Lumpuh, Akibat Tidak Berdiri Saat Maulid

share to

Foto Sayyid Abbas bin Abd. Aziz al-Maliki

Ada sebuah kisah unik dari Sayyid Abbas al-Maliki. Cerita ini dikutip dari kitab al-Hadyut-Tâm fî Mawâridil-Maulidin-Nabawiy, karya Sayyid Muhamad Ali bin Husain al-Maliki. Kurang lebihnya begini:

Sayyid Muhammad Ali bin Husain al-Maliki

حَكَى السَّيِّدُ عَلَوِي اَلْمَالِكِيُّ أَنَّ وَالِدَهُ اَلْمَرْحُوْمَ السَّيِّدَ عَبَّاسْ اَلْمَالِكِيَّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ حَضَرَ فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ اِحْتِفَالًا نَبَوِيًّا لَيْلَةَ عِيْدِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ

Sayyid Alawi berkisah perihal ayahnya, Sayyid Abbas al-Maliki RA yang sedang menghadiri acara maulid di Baitul Maqdis, saat malam kelahiran nabi.

تُلِيَ فِيْهِ مَوْلِدُ الْبَرْزَنْجِيِّ فَإِذَا رَجٌلٌ أَشْيَبُ قَامَ بِغَايَةِ الْأَدَبِ مِنْ أَوَّلِ الْمَوْلِدِ إِلَى نِهَايَتِهِ

Saat itu, yang dibaca ialah Maulid Barzanji. Di sana, beliau menjumpai lelaki tua berdiri dengan sangat khidmat dari awal dibacakan maulid, sampai selesai.

وَأَفَادَهُ لَمَّا سَأَلَهُ عَنْ سَبَبِ وُقُوْفِهِ مَعَ كِبَرِ سِنِّهِ بِأَنَّه كَانَ لَا يَقُوْمُ عِنْدَ ذِكْرِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ بِدْعَةٌ سَيِّئَةٌ

Sayyid Alawi al-Maliki. Putra Sayyid Abbas al-Maliki.

Usai ditanya mengapa ia berdiri sedemikian rupa, padahal usianya sudah sepuh, ia menjawab bahwa ia pernah tidak mau berdiri saat maulid. Menurutnya, maulid itu bidah yang jelek.

فَرَأَى فِيْ نَوْمِهِ أَنَّهُ مَعَ جَمَاعَةٍ مُتَهَيِّئِيْنَ لِاسْتِقْبَالِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا طَلَعَ لَهُمْ بَدْرُ مُحَيَّاهُ وَنَهَضَ الْجَمِيْعُ لِاسْتِقْبَالِهِ لَمْ يَسْتَطِعْ هُوَ الْقِيَامَ لِذَلِكَ

Lalu, ia bermimpi dia bersama jemaah bersiap-siap untuk menjumpai Rasulullah. Saat beliau rawuh, jemaah tadi berdiri untuk menyambut nabi, sedangkan ia tidak mampu berdiri.

Halaman awal Maulid al-Barzanji

وَقَالَ لَهُ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ لَا تَسْتَطِيْعُ الْقِيَامَ فَمَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَهُوَ مُقْعَدٌ

Rasulullah berujar kepadanya, “Kamu tidak akan bisa berdiri”. Saat terbangun dari tidurnya, dia hanya bisa duduk (tidak bisa berdiri).

وَبَقِيَ عَلَى هَذَا الْحَالِ عَامًا فَنَذَرَ إِنْ شَفَاهُ اللهُ مِنْ مَرَضِهِ هَذَا يَقُوْمُ مِنْ أَوَّلِ قِرَاءَةِ الْمَوْلِدِ إِلَى غَايَتِهِ نِهَايَتِهِ

Penderitaan itu berlanjut sampai setahun lamanya. Dia nazar, “Bila Allah menyembuhkan penyakitku ini, saya akan berdiri dari awal maulid hingga selesai.

فَعَافَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا بِوَفَاءِ نَذْرِهِ تَعْظِيْمًا لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Saat bangun dari tidurnya, pria itu tidak bisa berdiri, selama setahun.

Kemudian Allah menyembuhkannya. Ia pun menepati nazarnya dengan senantiasa berdiri saat maulid, sebagai penghormatan kepada Rasulullah SAW.

Semoga bermanfaat!

Muhammad ibnu Romli/Sidogiri.Net

Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini!

Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya, ya!

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *