Menjadi Penulis Mapan, Ini Caranya

share to

“Menjadi penulis jangan asal menulis, karena tidak semua apa yang ditulis dianggap sebagai tulisan,” ungkap Ustaz Achyat Ahmad ketika mengisi Seminar ‘Insan Pers’ yang diadakan di lantai 2 Ruang Auditorium Kantor Sekretariat pada malam Rabu (11/11).

Ustad Achyat Ahmad sebagai narasumber dalam acara Insan Pers yang diadakan oleh BPP

Bagi seorang penulis, ia harus bisa menyusun hal-hal yang perspektif dan paradigmatis. Dengan artian tahu terhadap apa yang harus mereka bangun dalam pikirannya. Dalam rangka mau berkembang menjadi penulis yang lebih serius atau mapan, maka penulis harus memiliki sudut pandang tersendiri Sebagai landasan. Jika seorang telah memahami landasan itu, mereka akan mulai mengerti bagaimana cara menjadi penulis yang serius. Ada tiga poin yang bisa dipelajari dalam menyusun hal-hal yang perspektif atau paradigmatis;

Memahami bahwa menulis merupakan gabungan teori dan seni;

  • Menyusun kata yang baik
  • Harus didasari dengan seni
  • Terus berlatih menulis
  • Memunculkan karakter yang unik
  • Selalu melihat karya orang lain
  • Membuat tulisan fleksibel

Baca Juga: Penganugerahan Media dan Redaksi Terbaik Semester Pertama 1441-1442 H

Dengan memahami bahwa karya tulis atau tulisan merupakan gabungan antara teori dan seni, maka seorang penulis harus bisa memasukkan nilai seni tersendiri pada tulisannya. Sebagaimana penulis-penulis yang namanya sudah booming. Tak jarang dalam tulisannya, ditemukan berbagai kata asing, bahkan tidak tercantum dalam kamus KBBI. Seperti tulisan Goenawan Muhammad, yang sering memasukkan kosakata Sansekerta dalam pelbagai tulisannya. Hal itu merupakan gabungan teori dan seni serta memiliki karakteristik tersendiri.

Memunculkan suatu yang baru dalam tulisan;

  • Menyelipkan cerita atau pengalaman
  • Memberikan dimensi baru (perspektif baru)
  • Perbanyak membaca
  • Perbanyak berfikir
  • Merangkum karya orang lain

Baca Juga: Desainer Media Sertai Santri Creators Meetup #1

Memunculkan sesuatu yang baru dalam tulisan, akan membuat tulisan itu nampak berbeda dengan yang lain. Jarang penulis memasukkan perspektif baru dalam tulisannya. Kebanyakan mereka meniru gaya orang lain, baik judul, isi maupun penyampaian yang lain. Di Mesir ada sistem penulisan yang baru, dengan menghadirkan judul yang belum pernah ada sebelumnya, minimal dalam kurun waktu lima puluh tahun sekali. Maka tulisan itu menjadi suatu hal yang baru.

Membuat tulisan terkonsep (terstruktur);

  • Mempertimbangkan isi (teori)
  • Memperhitungkan kata yang digunakan
  • Perlu penilaian orang yang ahli

Baca Juga: Posisi dan Potensi Sastra Pesantren

Sebagaimana penulisan dalam kitab Ihya’ Ulumiddin yang susunannya sangat terkonsep. Banyak kalangan ulama atau penulis yang menjadikan kitab tersebut sebagai referensi tata cara menyusun konsep yang mapan. Sebagaimana teks pidato. Dalam berpidato konsep juga harus tersusun, dengan meletakkan pembukaan atau mukadimah di awal penulisan. Kemudian isi, hikmah dan penutup. Sama halnya jika ingin tulisan terkonsep, maka patokan utamanya adalah menyusun isi dari tulisan itu sendiri.

________

Penulis: Nur Hudarrohman

Editor: Saeful Bahri bin Ripit

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *