Ust. Moh. Achyat Ahmad: Kufur Terhadap Ghaibiyat Merusak Akidah

share to

Ust. Moh. Achyat Ahmad: beliau adalah koordinator ACS, redaktur Sidogiri Media dan salah satu staf pengajar Madrasah Aliyah.

Sebagai mana yang telah dijadwalkan, pada malam Sabtu (23/08) peserta ACS semester satu mengikuti mentoring yang bertempat di ruang istirahat guru, lantai dasar mabna al-Ghazali. Pemateri pada mentoring kali ini adalah Ust. Moh. Achyat Ahmat, Dewan Pakar dan Koordinator ACS. Mentoring yang berlangsung mulai dari jam 09:00 sampai 10:20 Wis ini membahas tentang Ghaibiyat dalam konteks akidah Ahlusunah wal Jama’ah.

“Al-Ghaibiyat termasuk salah satu pembagian akidah jika dilakukan secara global.” Papar beliau mengawali pembahasan. Dalam kitab Kubrol-Yaqiniyat, Syekh al-Buthi  menjelaskan, hal agung yang harus diyakini oleh umat Islam ada empat:  1. Ilahiyat 2. Nubuwat 3. Kauniyat (akidah yang berhubungan dengan perkara yang diciptakan Allah) 4. Ghaibiyat.

“Yang dimaksud Ghaibiyat dalam pembahasan kita (akidah. Red), adalah segala sesuatu atau unsur keimanan yang tidak bisa kita ketahui kecuali dari informasi yang meyakinkan (al-Quran dan Hadis. Red).” Jelas beliau. Hal ini tentu berbeda dengan Ghaibiyat yang dimaksud dalam al-Quran, Ghaibiyat dalam al-Quran  adalah setiap sesuatu yang ghaib dari panca indra, termasuk iman kepada Allah dan Malaikat. Sedangkan dalam ranah akidah, iman kepada Allah tidak termasuk Ghaibiyat, karena keberadaan Allah itu diketahui melalui akal dan nadzar (berfikir).  Jadi Gaibiyat dalam akidah berbeda dengan Ghaibiyat dalam al-Quran.

Ghaibiyat dalam akidah menurut Syekh al-Buti terbagi menjadi tiga: 1. Yang berkaitan dengan kematian seperti siksa kubur dan lainnya. 2. Tanda-tanda hari kiamat 3. Proses terjadinya hari kiamat.

“Lantas bagaimana kita kita menggunakan metodologi ilmiyah untuk meyakini Ghaibiyat, kenapa kita wajib meyakininya dan bagaimana cara kita menalarnya?”. Menurut penjelasan  beliau, alasan kenapa kita harus meyakini Ghaibiyat yang pertama adalah, karena informasi itu muncul dari yang ahli dalam bidangnya.  Kedua. Karena kita yakin bahwa yang datang dari badan otoritatif tidak perlu ditakwil dan tidak mengandung kebohongan.

Sedangkan untuk menalarnya, beliau mencontohkan, “Ada dokter spesialis terkenal, suatu ketika kita konsultasi pada dokter itu, kemudian dokter itu mengatakan ‘Air di dalam botol ini mengandung zat-zat yang bila diminum dapat terkena penyakit tertentu’. Ini adalah contoh adalah informasi yang datang dari badan otoritatif yang pasti kita percaya.”. jadi sudah barang tentu kita tidak akan menyangkal apa yang dikatakan oleh dokter itu, karena informasi yang kita dapatkan datang dari yang ahli dalam bidangnya, buktinya kita tidak akan mau jika diminta untuk meminum air itu, karena menurut panjelasan dokter, air itu mengandung racun.

Namun, sebelum memahami atau meyakini Ghaibiyat kita wajib yang terhadap Uluhiyat dan Nubuwat, karena tidak mungkin meyakini Ghaibiyat jika tidak meyakini Uluhiyat dan Nubuwat. Bahkan, menurut Syekh al-Buthi tidak mungkin, jika ada orang islam yang inkar pada Ghaibiyat. Karena jika ia mengaku beriman kepada Allah, tapi tidak iman pada Ghaibiyat, berarti ia tidak beriman pada Ilahiyat dan Nubuwat. Meskipun ia menduga bahwa ia beriman, menurut Syekh al-Buthi ia tidak dikatakan beriman, karena keduanya adalah satu paket, artinya setiap sesuatu yang datang dari Allah harus diyakini.

Selain itu Ghaibiyat ini sangat penting untuk di pelajari, karena salah satu cara yang paling ampuh untuk merusak akidah umat Islam adalah dengan merusak melalui al-Gaibiyat.

______

Penulis: Kanzul Hikam

Editor: Saeful Bahri bin Ripit

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *