KH. Abdul Adzim bin Oerip (Bagian I)

share to
KH. Abdul Adzim bin Oerip
KH. Abdul Adzim bin Oerip

Wali yang salamnya Dijawab oleh Nabi

Mengangkat biografi kehidupan KH. Abd. Adzim, ternyata tidak mudah. Disamping rentang masa yang cukup jauh, cerita-cerita tentang beliau kadang simpang siur informasinya. Sebab menjalar dari mulut ke mulut, sehingga terjadilah penambahan ataupun perubahan tanpa disadari. Maka inilah hasilnya.

Sekitar tahun 1879 M, lahirlah bayi mungil dari pasangan KH. Abdul Hayyi -atau yang dikenal dengan nama Kiai Oeripdengan Nyai Munawwarah binti KH. Noerhasan, adik KH. Nawawie bin Noerhasan Sidogiri. Bayi itu lahir di Sladi, Kejayan, Pasuruan. Kemudian dikarenakan berselisih pendapat dalam menentukan nama bayi tersebut, kedua orang tuanya berpisah. Kiai Oerip ingin nama “Sibawaih” untuk putranya, sedang Nyai Munawwarah ingin memberi nama “Abdul Adzim”. Akibat perbedaan itu tidak menemukan jalan tengah, terjadilah firaq antara keduanya. Pada akhirnya, jadilah bayi itu diberi namaAbdul Adzim. Ternyata nama Abd. Adzim bukanlah sembarang nama, hingga Nyai Munawwarah rela bercerai demi mempertahankan nama itu untuk putra pertamanya.

Lalu Kiai Oerip menikah lagi, begitu pula Nyai Munawwarah. Sehingga KH. Abd. Adzim tidak punya saudara seayah kandung. Dari jalur ayah, beliau mempunyai tiga saudari. Yaitu Nyai Husnah, Nyai Cholilah/Nyai Ramlah, dan Nyai Lathifah. Sedangkan dari ibunya, beliau mempunyai tiga saudari, yakni Nyai Husnah, Nyai Sufayyah, dan Nyai Haniah. Kalau diteliti lebih lanjut, nasab KH. Abd. Adzim dari jalur ayah sampai pada Mbah Arif Segoropuro, adik Mbah Sayid Sulaiman. Sedang nasab dari jalur ibu, keturunan Mbah Sayid Sulaiman, pembabat Sidogiri.

Beliau hidup dan besar di lingkungan pesantren di Sladi sebelum hijrah ke Sidogiri. Namun ada yang mengatakan, beliau ikut KH. Nawawie sejak kecil. Semasa kecil, beliau bergaul dan bermain layaknya anak-anak sebayanya, hanya sejak kecil sudah tampak bahwa beliau kelak akan menjadi seorang tokoh yang disegani. Pada masa usia belianya banyak kejadian aneh yang beliau alami. Suatu peristiwa unik terjadi ketika beliau menginjak usia remaja, saat itu beliau masih berumur sekitar 15 tahun. Sladi waktu itu orang-orangnya terkenal mempunyai ilmu kanuragan. Sehingga ada serdadu Belanda yang penasaran, dia datang ke sana dan bertanya kepada KH. Abd. Adzim yang sedang bersama Mbah Syaikh, kata orang Belanda itu, “Apa benar disini tempatnya orang sakti?” dengan rendah hati KH. Abd. Adzim mengatakan kalau orang sakti tidak ada, yang ada hanya gurauan. Lantas beliau mempraktekkan gurauan itu dengan Mbah Syaikh, dengan cara bergantian menggendong dari barat ke timur tiga kali, dengan jarak yang sudah ditentukan. Setelah itu, beliau menantang serdadu Belanda untuk melakukan hal serupa. Serdadu itu mengiyakan saja, karena dilihatnya Abd. Adzim kecil dan kurus. Serdadu itu minta digendong lebih dahulu. Maka dia digendong sekali putaran dari jarak yang sudah ditentukan, tapi Abd. Adzim muda tidak tampak kelelahan.

“Kali ini giliran saya”, kata beliau. Ketika beliau naik ke punggung serdadu Belanda yang besar dan kekar, serdadu itu tidak bisa melangkahkan kakinya, malah sedikit demi sedikit kakinya terbenam ke dalam tanah. Semakin bergerak, kakinya semakin terbenam. Bahkan serdadu itu terbenam ke dalam tanah hingga dadanya. Akhirnya, kata Abd. Adzim muda “Ini lho, gurauannya orang pesantren!”.

