiga, Berpotensi memalingkan manusia dari tujuan al-Quran yang sesungguhnya.

“Inilah akibat Riwayat Israiliyyat terhadap aqidah umat Islam dan juga terhadap kesucian ajaran Islam. Mereka (Yahudi) berusaha untuk mengkikis aqidah dan melemahkan kepercayaan Umat Islam terhadap Al-Quran dan Al-Hadits.” Tegasnya.[]

 

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *