KH. Hasani Nawawie (Bagian I)

share to
Kiai Hasani
Kiai Hasani

Ketika Seorang Sufi Mendobrak Fanatisme

10 hari Sebelum Wafat. Kiai Didatangi Imam al-Ghazali

Ribuan orang berjubel di komplek pesarean (makam) Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri. 

 Komplek pemakaman yang terletak di belakang mesjid, sebelah barat mihrab itu, tampak penuh dengan orang-orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk KH. Hasani Nawawie. Sebagian besar datang dari jauh, bukan masyarakat setempat. Wajah-wajah mereka terlihat muram. Berduka. Tak ada tawa. Di sebelah barat komplek pemakaman dengan luas sekitar 50 meter persegi ini, terlihat lain jenis) untuk melihat prosesi pemakaman dari atas tirai terpal itu. 

Di sekitar pagar, tampak petugas dari satuan Banser sibuk mencegah orang-orang yang merangsek ke pagar. Mereka ingin masuk ke dalam kompleks agar dapat mengekspresikan penghormatan terakhirnya secara langsung. Di dalam pagar, tampak Keluarga Sidogiri, tokoh-tokoh dan orang-orang yang sibuk mempersiapkan pemakaman. 

Sementara itu di luar komplek pemakaman, terdengar gaduh. Masyarakat berebut ikut memikul keranda jenazah Kiai Hasani Nawawie. Minimal, mereka dapat menyentuh keranda tokoh panutan itu. Melalui pengeras suara, terdengar seruan agar masyarakat tidak berebutan. “Hormati mayyit, hormati jenazah, jangan berebutan!” Teriakan itu terdengar sibuk dan sangat keras. 

Ketika jenazah sampai di pesarean, masyarakat yang sejak semula gaduh mulai tenang. Hanya sesekali terdengar bisikan dan gumam “Allah… Allah…” dan isak tangis wanita dari barat pesarean. 

Prosesi pemakaman itu berlangsung sekitar pukul 16.00 Selasa sore, 13 Rabiul Awal 1422 / 5 Juni 2001. Sebelumnya, salat jenazah dilaksanakan sebanyak 11 kali di Masjid Jami’ Sidogiri. Salat jenazah dilaksanakan berulang-ulang karena masyarakat yang datang berta’ziah terus mengalir dari berbagai daerah. Setiap kali salat jenazah dilaksanakan, masjid selalu penuh bahkan sampai meluber ke surau dan jalan-jalan. Salat jenazah pertama dilaksanakan sekitar pukul 09.00 pagi, sedang salat jenazah terakhir sekitar 16.00 sore. 

Kiai Hasani memenuhi panggilan Allah SWT. sehari setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW; tepatnya pada malam Selasa, 13 Rabiuts Tsani 1422, pukul 03.50 dini hari. Beliau wafat pada usia 77 tahun karena serangan darah tinggi yang sudah sejak lama dideritanya. 

Sehari sebelum wafat (malam Senin), Hadratussyekh masih sempat menghadiri acara peringatan Maulid Nabi di Masjid Sidogiri. Kiai mengikuti pembacaan diba’ dengan sempurna mulai awal sampai selesai. Beliau juga masih sempat berta’ziyah ke rumah H. lsmail, seorang warga desa Sidogiri yang wafat sehari sebelum peringatan hari maulid. Saat itu, Kiai sudah terlihat sakit parah. Sambil dipapah, beliau berjalan ke rumah H. Ismail yang berjarak kira-kira 150 meter dari dalemnya. 

Menurut penuturan dari salah satu putra tirinya, Mas H. Abdul Barri, 10 hari sebelum wafat, Kiai Hasani bercerita telah didatangi Imam al-Ghazali dalam tidurnya. Beliau mushafahah (berjabat tangan) dengan tokoh sufi terkemuka Abad Pertengahan itu. Kiai Hasani merasakan perjumpaan dengan Imam al-Ghazali seperti dalam alam nyata, tidak dalam mimpi.

