K.H. A. Nawawi bin Abdul Djalil adalah pengasuh ke-12 Pondok Pesantren Sidogiri, yang memangku amanah kepengasuhan pada tahun 2005 silam, selepas wafatnya kakanda beliau, K.H. Abd. Alim bin Abd. Djalil.
Dalam kiprah dakwahnya, Kiai Nawawi merupakan salah satu deretan ulama akidah yang paling getol dalam membentengi umat Rasulullah dari paham kanan dan kiri, terutama akidah santri dan alumni Pondok Pesantren Sidogiri. Hal itu, dibuktikan dalam buah karya beliau, seperti kitab al-Ma’man Minadh-Dhalalah dan buku “Di Manakah Allah?”, yang merupakan himpunan jawaban-jawaban Kiai Nawawi atas pertanyaan seputar akidah yang masuk dalam meja redaksi Majalah Sidogiri Media.
Sejak masih muda, kiai yang lahir pada tahun 1943 M ini sudah terlihat tanda kewalian dan terdeteksi dianugerahi ilmu laduni. Ketika paman beliau, Kiai Cholil Nawawie mengantarkan Kiai Nawawi muda ke Pesantren Darul Hadits, Malang, Habib Abdul Qodir Bilfaqih, pengasuh pesantren melepas kacamatanya dan langsung memandang Kiai Nawawi. “Anak ini kalaupun tidak mondok, sudah alim, Yai,” tutur Habib Abdul Qadir Bilfaqih kepada Kiai Cholil.
Di kisah lain disebutkan, Kiai Nawawi muda pernah berjamaah di belakang Kiai Abdul Hamid di Masjid Jamik Pasuruan. Layaknya pemuda biasa, Kiai Nawawi muda celetuk dalam hati, “Kok lama banget Kiai Hamid.” Syahdan, setelah rampung shalat, Kiai Hamid mengetahui besitan hati Kiai Nawawi muda dan mengelus dada beliau.
Kiai Nawawi lebih dikenal dalam bidang teologi, dibanding bidang ilmu yang lain. Namun, bukan berarti beliau tidak mahir dalam bidang selainnya. Beliau pernah mengajar kitab Ibnu Aqil dalam bidang Nahwu, kitab Jam’ul-Jawami’ dalam bidang Ushul Fikih, dan kitab al-Iqna’ ala Matni Abi Syuja’ dalam bidang Fikih. Keilmuan beliau sudah tidak perlu diragukan lagi.
Sebagaimana dikutip dalam Majalah Sidogiri Media, Kiai Nawawi mengaku dirinya merasa lebih mudah menjawab soal-soal seputar akidah ketimbang soal-soal seputar fikih. Alasannya, karena menurut beliau, menjawab problem fikih masih perlu mikir (tashawwur).
Itulah sekelumit kisah tentang K.H. A. Nawawi Abd. Djalil yang merupakan cicit dari Sayid Abu Bakar Syata’, penyusun kitab I’anatuth-Thalibin. Semoga bisa menginspirasi dan mendapatkan barakah yang mengalir dari beliau sampai mati. Lahul-Fatihah.
Penulis: Imam Rohimi
Editor: A. Kholil











