Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri dalam Pertemuan Wali Santri Pondok Pesantren Sidogiri

share to
Wali

Tampak KH. Fuar Nur Hasan sedang memanjatkan doa yang didampingi KH. Syaukat Syiraj ketika menghadiri pertemuan wali santri di Pondok Pesantren Syaikhona Cholil, Bangkalan

 

بسم الله  الحمد لله  والصلاة والسلام على رسول الله وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد

Alhamdulillah, senang sekali rasanya bisa bertemu dengan Bapak-Bapak, karena dalam keyakinan kami, kami sedang berkumpul dengan para orang tua yang memiliki kepedulian tinggi terhadap urusan akhlak dan agama putra-putrinya. Saat ini, rupanya sudah mulai jarang kami menemukan orang tua yang lebih memikirkan masa depan akhirat putranya daripada masa depan duniawi mereka.

Dalam pertemuan ini, kita akan saling menggali informasi dan saling memberikan masukan untuk kebaikan anak-anak kita sekalian. Acara semacam ini kami maksudkan sebagai semacam pintu masuk untuk menjalin komunikasi antara kita. Kami berharap, komunikasi antara kita tidak hanya terjadi dalam kesempatan semacam ini, tapi bisa terjadi setiap waktu antara Bapak-Bapak dan kami di Sidogiri.

Saat ini, komunikasi sudah bisa kita lakukan dengan sangat mudah, melalui telepon, SMS, dan semacamnya. Syukur-syukur kalau bisa dilakukan secara langsung dengan bertatap muka dan saling menggali kesepahaman secara bersama-sama. Kami, Majelis Keluarga, Pengurus, dan para guru akan merasa sangat dihargai jika Bapak-Bapak sering berkomunikasi tentang keberadaan putranya, baik ketika sedang berada di Pondok atau ketika sudah berada di rumah.

Yang terpenting dalam sebuah komunikasi adalah semangat kita masing-masing untuk mencari jalan keluar dari sebuah persoalan, serta menjauhi pikiran untuk mencari kambing hitam atas sebuah kejadian yang tidak kita inginkan. Ini memerlukan kesadaran bersama. Tidak jarang, ketika terjadi kasus pada seorang santri, wali santri justru membela putranya dan menyalahkan pengurus secara membabi buta, karena hanya mendengarkan informasi sepihak dari putranya. Sikap semacam ini jelas sangat tidak baik untuk perkembangan putra Bapak-Bapak sekalian ke depan. Jika terjadi apa-apa, andalkanlah komunikasi, dalamilah persoalannya, lalu sikapilah secara arif dan bijaksana. Masalah pasti ada dalam setiap sisi hidup kita ini. Yang paling menentukan adalah bagaimana cara kita menyikapi setiap persoalan itu.

Bapak-Bapak Wali Santri dan Saudara-Saudara Alumni Sekalian… Dalam setiap pertemuan wali santri, hampir selalu saya sampaikan, bahwa posisi kita sebagai wali santri, tidaklah lebih mudah daripada posisi anak-anak kita sebagai santri. Bahkan, boleh jadi, posisi sebagai wali santri itu jauh lebih sulit daripada posisi sebagai santri. Sebab, kita sebagai wali santri tidak hanya berpikir dan melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri, tapi kita berpikir dan bertindak untuk anak-anak kita. Sementara itu, pikiran anak dan orang tua seringkali berbeda, sehingga apa yang diinginkan oleh orang tua belum tentu juga diinginkan oleh anak. Seperti yang telah kita rasakan, mengatur diri kita, jelas lebih mudah daripada mengatur anak-anak kita.

Oleh karena itu, kita jangan pernah berpikir bahwa dengan memondokkan anak ke pesantren, berarti urusan kita sudah selesai. Lebih dari itu, kita harus terus berupaya tanpa henti, terutama dengan melakukan pengawasan ketika mereka sedang berada di rumah. Ketika liburan, tugas orangtualah untuk melanjutkan apa yang telah biasa mereka lakukan di Sidogiri. Sebab, ketika mereka berada di rumah, maka tugas pengawasan sudah berpindah ke tangan Bapak-Bapak sekalian.

Sebenarnya, kemauan Bapak-Bapak sekalian bersusah payah memondokkan anaknya di pesantren sudah merupakan usaha yang luar biasa. Namun, hal itu masih merupakan tangga pertama untuk memiliki anak saleh yang bisa meringankan beban kita kelak di akhirat nanti. Untuk langkah berikutnya, kita harus meletakkan kebaikan anak dalam setiap detak pikiran, denyut jantung dan aliran darah kita. Tidak henti-hentinya mendoakan mereka dalam setiap waktu dan kesempatan. Kalau perlu, kita harus menirakati anak-anak kita sebagai wujud kesungguhan permohonan kita kepada Sang Mahakuasa.