Beliau tidak menceritakan lebih lanjut tentang pertemuan dengan Imam al-Ghazali tersebut. Cuma, pada hari itu pula beliau dawuh kepada KH. Nawawi Abd. Djalil,” Sing enak sa’iki mastur (Yang enak sekarang ini tidak dikenal orang).”  

Sebelumnya, beliau akan naik haji pada tahun ini menemani Nyai Shalihah, istri beliau. Niat itu telah diutarakan kepada beberapa anggota keluarga Sidogiri. Yang membuat keluarga Sidogiri tersentak sedih dengan niat Kiai ini, beliau mengatakan bahwa usai naik haji, dirinya tidak akan kembali lagi. 

Di masa hidupnya, Kiai Hasani banyak mengingat akhirat dan minta didoakan segera mati. Karena beliau dekat dengan Allah SWT. dan rindu segera bertemu. Tetapi Allah SWT. menganugerahi beliau umur panjang, 77 tahun. “Pilih!” dawuh Kiai Hasani suatu ketika pada seseorang, “Mati sekarang masuk surga, atau mati 70 tahun lagi juga masuk surga.” Orang itu hanya diam. “Kalau saya, memilih mati sekarang. Sama halnya dengan diberi uang 100 ribu sekarang atau 100 ribu 70 tahun lagi,” lanjut beliau mengibaratkan.  

Kiai Hasani Muda, Diplomat Ulung di Masa Belanda 

Lahir sekitar tahun 1924/1925, Kiai Hasani sudah yatim semenjak masih dalam usia dini. Abah beliau, KH. Nawawie bin Noerhasan wafat ketika Kiai Hasani masih berusia sekitar 2 tahun. 

Kiai Hasani adalah putra bungsu KH. Nawawie. Beliau adalah satu dari 8 bersaudara putra Kiai Nawawie. Masingmasing adalah Nyai Fatimah dan KH. Noerhasan bin Nawawie (dari Nyai Ruyanah). Kemudian Nyai Hanifah, KH. Cholil Nawawie, Nyai Aisyah (ketiganya dari Nyai Nadhifah). Sedangkan KH. Siradjul Millah, K.A. Sa’doellah Nawawie dan KH. Hasani Nawawie adalah dari Nyai Asyfi’ah (Nyai Gondang).  Tanda-tandanya sebagai ulama yang dekat dengan Allah SWT. sudah tampak semenjak muda. Tidak seperti umumnya anakanak muda, Kiai Hasani menghabiskan masa belianya penuh dengan cahaya keagamaan. Beliau adalah sosok pemuda yang agamis, wara’, khusyuk, rajin, dan berbudi pekerti luhur.

Menghabiskan waktu dengan aktivitas tak berguna merupakan hal yang sangat tidak disukainya. Raut wajahnya sejuk dipandang. Bila berjalan, selalu menundukkan kepala dan tampak sangat tenang. 

Tak seperti kebanyakan putra ulama besar, Kiai Hasani tidak menghabiskan masa mudanya untuk menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan. Beliau tidak pernah bersekolah dan mondok di pesantren manapun kecuali di pesantren abahnya sendiri itupun di bawah asuhan KH. Abd. Djalil, menantu sang ayah yang berarti juga kakak iparnya. Dalam hal ini Kiai Hasani mengaku dirinya mondok ke Sidogiri dari rumah ibunya (Nyai Asyfi’ah) di Gondang, Winongan ke Sidogiri. Selain itu, beliau tidak pernah mondok ke mana-mana. 

Kiai Hasani lebih banyak mendapatkan ilmunya secara otodidak. Semasa hidup, putra bungsu KH. Nawawie bin Noerhasan ini hanya mempunyai tiga orang guru. Pertama kali beliau belajar kepada KH. Syamsuddin, Tampung Winongan Pasuruan. Kepada ulama yang biasa dipanggil Gus Ud ini, Kiai Hasani ngaji kitab al-Ajurumiyah, Imrithi dan Mutammimah. Selain kepada Gus Ud, di Tampung, beliau juga ngaji kepada KH. Birroel Alim. 

Selanjutnya, Kiai Hasani belajar kitab Alfiyah ibn Malik kepada kakak iparnya sendiri, KH. Abd. Djalil, di Sidogiri. Kitab monumental tentang ilmu nahwu (gramatika Arab) ini beliau pelajari sampai tuntas. Usai mengkhatamkan Alfiyah atas saran kakak iparnya itu, Kiai Hasani bermaksud belajar ilmu Fikih. Kiai Djalil juga berjanji akan membacakan kitab al-Asybah wa al-Nazha’ir kepadanya. Tapi, sebelum kitab kaidah-kaidah Fikih itu sampat diajarkan kepada Kiai Hasani, KH. Abd. Djalil terlebih dahulu wafat. 

KH. Abd. Djalil adalah pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri pada era 1930-an serta menantu KH. Nawawie bin Noerhasan, abah Kiai Hasani. 

Konon, salah satu penyebab Kiai Hasani alim tanpa perlu belajar di lembaga pendidikan mana pun adalah berkat doa KH. Ma’ruf, Kedungloh Kediri. Kiai Ma’ruf adalah teman akrab KH. Nawawie bin Noerhasan, Abah Kiai Hasani. la masyhur sebagai wali Allah SWT. Bisa bertemu langsung dengan Nabi Khidir AS. dan -bahkan- bila ada kesulitan, bisa langsung  berdialog dengan Rasulullah.

Suatu saat, Kiai Hasani sowan kepada ulama sepuh Itu. Setelah menceritakan asal usulnya, beliau ditanya oleh KH. Ma’ruf “Apakah sudah hafal nadham Alfiyah?”. Dengan jujur, Kiai Hasani menjawab, “Tidak.” Lalu Kiai Ma’ruf menawari kertas-kertas kecil untuk belajar di pesantrennya selama 40 hari, tapi Kiai Hasani menolak. Kiai Hasani mengatakan beliau sulit untuk kerasan.  

Kiai Ma’ruf lalu menawari Kiai Hasani untuk mengamalkan puasa selama tiga hari. Selama berpuasa, hanya diperkenankan sahur dan berbuka hanya dengan satu biji kurma. Dengan tirakat ini, KH. Ma’ruf menjamin Kiai Hasani bisa alim tanpa belajar. Tapi, lagi-Iagi Kiai Hasani menolaknya karena merasa tidak mampu melaksanakan amalan itu. 

Mendengar jawaban Kiai Hasani itu, KH. Ma’ruf menyuruhnya pulang dan berjanji akan mendoakannya setiap kali melaksanakan salat. 

Kiai Hasani memang tidak pernah mengenyam pendidikan di lembaga tertentu. Akan tetapi beliau tekun me-muthalaah (mengkaji) pelbagai kitab. Tafsir dan Akhlaq merupakan disiplin pengetahuan kesukaannya. Kitab-kitab yang beliau miliki penuh dengan catatan-catatan hikmah dan kertas-kertas kecil sebagai tanda bahwa terdapat sebuah pernyataan penting pada halaman kitab tersebut. Beberapa hari setelah wafatnya, kitab-kitab itu diwakafkan ke Perpustakaan Sidogiri. 

Kiai Hasani hidup pada masa di mana penjajahan Belanda sedang berada pada puncaknya. Kiai Hasani muda lebih mengutamakan berjuang melawan para penjajah daripada menghabiskan waktunya di sebuah menara gading. Namun modus perjuangan yang beliau tempuh adalah modus yang unik. Tidak seperti KA. Sa’doellah Nawawie, kakaknya yang memilih berjuang memanggul senjata, Kiai Hasani lebih suka berjuang melalui jalan diplomasi. Beliau kerap mendatangi kamp-kamp Belanda dan berpidato disitu. 

Dengan mendekati Belanda Kiai Hasani berupaya menetralisir incaran Belanda terhadap Sidogiri. Sidogiri, saat itu, memang sedang menjadi salah satu incaran utama pasukan kompeni. Sidogiri merupakan markas perjuangan KA. Sa’doellah dalam mengusir Belanda. Kakak Kiai Hasani itu sering memimpin pasukan untuk mengadakan penyerbuan terhadap Belanda dari desa kecil ini. 

Apa yang dilakukan Kiai Hasani dengan mendekati Belanda ternyata cukup efektif untuk mengamankan Sidogiri dari serangan mereka. Jika pasukan Belanda mau menyerang Sidogiri, Kiai Hasani sudah menyetop mereka sebelum masuk ke desa Sidogiri. Beliau menyuruh mereka untuk kembali. Dan, mereka pun menuruti apa yang dikatakannya. 

Pola Hidup Sufi: 21 Kali Bermimpi Soekarno 

Terletak di tepi selatan asrama Pesantren Sidogiri bersebelahan dengan masjid, dalem itu tampak sepi. Seperti tak ada kegiatan kerumahtanggaan di situ. Bangunannya tampak tua sekali, dengan jendela dan pintu bercat cokelat. Bagian depan berlantai semen seluas 1×3 m². Tak ada aksesoris apapun, hanya tampak beberapa pohon pisang di depannya. Pagar bambu yang menutupinya di bagian depan sudah tampak agak rusak. Dari sebelah barat, dalem itu ditutupi beberapa satir dari anyaman bambu. (Sekarang beberapa bagian sudah mengalami perubahan). 

Di sinilah, Kiai Hasani tinggal. Jika Anda ke sana, Anda tak akan mengira bahwa itu adalah dalem seorang ulama besar yang amat disegani, terutama di Jawa Timur. Rumah itu memang terlalu sederhana. Tapi, dari sinilah figur panutan itu meniupkan angin sufisme dari pikiran ke pikiran: sufisme yang tidak hanya dalam bentuk konsepsi, tapi sebuah realitas kehidupan. 

Kiai Hasani memang menyukai hidup sederhana. Apa yang dijalani dalam hidupnya merupakan bentuk nyata dari nilai nilai sufistik yang tak mengacuhkan materi. 

Sufisme memang telah menjadi pandangan hidup beliau sejak muda. Beliau konsisten dengan nilai-nilai itu, qawlan wa fi’lan. Sehingga ada kesan unik pada para hidup yang beliau jalani. Memang, pola hidup sufistik pada zaman ini secara realitas tidaklah popular, meski hal itu sering muncul sebagai komoditas wacana. Ia telah menjadi tumpukan cerita di masa lalu. 

Nilai utama sufisme yang selalu dipegang teguh oleh beliau sampai akhir hayatnya adalah al-bu’d ‘an al-dun’ya (menjauhkan diri dari dunia). Dalam catatan sejarah, nilai ini dipopulerkan oleh Sayidina Ali yang menyatakan talak tiga untuk dunia. Begitu pula dalam pandangan Kiai Hasani, hubb al-dun’ya (suka dunia) adalah penyakit yang telah amat kronis menimpa umat ini. Suatu ketika, dalam sebuah manuskripnya, beliau mengungkapkan bahwa akar dari kerusakan umat ini adalah kesenangan ulama ulamanya kepada dunia. 

Dari 8 orang putra Kiai Nawawie, semuanya hidup miskin. Tak terkecuali Kiai Hasani. Kesempatan untuk kaya selalu ditolak oleh Kiai ini. Beliau tidak pernah menghiraukan urusan uang dan harta. “Jangan sampai engkau tahu, berapa jumlah uang yang ada di sakumu,” dawuh beliau seperti mengingatkan akan bahaya dunia. 

Begitulah Kiai Hasani dalam memandang dunia. Zuhud (asketisme) menjadi cermin utama dalam para hidup yang beliau jalani. Seperti tak ada kesukaan sedikit pun terhadap dunia. Kalau pada umumnya, para tokoh (termasuk ulama) menyukai fasilitas-fasilitas mewah, tapi lain halnya dengan Kiai Hasani. Beliau malah hidup sangat sederhana. Tidak suka mobil. Sering tampak berjalan kaki atau naik becak untuk sebuah keperluan. “Keinginan punya mobil saja, aku tidak ingin,” dawuhnya suatu ketika kepada KH. Nawawi bin Abd. Djalil, salah satu keponakannya. 

