Manusia Bambu

share to

Dulu, semasa saya anak-anak—ya, sekarang pun juga “anak-anak”—pernah bermain tebak-tebakan dengan teman sekolah. Pertanyaannya begini, “Apakah gerangan, sedari kanak-kanak memakai baju, tapi beranjak dewasa, semakin telanjang?”

Saya kebingungan menjawabnya, hingga harus mengibarkan bendera putih, alias menyerah. Tapi, alangkah mengejutkan, saat temanku itu memberi jawaban perkarara enteng: bambu. Ya, benda itu sudah bosan saya lihat.

Kutubut-turâts pernah “mengatakan”, suatu saat nanti, akan ada fase manusia (perilakunya, red) sama seperti binatang. Fakta membenarkan ramalan itu. Bahkan lebih. Sebab, realita yang kita temukan bukan sekedar berperilaku hewan, akan tetapi malah persis benda mati, alias bambu.

Sebagaimana tebak-tebakan di atas, bambu sedari kecil terbungkus rapi. Beranjak dewasa, daun yang menyelimuti bambu itu semakin terbuka, hingga akhirnya telanjang. Begitu pula manusia. Sedari kecil orang tuanya memakaikan baju yang tertutup. Sehingga, mereka terlihat imut. Semakin dewasa malah sedikit demi sedikit pakaian utuh itu mulai “ompong”. Mulai dari membuang kerudung, rok dipotong seukuran lutut, pakaian diperketat sehingga berpakaianpun sama seperti telanjang.

Maka jangan heran jika manusia zaman sekarang lebih hafal mengenai—maaf—paha wanita dari pada paha ayam. Bukankah sangat lucu!

Lebih herannya lagi, wanita yang setengah telanjang itu malah PD dijadikan tontonan khalayak umum. Bahkan dia senang. Di manakah gerangan rasa malu mereka? Bukankah wanita yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki—maaf—kemaluan?!

Ya, sebenarnya kemaluan mereka hilang dibawa “burung”. Ketidaksemangatannya mengamankan tubuhnya cukup dijadikan bukti. Mana mungkin orang yang masih original membiarkan “segel”-nya lepas?

Hal ini tidak serta-merta memfonis mereka sebagai pezinah. Akan tetapi, harapan saya, jadikanlah pedoman ini sebagai catatan yang perlu digarisbawahi. Partanyaan terakhir, apakah Anda mau menikahi gadis yang tidak memiliki kemaluan, eh maksudku, rasa malu?

Muhammad ibnu Romli | sidogiri.net

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *