Mencari Sahabat Yang Tepat

share to

Salah satu makhluk yang ditakdirkan untuk selalu membangun jaringan dan berkoloni adalah manusia. Maka, kita lihat, sangat sulit bagi mereka untuk bisa hidup sendiri tanpa seorang teman. Watak manusia yang perlu adannya perubahan dan cepat jenuh dengan keadaan yang itu-itu saja, sepertinya menjadi faktor utama akan kebutuhan untuk membangun pertemanan. Ditambah lagi rasa saling bahu-membahu, batu-membantu, menyebabkan hubungan bertambah menyenangkan: bila kita kerepotan, kemudian datanglah bantuan atau jasa yang sangat kita dibutuhkan.

Namun, kenyataannya, hubungan pertemanan tak selalu mendatangkan kebaikan. Kecendrungan manusia untuk cepat terpengaruh dapat menjadi fatal bila seseorang berteman dengan orang lain yang tidak dapat menanamkan benih-benih prinsip kehidupan yang bagus dan lurus. Justru, sangat mungkin seorang teman akan menjadi bumerang bagi diri sendiri: Datang bukan untuk menciptakan ketenangan, malah untuk membahayakan.

Bisa jadi, dari sinilah kemudian agama ikut-andil untuk memperbaiki hubungan yang berantakan, sehingga ia mempunyai teman yang dapat menumbuhkan rasa takwa dan memotivasi temannya untuk selalu mengindahkan aturan-aturan dalam agama.

Dalam Islam, hubungan pertemanan telah diatur sedemikian rapi, hingga bisa kita lihat, di sana ada tatakrama kepada teman, kepada siapa kita mesti menjalin hubungan, dan apa saja hak-hak yang harus kita penuhi dari seorang teman.

Namun, karena space yang tak memungkinkan, kami tidak akan mengulas secara tuntas aturan-aturan di atas. Kami lebih tertarik untuk membahas tentang seseorang yang layak untuk dilirik dan pantas kita pilih menjadi teman. Sebab, kami melihat masalah inilah yang sangat prinsip, mengingat kesalahan seseorang dalam memilih teman dapat menyebabkan urusan agama menjadi terlalaikan.

Setidaknya, ada lima poin yang mesti kita cari dari kepribadian seseorang, hingga kita benar-benar yakin bahwa dia memang pantas untuk kita jadikan sebagai lahan hubungan.

Pertama, Pandai. Sangat penting bagi kita untuk mencari teman seorang yang pintar. Sebab, dengannya kita dapat saling sharing dan bertukar pendapat. Selain juga bisa memberikan masukan ketika kita dilanda kesulitan. Berbeda dengan orang bodoh, berteman dengan mereka hanya menghabiskan waktu saja. Tak ada manfaat yang dapat kita petik dari mereka. Paling tidak, mereka yang bodoh hanya akan ada disamping kepulan asap kopi, saat rokok yang disulut tak kunjung mati.

Kedua, Saleh. Berteman dengan mereka dapat menumbuhkan semangat kita beribadah. Ketika kita melihat mereka sedang malakukan ibadah, secara naluri manusia, lambat laun kita juga akan terobsesi untuk meniru kebiasaan itu. Sebaliknya, ketika kita berteman dengan orang fasik yang rutin melakukan maksiat, kita akan cenderung malas dan merasa ogah untuk hanya memikirkan nasib kita nanti di hari pembangkitan. Semua itu tidak mengherankan, karena melihat perbuatan maksiat saja, sudah dapat menyebabkan hati kita kotor dan sulit untuk melakukan aktifitas penghambaan.

Ketiga, Berakhlak Mulia. Jika kita berteman dengan orang yang tidak bermoral maka biasanya pamor kita juga ikut jelek di mata orang lain. Itu sudah keniscayaan. Sebab, kebiasaan manusia dalam menilai seseorang, tidak melihat siapa dia sebenarnya, namun terlebih dahulu melihat dengan siapa dia berteman. Ini seperti yang banyak kita ketahui dari kitab-kitab moral yang pernah kita pelajari.

Keempat:, Tak menghiraukan dunia. Dengan berteman dengan mereka maka kita juga akan mudah ‘mencerai’ dunia. Dengan demikian, ketika melakukan ibadah, konsentrasi kita akan bisa sangat fokus dan tidak akan terganggu. Apalagi dunia itu adalah akar dari segala macam kekeliruan. Contoh yang paling pas untuk orang yang sangat tidak suka dunia barangkali adalah Sayidina Ali. Bisa dicari sendiri.

Kelima, Jujur. Berteman dengan mereka benar-benar menyenangkan. Selain dapat kita percaya, juga dapat memudahkan kita yang suka berbohong, untuk melakukan introspeksi diri guna kemudian melakukan pembenahan. Sebab, mereka tak akan membenarkan kesalahan kita dan menyalahkan kebenaran kita.

intinya, dalam memilih teman, kita harus memilih mereka yang dapat menjadi “makanan” bagi diri kita. Yaitu, teman kita harus dapat mensuplai kita untuk senantiasa beribadah dan bertakwa kepada Allah.

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net