Jika Anda masuk ke dalem Kiai, maka pasti tersirat sebuah kesimpulan; betapa sederhananya beliau. Di dalem, tidak terdapat peralatan apa-apa. Tak ada hiasan dan di bagian bawah hanya berlantai semen. Menariknya di dinding sebelah dalam, Kiai menggantungkan clurit, pacul dan tangga. Entah isyarat apa yang beliau maksudkan dengan peralatan tani ini. Yang jelas, barang-barang itu bukan hiasan yang dimaksudkan untuk menambah keindahan pemandangan. 

Dalam dahar-nya (makan) sehari-hari, Kiai Hasani biasanya hanya cukup dengan nasi putih dengan lauk krupuk dan kecap. Makanan kesukaan beliau adalah kentang rebus diletakkan di piring kecil dan tempe mendol.  

Pada hari Senin, sehari sebelum wafat, kondisi beliau semakin melemah. Dokter yang memeriksanya menganjurkan agar makan lebih banyak, tapi beliau beralasan bahwa sejak dulu beliau tidak pernah makan banyak. Akhirnya dokter hanya menyarankan agar yang penting perut tetap ada isinya. 

Uniknya, Kiai malah memberi makan kucing piaraannya dengan ikan tongkol dan ikan-ikan yang biasanya menjadi lauk kebanyakan orang. Kiai memang suka memelihara hewan yang konon juga merupakan hewan piaraan kegemaran Abu Hurairah, salah seorang Sahabat Nabi  yang juga perawi Hadis paling masyhur. Kucing-kucing yang terlantar dan sakitsakitan oleh beliau dirawat dan pelihara dengan baik sampai sehat dan gemuk. Kalau ada kucing yang mati, maka beliau akan menguburkannya layaknya manusia. Suatu saat salah satu kucing piaraan beliau terlindas kendaraan salah satu anggota keluarga Sidogiri. Lalu dikuburkan di suatu tempat. Ketika tahu kejadian tersebut, beliau langsung membongkar lagi kuburan kucing tersebut dan dipindahkan ke tempat penguburan kucing yang terletak di belakang dalem beliau. Dalam dawuh-nya, Kiai Hasani menyatakan bahwa kucing merupakan nunutan beliau untuk masuk surga. “Kamu tidak punya dosa, Pus!” dawuh beliau suatu hari seperti berdialog dengan kucing kesayangannya. 

Memang, beliau sangat akrab dengan kesederhanaan itu. Hidup layaknya orang biasa sudah menjadi manhaj al-hayah (prinsip hidup) bagi beliau. Berpakaian seperti lazimnya orang biasa. Sering terlihat memakai baju takwa hitam. Tidak suka memakai sorban seperti kebiasaan para ulama. Bahkan, beliau juga lebih suka memakai kopyah hitam dibanding kopyah putih. Itu semua merupakan manifestasi dari pandangan kesederhanaan dan kesukaan untuk hidup layaknya orang biasa. 

Kiai Hasani memang amat tidak suka memakai atribut jasmaniah para ulama. Beliau juga tidak senang diperlakukan istimewa. Pernah suatu ketika, beliau diundang menghadiri walimatul arusy salah seorang tokoh di Pasuruan. Di tempat yang disediakan untuk undangan para kiai, tertulis kalimat “Khusus Masyayikh”. Mengetahui tulisan semacam itu, Kiai Hasani yang kebetulan diundang dan hadir dalam acara tersebut tidak berkenan masuk. Apa kata beliau? “Aku bukan masyayikh!”. Akhirnya tuan rumah melepas tulisan itu dan Kiai Hasani pun berkenan masuk. Konon, Kiai juga senang diundang oleh salah seorang di Probolinggo, karena di tempat itu beliau tidak diistimewakan dari yang lain. 