Abd. Adzim muda belajar pada ayahnya sendiri, Kiai Oerip. Beliau juga belajar pada pamannya, KH. Nawawie di Sidogiri. Kemudian beliau mondok di Mekah selama kurang lebih 13 tahun, beguru pada Syekh Abbas. Namun ada yang mengatakan, beliau di sana hanya 5 tahun. Menurut versi yang lain lagi, beliau di Mekah selama 14 tahun. Yakni, setelah 11 tahun di sana, beliau pulang ke tanah air. Kemudian beliau kembali lagi ke Mekah selama 3 tahun, lantaran tidak bisa menjawab pertanyaan abahnya.

Semasa beliau berada di Mekah, suatu ketika kota itu tertimpa paceklik. Akhirnya, karena tidak menemukan sesuatu yang bisa dimakan, beliau mengambil sapu tangan, lalu dicelupkan ke air zamzam. Kemudian beliau meminum air hasil perasan sapu tangan itu. Hal itu berlangsung sampai beberapa hari. Kiai Abd. Adzim berada di Mekah, konon sampai menjadi mushahhih. Banyak mualif kitab yang menashihkan kitabnya kepada beliau.

Sebelum mondok di Mekah, Kiai Abd. Adzim sudah bertunangan dengan sepupunya sendiri. Namun ternyata Allah SWT. berkehendak lain, pertunangan itu putus di tengah jalan.

Akhirnya, sepulang dari Mekah beliau diambil menantu KH. Nawawie bin Noerhasan Sidogiri. Beliau menikah dengan Nyai Fatimah, putri sulung KH. Nawawie dari istri pertama, yaitu Nyai Ru’yanah. Nyai Fatimah juga sepupu beliau.  

KH. Nawawie mengambil menantu beliau karena termasuk keponakannya sendiri. Lagi pula ada yang mengatakan, karena beliau ikut KH. Nawawie sejak kecil, sehingga Kiai Nawawie tahu betul bagaimana kepribadian beliau. Sejak muda beliau sudah dikenal dengan kepribadian Tasawuf, khusyuk, takzim,serta taat pada gurunya. Disamping itu beliau juga tekun dalam belajar dan aktif dalam segala hal yang berhubungan dengan ilmu. Tak heran KH. Nawawie memilih beliau sebagai menantu pertamanya. 

Sosok Sufi yang Suka Bekerja Sendiri  

Khusyuk, tawaduk, dan istikamahadalah sifat yang sangat menonjol dalam kepribadian Kiai Abd. Adzim. Wara’ dan zuhudsudah tertanam pada diri beliau sejak masa mudanya. Beliau adalah sosok yang istikamah, bahkan tidak ada satupun perbuatan baik yang beliau kerjakan tanpa disertai dengan keistikamahan, seperti salat berjamaah. Beliau juga senang berpuasa pada hari Senin dan Kamis. 

Selain sebagai sosok wara’, Kiai Abd. Adzim juga seorang figur low profile (khumul), sehingga kehidupan sehari-harinya sangat sulit diketahui, kecuali oleh orang-orang dekatnya. Beliau selalu ada di dalam kamar khususnya (Surau G), kecuali waktu salat atau berketepatan ada undangan. Dan jarang sekali masuk ke dalemnya, kecuali bila ada keperluan mendesak seperti tamu. Beliau sangat jarang berbicara, kecuali pembicaraan yang berguna atau memang diminta untuk berbicara. Beliau lebih suka diam. Namun kalau sudah berbicara, maka pembicaraannya menjadi pusat perhatian dan petuahnya banyak diikuti orang. Pernah terjadi perselisihan dalam masalah arah kiblat Masjid Jami’ Pasuruan. Perselisihan itu berawal dari perkataan seorang ahli Falak asal Bangil, bahwa posisi masjid jami’ tidak lurus ke Kakbah, sampai-sampai dia tidak mau salat Jumat di situ. Akhirnya Kiai Abd. Adzim didatangkan dan beliau berkata, “Ini sudah lurus ke Kakbah. Kalau tidak percaya, beli benang, luruskan sendiri. Ini sudah lurus.” Maka kata ahli falak tersebut, “Karena Kiai Abd. Adzim yang bilang, saya percaya.” Selesailah perselisihan.  

Sebagai sosok pribadi sufi, Kiai Abd. Adzim orangnya sederhana. Pernah ada cucu kesayangan beliau yang biasanya minta apa saja dituruti, suatu ketika dia minta arloji dari Kiai. Kali ini Kiai memarahinya, “Buat apa arloji? Riya’, iku riya’!!.” Pada waktu itu arloji masih merupakan barang mewah, sehingga kalau orang memakainya biasanya dibuat gaya-gayaan. 

