Usai menutup kajian semester I sekaligus pembagian hadiah pada tanggal 4 Agustus 2026 lalu, kini Annajah Center Sidogiri (ACS) kembali menggelar pembukaan kegiatan kajian ACS semester II yang dikemas dengan acara seminar bertema, “Islam Vis a Vis Ateisme”, pada Jumat malam (04/09). Kegiatan yang berlokasi di ruang Auditorium Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri ini diikuti oleh seluruh anggota kajian ACS dari berbagai tingkatan.
Pada kesempatan tersebut, ACS menghadirkan Ustadz Moh. Yasir, sebagai pemateri. Melalui materi yang dibuatnya dalam waktu singkat, Ustadz Moh. Yasir memaparkan jumlah perkiraan ateisme di Indonesia mencapai angka 1.752 orang, dengan 1.152 merupakan lulusan universitas. Kendati demikian, beliau meyakini bahwa jumlah mereka jauh lebih banyak daripada angka-angka yang tertera secara statistik.
“Melihat akun-akun media sosial pentolan ateisme dan ideologi sejenisnya, maka jumlah ateisme jauh lebih besar daripada yang tertera pada data statistik” tulisnya dalam materi seminar.
Untuk memperkenalkan ateisme melalui corak pemikiran dan argumentasinya, Editor Sidogiri Media ini kemudian membagi ateisme menjadi dua; ateisme teoritis dan ateisme praktis. Ateisme teoritis adalah orang ateis yang berlandaskan pada argumentasi filosofis dan pemikiran yang berbeda-beda. Jumlah mereka diperkirakan lebih banyak daripada ateisme praktis. Sementara itu, ateisme praktis atau bisa disebut dengan apatisme tidak membutuhkan argumentasi spesifik karena hanya sebatas pengabaian terhadap keberadaan Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
“Ateisme teoritis tidak hanya menentang keras keberadaan Tuhan, tetapi kelompok ini juga memiliki argumentasi yang menurutnya memperkuat ide dan pemikiran mereka, sedangkan ateisme praktis sebaliknya,” tuturnya.
Beliau meneruskan pembahasan ini menuju agnostisisme. Kelompok serupa yang berpandangan bahwa entitas Tuhan tidak diketahui, dan tidak dapat ditemukan oleh manusia. Pada dasarnya, kelompok ini tidak menyatakan percaya maupun tidak percaya akan keberadaan Tuhan. Berbeda dengan ateisme yang secara tegas dan lugas menyatakan bahwa tuhan tidak ada.
“Agnostisisme menyatakan bahwa pengetahuan pasti mengenai Tuhan atau realitas ilahi tidak tersedia bagi akal manusia. Orang yang menganut atau mengidentifikasi diri dengan pandangan ini disebut agnostik,” ungkapnya.
Bertolak dari diskusi tersebut, beliau menegaskan bahwa masyarakat awam yang masih kental dengan tradisi kejawen, tidaklah termasuk ateisme. Menurut tinjauannya, masyarakat seperti itu masih percaya dan yakin akan keberadaan Tuhan.
“Masyarakat awam, kendati mereka jarang terlihat beribadah. Atau orang-orang kriminal di kalangan mereka, masih tidak bisa dikatakan sebagai ateisme, karena mereka masih percaya dengan keberadaan Tuhan. Bahkan ada anekdot yang menceritakan sebelum mencuri membaca bismillah terlebih dahulu,” jelasnya.
Dalam seminar berdurasi sekitar dua jam ini, salah satu dewan pakar Annajah Center Sidogiri tersebut menawarkan formula untuk membendung arus paham ateisme yang merebak di berbagai penjuru. Beliau mengatakan bahwa santri harus mampu mengentaskan bahaya dan pengaruh ateisme.
“Kenali medan tempur opini. Ketahui sejauh mana kesesatan pemikiran mereka melalui pengamatan perdebatan seputar filsafat dan akidah. Kemudian setelah itu, dalami ilmu barat untuk menemukan titik lemahnya meliputi sejarah, metodologi, dan karakternya. Sebagaimana mereka mengkaji Islam, dengan tujuan merusak Islam dari dalam. Maka kita harus melakukan serangan-serangan balasan,” pungkasnya.
Melalui seminar ini, pengurus ACS berharap agar seluruh anggota kajian ACS mampu menahan arus bahaya pengaruh ateisme yang berpotensi merusak kepercayaan umat muslim terhadap agamanya sendiri. Selain itu, pada semester II ini, anggota kajian diharapkan kembali bersemangat mengikuti kegiatan kajian yang akan diselenggarakan kembali sebagaimana semula.
Penulis: Syahrul Maulana
Editor: Elmaghroby