Jika Kiai Hasani mau, bukannya beliau tidak bisa untuk hidup seperti lazimnya tokoh-tokoh lain dalam hal harta benda. Dalam pembagian tirkah warisan setelah beliau wafat, uangnya banyak tercecer di mana-mana. Kadang di bawah kasur, di dalam kitab dan di tempat-tempat lain. Ini merupakan sebuah cermin bahwa Kiai tidak pernah memasukkan urusan harta ke dalam pikirannya. Beliau tidak pernah menghitung berapa uang yang dimilikinya. “Jangan sampai kau ketahui uang yang masuk ke sakumu, agar kamu tidak bersandar pada uang,” ungkap beliau menyiratkan sebuah pandangan zuhdiyah-nya.  

Dulu, Kiai Hasani pernah titip modal kepada H. Makki, salah satu jutawan terkenal di Pamekasan Madura. Hal ini dimaksudkan beliau sebagai pemenuhan atas kewajiban berkasab (bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup) bagi seorang Muslim. Tapi, sampai akhir hayatnya Kiai Hasani tidak pernah menghiraukan uang itu lagi. Menjelang pembagian warisan, uang itu diserahkan oleh H. Makki kepada keluarga beliau di Sidogiri. 

“Al-Dun’ya Dawa’,dawuh Hadratussyekh Dunia adalah obat. Kalimat singkat itu diperoleh beliau melalui mimpi. 

Syahdan, Kiai Hasani pernah bermimpi bertemu Soekarno (Presiden ke-1 Republik Indonesia). Dalam mimpi itu, Soekarno hanya menyampaikan kalimat “al-Dun’ya Dawa’,” kepada Kiai. Konon, mimpi yang sempat beliau tulis dalam manuskripnya itu terjadi sebanyak 21 kali. 

Awalnya Kiai Hasani tidak paham apa maksud dari kalimat tersebut. Lalu beliau menceritakan mimpi itu kepada kakak beliau Almaghfurlah KH. Cholil Nawawie. Setelah berpikir cukup lama, KH. Cholil bisa menerka apa maksud dari kalimat “dunia adalah obat” itu. “Obat, hanya digunakan jika keadaan sakit (betul-betul membutuhkan), begitu pula dunia,” papar Kiai Cholil kepada Kiai Hasani. Mengenai hal itu, Kiai Hasani juga berdawuh, ”Yang baik, berobat itu apa kata dokternya. Tidak boleh overdosis.”  

Pandangan dan sikap hidup asketis itu memang telah beliau tampakkan semenjak muda. Tak ada tempat di hati untuk kesenangan duniawi. “Saya ingin tahu, seperti apa rasanya senang dunia itu?” kata beliau suatu ketika, penuh tanda tanya.  

Begitulah Kiai Hasani, selalu memelihara keselarasan antara dawuh dan perilaku. Kekentalannya dengan sufisme tidak hanya terejawantahkan dalam kata-kata, tapi juga pola hidupnya sehari-hari. Oleh karena itu, beliau sering mewanti wanti bahwa yang terpenting bagi kita sekarang ini adalah mengamalkan ilmu. “Kalau dulu memang dibutuhkan orangorang alim, sekarang sudah tidak perlu lagi. Semuanya sudah alim-alim. Kita hanya perlu menyelamatkan diri,” tegas Hadratussyekh

Ulama memang telah begitu banyak. Lalu, sebanyak itukah orang yang bermoral ulama? Sufisme telah menjadi kajian luas, di Majelis taklim, seminar, halaqah, dan mimbar-mimbar kuliah. Buku-buku tentang Tasawuf membanjiri toko-toko. Lantas, seluas itukah nilai-nilai sufisme itu telah diterapkan? Kiai Hasani seperti mengkritik itu semua: “Al-Ilm al-yawm mazhlum,“ dawuh beliau penuh kecewa. Saat ini, ilmu pengetahuan (terutama pengetahuan agama) memang telah menjadi korban.  

Pandangan kritis itu tidak hanya ditunjukkan Kiai Hasani untuk para ulama dan cendekiawan. Dalam pandangan beliau, orang-orang yang melaksanakan ibadah pun sekarang banyak yang maghrur, tertipu dan terjerumus dalam lembah kedunguan. Setelah naik haji pada tahun 1958, beliau enggan untuk naik haji lagi. Hadratussyekh begitu prihatin melihat Ka’bah sekarang. Begitu banyak munkarat di sekitar bangunan tinggi kokoh-kuno itu. Padahal kita mesti ekstra hati-hati di Tanah Suci itu. Tanah yang mendapat julukan “Haram” ini tidak bisa dibuat sembarangan. 

Mengenai ibadah, Kiai Hasani memberi penekanan utama pada sisi makna. Ibadah bukan cuma urusan ritual badaniah belaka, tapi berintisari pada pemaknaan hati. Oleh karena itu, beliau lebih suka melakukan ibadah yang dirasanya sebagai hal berat. Di situ ada upaya menundukkan hati kepada ilahi. Mengatur gerak hati memang lebih berat dibanding aktivitas jasmaniah. Ini terutama menyangkut keikhlasan dan gerak kalbu yang lain. “Lebih berat maksiatnya hati dari pada maksiatnya badan,” kata beliau.  

Menjadikan gerak kalbu sebagai esensi segala aktivitas merupakan pandangan yang diperkenalkan kalangan sufi. Kendati demikian, Kiai Hasani sangat kukuh dan tegas memegang norma-norma ritual sebuah ibadah. Beliau amat tegas dengan kebenaran tata laksana salat menurut aturan Fikih, begitu pula dalam ibadah-ibadah lain. Bahkan, sampai masalah azan pun beliau mempunyai perhatian amat serius. Sampai sekarang, azan di Masjid Sidogiri tidak pernah berlagu dan berirama mendayu-dayu. Kiai Hasani marah jika azan dikumandangkan berlagu. Kalau dipikir, pada aspek tatakrama, azan berlagu hanya mementingkan dominasi seni serta telah kehilangan makna panggilannya menghadap Allah SWT. 

Persis seperti umumnya para sufi, Kiai Hasani sejak lama merindukan mati, sebuah keinginan yang agaknya sulit dicerna dalam pikiran orang “waras” yang belum merasakan betapa sesak dunia ini dan betapa indah bertemu dengan Sang Rabb. Kerinduan itu sering beliau ungkapkan, terutama menjelang hari wafatnya. Apa yang menguntungkan dari mati? “Kalau orang baik, pendek umur, ia akan cepat ketemu dengan kebaikannya. Kalau orang jelek, pendek umur, ia cepat putus dari kejelekannya agar tidak banyak dosanya,” dawuh Hadratussyekh membangun logika dari pandangannya. 

Jika ada tamu, Kiai Hasani selalu mengantarkan sendiri suguhan untuk tamunya. Beliau juga sangat sedih jika banyak tamu, khawatir tidak bisa menghormati mereka dengan layak. 

Etiket sufisme lain yang juga sudah begitu melekat pada Kiai Hasani adalah melestarikan ajaran khumul. Dalam kamus sufi, khumul berarti tidak mau dikenal orang (tentang keistimewaan yang ada pada dirinya). Dalam tuntunan Tasawuf lbnu Atha’ as-Sakandari ajaran ‘tidak suka tampil’ itu adalah dimaksudkan sebagai langkah penyelamatan bagi seorang yang menjalani kehidupan sufi agar tidak terjerumus oleh popularitas dan ketenaran. “Sing enak sa’iki iki mastur,” dawuh Kiai kepada KH.  Nawawi bin Abd. Djalil, salah seorang keponakannya. 

Memang, khumul telah menjadi filosofi baku, tidak hanya bagi Kiai Hasani tapi juga Sidogiri. Pondok pesantren yang sudah berusia 256 tahun itu seperti besar dalam ketersembunyian. Terbukti pondok salaf ini tidak pernah menyebar brosur atau jenis promosi lain, bahkan memasang plakat pun bagi Sidogiri terkesan sangat tabu.

KH. Hasani Nawawie (Bagian II)

Disadur dari Buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri Jilid 1

Pesan Buku

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *