Hati-Hati Dengan Selfie?

share to

Hati-Hati Dengan Selfie?

Sumber: https://www.google.co.id/search?q=foto+grafer

 

 

 

 

Foto dalam genre selfie sebenarnya sudah mendahului penggunaan istilahnya sejak berpuluh-puluh tahun yang dulu. Teknis untuk mengasilkan foto diri sendiri itu juga berbeda-beda. Ada Robert Cornelius, seorang perintis dalam fotografi dari Amerika yang menghasilka

n Daguerreotype dirinya pada tahun 1839, ada Rusia Grand Duchess Anastasia Nikolaevna remaja 13 tahun yang memanfaatkan cermin pada tahun 1914. Selfie, istilahnya pula muncul pertama kali di forum internet Australia pada tanggal 13 September 2002. Istilah “selfie” dibahas lagi oleh fotografer Jim Krause pada tahun 2005.

Tujuan selfie mungkin suatu solusi bagi fotografer agar bisa foto bersama orang-orang terdekat kita. Sekaligus memudahkan fotografer memotret foto selfie tanpa menggunakan teknis seperti self-timer.  Selfie juga membuatkan segalanya jelas dalam waktu yang singkat. Lebih mudah menafsirkan apa yang dimaksudkan dibandingkan SMS dan lainnay seperti Whatsup, Whecat, BBM dan Twitter.

Cukup menggunakan kamera depan smartphone atau didukung tongkat selfie untuk memperluas sudut pandang. Kebanyakan selfie mania  memaksudkan selfie memang untuk menyanjung diri, terutamanya fotografer yang mengharapkan pendukung pada hasil jepretan fotonya. Selfie juga didorong oleh daya tarik narsis yang awalnya bertujuan untuk mengabadikan setiap momen yang dilakukan sehari-hari antara keluarga, teman-teman dan lain-lain. Selfie digandeng narsis pasti menimbulkan kesombongan dan riya’ yang membuatkan hasil foto itu sia-sia

Namun sebuah studi mengenai Facebook pada 2013 menemukan bahwa posting foto-foto diri  menunjukkan selfie itu juga minim bersosial dan mengurangkan keintiman dengan teman-teman. Posting selfie yang semakin umum pada tahun 2010-an dengan bermacam-macam sudut selfie yang bermacam-macam.

Bahkan ada yang lebih parah daripada sombong, trend selfie digambarkan oleh seorang Sosiolog, Ben Agger sebagai ‘virus pandangan laki-laki’. Profesor Gail Daines mengatakan bahwa selfie adalah ‘budaya porno’ dan peluang seksual paling tinggi bagi wanita agar bisa membuat dirinya terlihat. Sehingga ada juga kasus balas dendam porno di mana mantan kekasih posting foto seksual eksplisit atau narsis telanjang untuk membalas dendam atau mempermalukan mantan kekasih mereka menggunakan foto selfie simpanannya.

Memang susah dimengerti apabila ada yang selfie di tempat atau momen yang tidak terjangkau yang penghujungnya  nanti berakibat fatal. Contoh pada tahun 2015 dilaporkan banyak yang telah tewas karena selfie bersama hiu. Jatuh karena tidak seimbang di posisi bahaya dan banyak lagi. Lain lagi kejadian pada April 2014, seorang pria didiagnosis dengan gangguan dismorfik tubuh diceritakan menghabiskan sepuluh jam sehari mencoba untuk mengambil gambar selfie, setelah itu dia mencoba bunuh diri setelah gagal untuk menghasilkan apa yang dianggap menjadi selfie yang sempurna.

Sebaiknya Selfie dijadikan wadah untuk menjelaskan segala yang dimaksud tanpa kata-kata. Bukan dijadikan persaingan untuk memburu selfie paling fantastis yang mengharapkan apresiasi orang lain terhadap kreatifitas fotografer. Bisa saja selfie di luar angkasa, gunung, laut dan atas pohon. Tidak salah juga selfie dalam momen atau bersama orang-orang yang yang diinginkan. Tapi, segalanya harus sesuai dengan peraturan yang ditetapkan Allah SWT dan tidak memberi kesan yang buruk pada diri sendiri.[]

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Chat WA dengan kami