Dalam kaitannya dengan interaksi sosial, beliau mempunyai prinsip “Sayyidul-qaumi khâdimuhum” (Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka). Tidak pernah memerintah, bahkan seakan-akan ingin diperintah. Terbukti beliau sendiri yang memukul bel masuk sekolah dan kegiatan lain. Beliau juga yang menabuh beduk jika waktu salat telah tiba. Hal ini belau kerjakan agar menjadi contoh pada yang lain. 

Kendati demikian, beliau sangat disegani masyarakat.  Beliau suka bergurau dengan mereka dan selalu menghadiri undangannya. Biasanya, ketika dalam majlis ada yang melakukan ghibah, disitulah beliau berkelakar untuk memalingkan mereka dari pekerjaan ngerasani. Hal itu beliau lakukan hanya untuk menyelamatkan majlis dari ghibah. Ketika sudah menginjak usia senja, beliau jarang pergi menghadiri undangan. Kalau diundang beliau biasanya menjawab, “Sudah, saya mendoakan dari sini saja.” Kiai juga suka bersilaturahmi pada sanak familinya. Dan jika menjadi tuan rumah, beliau sangat menghormati tamu. Kalau makan, beliau memanggil keponakan-keponakannya yang masih kecil untuk makan bersama. 

Dalam mendidik santri, Kiai Abd. Adzim tidak suka marah. Tapi kalau sudah melihat santri melanggarsyariat, semisal ramai di masjid, beliau sangat murka. Sebaliknya, dalam masalah pribadi, beliau adalah sosok yang sangat sabar. Suatu ketika beliau ada di dalam jeding khususnya (di utara Surau G, sekarang dijadikan kamar santri). Lalu ada santri berlari-lari karena kebelet kencing. Santri itu tidak melihat Kiai Abd. Adzim yang mungkin sedang jongkok di dalam jeding, karena ketika itu jeding gelap. Kencingnya mengenai tubuh Kiai. Tapi Kiai diam saja, tidak marah. Setelah santri itu keluar, Kiai memanggil keluarganya dan minta diambilkan pakaian ganti. 

Dalam hal berpakaian, beliau tidak mempermasalahkan, selain yang ada hubungannya dengan ubudiyyah. Bahkan beliau tidak mau pakaiannya dicuci, kecuali terkena najis. Kalau najis, najisnya saja yang disucikan. Bahkan ada seorang santri dari Bondowoso yang akrab dengan beliau, diam-diam mengambil pakaian beliau dan mencucikannya. Dalam memakai baju, terkadang beliau memakai baju rangkap-rangkap, 3-5 lapis. “Kasihan orang yang sudah memberi,” kata beliau ketika ada orang bertanya akan hal itu. Baju putih merupakan kesenangan beliau. Jubah menjadi trade merk-nya. 

Kalau dalam keadaan sakit. Kiai Abd. Adzim tidak mau berobat. Beliau pernah sakit Tipus. Kiai Sa’doellah, adik iparnya, menyarankan untuk berobat, tapi beliau menjawab, “Penyakit itu tamu. Kasihan kalau baru datang dikeluarkan. Nanti kalau sudah waktunya, akan keluar sendiri. Kalau dikeluarkan, nanti penasaran lalu kembali lagi.” Dalam mengonsumsi jamu, Kiai Abd. Adzim suka menggunakan jamu susu dan telor. Beliau lebih memercayai jamu itu daripada resep yang diberikan oleh dokter. Karena beliau mengetahui betul dari bahan apa obat itu dibuat dan siapa yang membuat. Bukan karena beliau tidak mampu untuk berobat. 

Kiai Abd. Adzim tidak pernah sewenang-wenang menyuruh santrinya, seperti menyapu dan lainnya. Ketika ditanya akan hal itu, beliau menjawab, “Santri itu dimondokkan di sini untuk mencari ilmu, bukan untuk disuruh menyapu.” Meskipun beliau berhak untuk menyuruh santrinya, tapi beliau lebih suka tidak memakai haknya. Begitu juga istri beliau, Nyai Fatimah. Kiai Abd. Adzim–sebagaimana almaghfurlah Kiai Hasani-lebih suka kerja sendiri. Tidak gampang menyuruh orang, walaupun untuk belanja ke pasar dan harus membawa barang-barang, tidak mengenal gengsi. Suatu ketika Kiai membeli ayam di Ngempit. Ayam itu beliau bawa sendiri, sekalipun lewat di hadapan kerumunan santri. Pedoman beliau adalah, “Shahibussyai’i aula bil-hamli,” sebagaimana tertera dalam kaidah. “Siapa yang punya, dialah yang berhak membawa,” bukan orang lain. Pendidikan ini beliau tekankan pada keturunannya. Bahkan pekerjaan rumah tangga pun, beliau sendiri yang melakukannya.  Konon, beliau mempunyai keahlian membuat kecap. Karenanya, beliau memilih mengonsumsi kecap hasil racikan sendiri daripada kecap yang dibeli dari toko. Sebab beliau meragukan proses pembuatannya. 

Bila membeli sesuatu, Kiai tidak pernah pilih-pilih, asalkan bisa dipakai, sudah cukup. Misalnya, ketika membeli dokar, beliau memilih yang sederhana, asalkan bisa dipakai. Kalau ada penjual yang ketepatan jualannya tidak laku, beliau beli semua. Beliau juga sangat bijak dalam jual beli barang, tidak suka merugikan orang lain. Suatu ketika, beliau menentukan harga kuda pada Kiai Baqir, menantunya, sebesar Rp. 2.500,-, ternyata kuda itu ditawar orang dengan harga Rp. 2000,-. Kemudian Kiai Baqir tidak memperbolehkannya, sebab harganya tidak sampai pada harga yang ditetapkan oleh beliau. Keesokan harinya, kuda itu mati. Melihat kejadian itu, Kiai Baqir melaporkan pada Kiai Abd. Adzim dan mengatakan, “Kok seandainya kuda itu diberikan, maka kita masih untung dan mendapatkan uang.” Tapi apa tanggapan Kiai? “Justru karena tidak kamu berikan, kita mendapat keuntungan. Karena tidak merugikan orang lain.”  

Dekat dengan Masyarakat 

Hubungan Kiai Abd. Adzim dengan penduduk sekitar sangat baik. Ini terbukti dari santriwati Banat III yang ada di dalem beliau, sampai sekarang kebanyakan dari lingkungan Sidogiri dan sekitarnya. Beliau tidak membeda-bedakan dalam berhubungan dengan masyarakat. Dalam arti, beliau memperlakukan sama antara satu dengan yang lain, tidak mengutamakan yang kaya dari miskin atau yang jauh dari yang dekat. Tanggapan masyarakat tentang beliau sama halnya penilaian mereka pada almaghfurlah KH. Abd. Hamid Pasuruan. Yakni tidak ada aib dan sesuatu yang dianggap jelek pada beliau, dan masyarakat sangat mencintai beliau. 

Rasa simpati masyarakat terhadap Kiai Abd. Adzim terbukti dengan banyaknya anggota masyarakat yang datang pada beliau untuk meminta aurad (wirid/doa) dan amal-amalan yang digunakan untuk riyâdhah bathîniyah. Beliau sering memberikan ijâzah pada masyarakat dengan cuilan baja untuk diminum, hal ini terjadi di  masa  penjajahan Belanda. Kemanjuran jamu cuilan baja dari Kiai Abd. Adzim ini sudah tersohor. 

Kerukunan hidup yang dipraktikkan beliau tidak hanya tertuju pada masyarakat yang bermukim di sekitar PPS saja. Tapi, beliau juga akrab dengan para penjual yang menghampar tikar di pinggir jalan menuju pasar. Bahkan beliau juga menemaninya dan membantu menjualkan barang dagangannya. Pendekatan pada masyarakat seperti inilah yang juga dilakukan oleh KH. Hasani Nawawie. 

Dalam hal dakwah, Kiai Abd. Adzim tidak terjun sendiri ke masyarakat, beliau menyerahkan urusan pengajian kepada mubalig-mubalig sekitar. Namun ketika ada hal-hal yang harus disampaikan, beliau tidak segan-segan memberi peringatan. Tapi ada yang mengatakan, di masa mudanya beliau aktif memberi pengajian pada masyarakat. Prinsip yang beliau pegang dalam berdakwah adalah ikhlas. 

Sewaktu beliau masih hidup, banyak masyarakat sekitar yang mengantarkan susu dan daging untuk beliau. Tapi beliau langsung membagi-bagikan pada anggota keluarga yang lain.  Kalau khadam Kiai Abd. Adzim mencari rumput untuk makanan kudanya, biasanya mencari ke desa Tambakboyo Kraton. Masyarakat yang tahu serempak membantu mencarikan rumput. Sehingga dalam waktu relatif singkat, dokar beliau penuh dengan rumput.

Lanjut ke Bagian ke II: KH. Abdul Adzim bin Oerip (Bagian II)

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *