Annajah Center Sidogiri (ACS) kembali menggelar evaluasi semester ganjil sebagai bagian dari upaya memperkokoh pemahaman anggota terhadap akidah Ahlusunah wal Jamaah. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, evaluasi kali ini hadir dengan mekanisme baru yang menuntut peserta lebih siap memahami dan mempertanggungjawabkan materi secara langsung.
Baca juga: Rapat Triwulan Sekretariat: Tugas sebagai Jalan Khidmah kepada Masyayikh
Agenda evaluasi yang digelar per-semester tersebut terbagi berdasarkan tingkatan. Evaluasi semester tiga dengan tema kontra-Syi’ah dilaksanakan pada Sabtu malam (01/08), sedangkan semester satu dengan materi pemantapan Aswaja digelar pada Ahad malam (02/08) saat jam belajar malam, sekitar pukul 21.00 WIS.

Bertempat di Ruang Istirahat Guru MMU Aliyah, para peserta mempresentasikan tema yang telah ditentukan oleh pengurus dengan mekanisme berbeda sesuai tingkatan masing-masing.
Untuk semester tiga, pengurus menyiapkan sekitar delapan artikel yang memuat sejumlah pandangan atau doktrin Syi’ah. Artikel tersebut kemudian menjadi bahan bagi peserta untuk dianalisis dan dibantah berdasarkan pemahaman keilmuan yang telah mereka dapatkan selama mengikuti kegiatan ACS.
“Artikel adakalanya kami buatkan sendiri atau diambilkan dari pernyataan tokoh di media yang berkaitan dengan doktrin sekte Syi’ah,” terang Ustadz Sahal Mahfudz, Wakil I ACS Sidogiri.
Sementara itu, peserta semester satu mendapatkan beberapa tema yang bersumber dari materi mentoring pekanan serta kitab Jauharut-Tauhid sebagai salah satu materi pokok kajian. Melalui mekanisme tersebut, peserta dituntut tidak sekadar menghafal materi, tetapi juga mampu memahami dan mempresentasikannya secara sistematis.
Baca juga: Malam Penghargaan Imda I MMU Ibtidaiyah, Apresiasi bagi Murid dan Guru Berprestasi
Adapun dewan juri evaluasi ditentukan dari kalangan dewan pakar dan pembina ACS Sidogiri. Dewan pakar sendiri merupakan guru MMU Aliyah yang mengisi sesi mentoring, sementara kegiatan kajian lainnya didampingi oleh pembina ACS.
“Dewan pakar adalah guru MMU Aliyah yang mengisi sesi mentoring di ACS, selain sesi kajian yang didampingi oleh pembina ACS,” jelas Ustadz Sahal.
Ubah Mekanisme, Tingkatkan Tantangan
Salah satu perubahan paling mencolok dalam evaluasi semester ganjil kali ini terdapat pada mekanisme pelaksanaannya. Jika pada tahun sebelumnya peserta diwajibkan menyusun artikel ilmiah berdasarkan tema yang telah ditentukan sebelum mengikuti evaluasi, tahun ini kewajiban tersebut ditiadakan.

Peserta langsung diuji melalui presentasi dan penyampaian argumentasi berdasarkan tema yang telah diberikan. Menurut Ustadz Sahal, mekanisme baru tersebut justru memberikan tantangan lebih besar karena peserta harus benar-benar memahami materi tanpa terlebih dahulu menuangkannya dalam tulisan.
“Tanpa menulis artikel lebih menantang, selain menunjukkan keseriusan peserta saat kegiatan ACS,” ujarnya.
Perubahan tersebut diharapkan dapat mengukur kematangan pemahaman peserta secara lebih objektif. Dengan demikian, evaluasi tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan tulisan, tetapi juga menguji kemampuan berpikir, menyusun argumentasi, serta mempertahankan pemahaman ketika dihadapkan pada persoalan yang berkaitan dengan materi kajian.
Pemantapan Aswaja Berkelanjutan
Evaluasi semester bukan satu-satunya program ACS dalam memperkokoh pemahaman anggota terhadap akidah Ahlussunah wal Jamaah. Secara berkala, ACS juga menggelar berbagai kegiatan yang berorientasi pada penguatan wawasan keislaman anggota.
Pada tingkat pekanan, kegiatan diisi dengan kajian diskusi dan mentoring sesuai fokus masing-masing tingkatan. Sesi mentoring bersama dewan pakar dilaksanakan pada malam Ahad, Rabu, dan Kamis secara bergantian berdasarkan tema dan jadwal yang telah ditentukan.
Untuk memastikan materi yang telah disampaikan benar-benar dipahami, pengurus juga mulai menerapkan evaluasi pekanan.
“Tahun ini pengurus mengadakan evaluasi pekanan sebagai tindak lanjut dari tahun sebelumnya, cuma tidak seketat evaluasi bulanan,” terangnya.
Sementara itu, kegiatan bulanan dikemas dalam bentuk seminar ilmiah dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya. Hingga saat ini, sekitar empat seminar telah terlaksana dengan sejumlah tema, di antaranya Pengaruh Hermeneutika dalam Tafsir dan Hukum Syariah, Menulis Ilmiah, dan Deisme Modern.
“Tema dan narasumber ditentukan oleh Direktur ACS Sidogiri melalui usulan dari Wakil I ACS Sidogiri,” pungkasnya.
Melalui rangkaian program tersebut, ACS Sidogiri berupaya membangun pola pembinaan yang tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga ketajaman berpikir dan kemampuan mempertanggungjawabkan pemahaman. Dengan evaluasi yang semakin menantang dan pembinaan yang berkelanjutan, anggota ACS diharapkan memiliki bekal keilmuan yang kokoh dalam menjaga dan mengembangkan pemahaman Ahlusunah wal Jamaah.
Penulis: Muhammad Fajar
Editor: Elmaghroby












