BeritaUnggulan

Seminar Tarbiyah MMU Aliyah: Takar Relasi Ilmu serta Hadapi Krisis Adab di Era Digital

Pada Selasa (28/07), pimpinan Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Aliyah bersama organisasi murid seperti Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) dan Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) menggelar seminar bertajuk, “Relasi Ilmu Tarbiyah dalam Membangun Generasi Berilmu, Berakhlak, dan Berdaya Saing”.

Tampak suasana seminar ilmiah UKPI dengan peserta santri jurusan Tarbiyah

Bertempat di Aula Gedung Sidogiri Corp, acara yang ditujukan khusus bagi murid Jurusan Tarbiyah Aliyah ini sejatinya menghadirkan al-Habib Assoc. Prof. Dr. Zainal Abidin, M.Pd., CIQaR., CIRK., CE. sebagai narasumber utama. Namun, karena beliau berhalangan hadir, narasumber UKPI kali ini diisi oleh salah satu utusan dari Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah (UII Dalwa), Ustadz Dr. H. Akhmad Sahrandi, M.Pd.I.

Baca juga: Apresiasi Imda I: 34 Murid dan Guru MMU Tsanawiyah Terima Penghargaan

Dalam sambutannya, Ustadz Muhammad Mufid selaku Wakil I MMU Aliyah menegaskan bahwa murid Aliyah, khususnya jurusan Tarbiyah, harus menjadi uswah bagi murid dan santri lainnya. Beliau menceritakan sepak terjang murid jurusan tarbiyah yang pernah menjadi pelopor perkembangan kelompok Semut Ibrahim, yakni gerakan yang berkontribusi dalam program-program kebersihan di lingkungan pesantren maupun madrasah.

Ustadz Mufid juga mengingatkan bahwa seorang santri tidak boleh cepat merasa puas dalam belajar. Menurut beliau, apabila seorang santri merasa ilmunya sudah cukup hingga enggan untuk terus menambahnya, maka pada hakikatnya ia telah menjadi penuntut ilmu yang gagal.

Potret Dr. Sahrandi dengan moderator seminar yang sedang menyiapkan materi dari al-Habib Assoc. Prof. Dr. Zainal Abidin, M.Pd., CIQaR., CIRK., CE.

Memasuki sesi penyampaian materi, Dr. Sahrandi hadir dengan membawakan susunan materi yang telah disiapkan oleh al-Habib Zainal jauh-jauh hari. Di awal pemaparannya, Dosen Fakultas Tarbiyah Studi Pendidikan Agama tersebut menjelaskan bahwa cakupan ilmu tarbiyah sangatlah luas. Beliau berkisah tentang pengalamannya saat menjabat sebagai PNS dan P3K di Kementerian Agama (Kemenag), yang mana saat itu beliau juga berstatus sebagai mahasiswa sekaligus santri jurusan tarbiyah.

“Hal ini menunjukkan bahwa kalian yang telah memilih studi di jurusan tarbiyah tidak perlu berkecil hati. Ilmu tarbiyah ini sangat fleksibel dan bisa diterapkan di mana saja, bahkan ketika menjadi seorang pegawai sekali pun,” ungkap beliau dihadapan para peserta.

Baca juga: Fikih Safar dan Ubudiyah, Kursus Penutup Semester Ganjil Bekali Santri Hadapi Masyarakat

Melanjutkan materi dari al-Habib Zainal, beliau memaparkan bahwa untuk membangun generasi yang berilmu dan berwawasan, diperlukan dua fondasi utama. Pertama, integrasi epistemologis, di mana setiap proses pendidikan yang berfokus pada pembentukan adab, akhlak mulia, tata krama, dan pengenalan nilai moral (ta’dib) serta pengajaran ilmu agama (ta’lim) harus terintegrasi secara utuh dan memiliki ikatan yang kuat.

Kedua, formasi intelektual untuk membentuk generasi yang berilmu dan beradab. Mengenai hal ini, Dr. Sahrandi memberikan gambaran tentang krisis media sosial saat ini yang kerap menyerang oknum-oknum pesantren secara terang-terangan. Apabila ada oknum pesantren, baik kiai maupun santri, melakukan kesalahan kecil, pihak-pihak yang sinis terhadap pesantren akan mempublikasikannya secara membabi buta.

“Dominasi media oleh oknum Barat menjadi kebobolan kontrol bagi umat Islam, sehingga kemerosotan adab di kalangan umat Islam kerap dibesar-besarkan daripada kebobrokan serta krisis adab yang sebenarnya terjadi di Barat,” tegas beliau.

Baca juga: Dikenang sebagai Permata Mulia, Sidogiri Gelar Tahlil Tujuh Hari Almaghfurlaha Nyai Hj. Lu’lu’ul Mukarromah

Menyambung fenomena tersebut, beliau menganalisis konsep Loss of Adab (hilangnya adab) yang digagas oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Risikonya, Loss of Adab ini akan memicu Loss of Discipline (hilangnya kedisiplinan). Hilangnya adab ini menjadi krisis nyata di zaman sekarang, yang berdampak langsung pada merosotnya kedisiplinan dalam menuntut ilmu.

Sebagai solusinya, beliau menyinggung teori al-Ghazali yang menempatkan ilmu agama sebagai ilmu primer atau utama dibanding ilmu-ilmu lainnya, sebagaimana dalam konsep restorasi Fardhu ‘Ain dan Fardhu Kifayah.

Tidak hanya itu, Dr. Sahrandi juga membagikan pengalaman rekam jejak dakwah intelektualnya saat bertugas di sebuah SMK yang mayoritas menganut pemikiran Al-Irsyad atau berhaluan Muhammadiyah atau Wahabi. Meski terdapat perbedaan pandangan, beliau dapat diterima dengan baik di lembaga tersebut. Beliau menekankan bahwa dakwah tidak melulu harus dilakukan dari luar secara terang-terangan.

“Jika kita hanya mengandalkan dakwah dari luar atau frontal, akan terus bermunculan dalil-dalil yang menyanggah kita. Lain halnya dengan dakwah dari dalam, kita dapat menggiring mereka secara perlahan menuju ajaran Ahlusunah wal Jamaah,” jelas beliau.

Pembagian cendera mata oleh Ustadz Abdul Qodir Husni yang sekaligus selaku Kepala Kuliah Syariah

Guna memberikan motivasi, Dr. Sahrandi turut menceritakan perjalanan hidupnya dalam menuntut ilmu hingga berhasil meraih gelar doktor (S3) dengan bermodalkan fasilitas pas-pasan, tetapi diiringi tekad yang kuat. Beliau meyakini bahwa ketika seseorang memiliki kemauan yang gigih dalam menuntut ilmu, Allah akan memberikan kemudahan dan membukakan jalan menuju puncaknya.

Pada intinya, beliau menekankan bahwa ilmu, adab, dan aspek spiritual harus sama-sama didominasi, di mana adab harus ditempatkan pada kedudukan paling tinggi karena adab adalah segalanya. Untuk mencapai hal tersebut, ada tahapan proses yang harus dilalui, mulai dari kewajiban terus belajar sebagai mahasiswa, melakukan penelitian, hingga akhirnya bersosialisasi dan berkontribusi di tengah masyarakat.

Foto narasumber bersama pimpinan MMU Aliyah beserta moderator seminar UKPI

Sebelum acara resmi ditutup, panitia membuka sesi dialog interaktif serta dilanjut dengan pembacaan doa oleh narasumber.

Penulis: Nijaful Ali
Editor: Elmaghroby

Shares:
Show Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *