Badan Pers Pesantren (BPP) menggelar seminar kelas menulis lanjutan bertema, “Kaidah Menulis Kritikan yang Ilmiah”. Seminar digelar pada malam Senin (07/05) di Ruang Auditorium Kantor Sekretariat, yang dihadiri oleh editor, pemimpin, sekretaris, serta redaktur media PPS, sebagai peserta.
Dalam sambutannya, Wakil I BPP, Ust. Nuruddin, menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan awak media. “Khususnya bagi awak media yang karyanya sering berisi kritik. Pelatihan ini dapat membantu memahami kaidah yang tepat dalam menyusun tulisan kritik ilmiah,” ujarnya.

Sebagai narasumber utama, Ust. M. Achyat Ahmad memulai dengan berbagi pengalaman tentang perjalanan awalnya sebagai penulis. “Dulu, generasi saya belum ada BPP yang membimbing santri dengan minat dan bakat di bidang tulis-menulis. Kami belajar menulis secara otodidak, tetapi sekarang dengan adanya BPP, rangkaian program pelatihan menulis dari pemula hingga lanjutan sudah sangat membantu mengembangkan karya tulisan,” jelasnya.
Selanjutnya, Direktur Annajah Center Sidogiri (ACS) ini menjelaskan tentang karakter netizen Indonesia dalam mengkritik. Menurutnya, kritik yang berkembang di media sosial sering kali tidak ilmiah, liar, dan cenderung emosional, sehingga hanya menjadi sebuah caci maki saja. “Imbasnya hanya menyebabkan debat kusir yang tak berujung,” terang Staf Pengajar MMU Aliyah ini.
Berikutnya, Ust. Achyat mengarahkan peserta untuk memperkaya tulisan kritik dengan ilmu pengetahuan agar dapat memberikan dampak positif bagi objek yang dikritik. “Kritik yang membangun hanya dapat dihasilkan dari kritik ilmiah yang berbasis ilmu,” tegasnya.
Oleh: Syahrul Maulana
Editor: Nur Hudarrohman