Selain doa dan upaya-upaya tersebut, hal yang paling menunjang bagi kebaikan anak, adalah pengawasan orang tua. Anak-anak kita hidup di sebuah masa yang godaannya jauh lebih berat. Dengan kecanggihan teknologi, betapa mudahnya anak-anak kita berhubungan dengan wanita yang bukan mahramnya. Dengan kecanggihan teknologi, betapa mudahnya anak-anak kita mendapatkan tontotan yang sangat buruk. Dengan kecanggihan teknologi, betapa mudahnya anak-anak kita dicekoki dengan budaya-budaya orang Barat yang penuh dengan kebebasan dan nafsu. Di masa seperti saat ini, mereka akan sangat mudah terjerumus ke dalam hal-hal buruk, kecuali kalau kita membekali mereka dengan ilmu agama, landasan moral yang mapan, disertai dengan pengawasan secara terus menerus.

Jangan pernah memberi kesempatan barang sedikitpun kepada anak-anak kita untuk mencoba hal-hal yang berbahaya bagi moral mereka. Karena sekali mereka terperangkap dalam sebuah keasyikan dan kenikmatan nafsu, akan butuh waktu yang sangat lama untuk bisa kembali ke jalan yang benar. Atau, bahkan, boleh jadi, mereka tidak bisa kembali lagi ke jalan itu.

Bapak-Bapak Wali Santri dan Saudara-Saudara Alumni Sekalian… Maka dari itu, mari kita mencoba untuk mengoreksi diri kita masing-masing terkait dengan tingkah-laku anak-anak kita yang mungkin masih kurang baik ketika di rumah. Karena dalam setiap pertemuan wali santri semacam ini, hampir bisa dipastikan ada saja wali santri yang mengeluhkan perilaku anak-anaknya ketika berada di rumah. Mereka mengeluhkan akhlak anak-anaknya yang kurang baik, salatnya yang kurang rajin, dan lain sebagainya, sehingga sebagian alumni berulangkali mengusulkan agar pada saat liburan maulid, santri-santri tidak perlu dipulangkan.

Sesungguhnya, setiap wali santri sudah tahu seperti apa kegiatan-kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Sidogiri dan apa saja yang diajarkan kepada mereka setiap harinya. Tentu, pelajaran-pelajaran dan keteladanan yang telah diberikan kepada santri-santri itu diharapkan dibawa dan diterapkan oleh santri ketika mereka pulang ke rumah. Akan tetapi masalahnya, kadang-kadang setelah santri pulang ke rumah, mereka tidak mendapati aturan-aturan dan keteladanan sebagaimana yang mereka dapati di pesantren, sehingga mereka meresa bebas dari keterikatan, atau malah merasa asing dengan lingkungan yang nyaris sama sekali berbeda dengan yang dia dapati di pesantren.

Maka karena itulah, kami meminta kepada Bapak-Bapak sekalian, untuk tidak membuat anak-anak Bapak-Bapak ketika berada di rumah justru merasa asing dengan keadaan di sekitarnya, yang tidak sama dengan keadaan dan kebiasaan yang telah mereka jalani di pondok pesantren. Bahwa anak-anak kita yang telah menimba ilmu di Pondok Pesantren Sidogiri selama ini, telah diajari pelajaran-pelajaran agama sesuai dengan tingkatan masing-masing, dan lebih dari itu rutinitas keseharian mereka telah terjadwal sedemikian rupa; kapan harus belajar, mengaji, salat, membaca wirid, istirahat, dan seterusnya.

Maka usahakanlah setiap wali santri mengetahui kegiatan-kegiatan putra-putra Bapak-bapak sekalian ketika di pesantren, agar ketika mereka berada di rumah, Bapak-Bapak sekalian bisa membentuk situasi dan tradisi di rumah sesuai dengan kebiasaan mereka di pesantren, sehingga mereka tidak merasa asing dengan apa yang telah biasa mereka lakukan selama ini. Jangan sampai, misalnya, ketika telah masuk waktu Maghrib, yang mestinya ketika di pesantren santri fokus ibadah dan mengaji sampai Isya’, justru ada anggota rumah tangga yang masih nonton televisi, duduk santai sambil merokok, dan semacamnya. Tentu, hal ini bisa menghadirkan situasi berbeda kepada santri di rumah, sehingga khawatir kebiasaan baik yang telah mereka lakukan di pesantren malah sama sekali luntur ketika mereka berada di rumah.

Demikian halnya dengan kebiasaan-kebiasaan yang lain, seperti bangun satu jam sebelum azan Subuh, salat Dhuha, dan semacamnya. Wali santri harus aktif menjadi guru dan pengurus yang menangani kegiatan dan kebiasaan putranya ketika di rumah, dengan cara menjadi teladan dan pengawas bagi mereka. Tanpa keteladanan, pembentukan iklim dan tradisi yang sesuai, serta pengawasan yang terus menerus dari Bapak-Bapak sekalian ketika santri berada di rumah, maka kegiatan-kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah baisa dilakukan santri di pesantren, malah akan mereka tinggalkan sama sekali ketika mereka di rumah. Dengan demikian usaha pendidikan yang kita lakukan telah gagal, karena tidak ada sinergi antara usaha pengurus serta guru-guru di pesantren dengan orang tua yang ada di rumah.

Bapak-Bapak Wali Santri dan Saudara-Saudara Alumni Sekalian… Selain itu, hal yang juga tak kalah pentingnya adalah harapan kami agar Bapak-Bapak lebih intens menanyakan perihal putranya kepada Pengurus atau Guru yang bersangkutan. Pertanyaan Bapak-Bapak sangat bermanfaat untuk menjalin sinergi antara Pengurus, Guru dan Orangtua. Kalau sinergi ini terjalin dengan baik, maka insya Allah hasilnya akan jauh lebih baik.

Dan, yang lebih penting lagi, sebisa mungkin Bapak-Bapak sering sowan kepada Kiai, kalau perlu bawalah putra Bapak kepada beliau. Mintakan doa agar putra Bapak mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan rida para masyayikh. Santri atau wali santri yang sering terlihat oleh beliau, insya Allah lebih diingat secara khusus oleh beliau dalam doa-doanya sepanjang waktu. Dulu, Kiai Kholil pernah menyatakan bahwa santri-santri yang terlihat lebih dulu dalam benak beliau ketika berdoa adalah yang sering beliau lihat setiap hari. Janganlah karena kita tak memiliki uang untuk disungkemkan kepada Kiai lalu kita tidak sowan atau menjauh dari beliau. Sungkeman itu bukan hal pokok, kalau punya silahkan, kalau tidak punya tidak perlu malu atau maksa-maksa. Yang terpenting bagi kita adalah mendekat, menampakkan perhatian dan kepedulian bahwa kita betul-betul menitipkan putra kita kepada Kiai.

Kalau kita dekat dengan Kiai dan para ulama dengan niat dan cara yang benar, maka kemungkinan untuk memiliki putra yang bisa meniru beliau-beliau, terbuka lebih lebar bagi kita sekalian. Dan, sebisa mungkin, tanamkan kepercayaan dan kecintaan terhadap ulama dalam diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat kita. Karena, kemantapan terhadap ulama adalah tiang moral yang sangat kokoh di tengah-tengah masyarakat.

Semoga Allah melindungi kita dan anak-anak kita serta memudahkan jalan mereka dalam memperoleh ilmu yang manfaat, meniru para ulama dalam berlatih menyiapkan diri agar menjadi generasi yang berguna bagi agama dan masyarakat. Semoga mereka bisa meringankan beban kita, atau bahkan bisa membantu kita, kelak di akhirat nanti.

Semoga Allah membuka hati anak-anak kita, sehingga tertanam di dalam hati mereka kecintaan terhadap ilmu dan kemauan untuk mengamalkannya. Semoga Allah menghindarkan anak-anak kita dari berbagai kenakalan remaja yang kini telah begitu biasa. Menghindarkan mereka dari pergaulan bebas, dari makanan dan minuman-minuman terlarang, dan dari lingkungan buruk yang menyeret mereka ke lembah keburukan.

Semoga kita sekalian dianugerahi rezeki yang mudah dan berkah, sehingga rezeki itu membawa kebaikan dan ketenangan hidup bagi kita sekeluarga, serta menjadi rezeki yang memotivasi anak-anak kita untuk bersemangat dalam mencari ilmu. Semoga anak-anak kita menjadi anak saleh yang bisa menjadi buah hati dan buah mata bagi kita di dunia dan akhirat. Semoga keluarga kita dijadikan sebagai keluarga yang barakah; tenteram dalam kebaikan dan terang dalam keimanan.

رَبَّنَا اجْعَلْنَا وَأَوْلاَدَنَا وَأَهْلَنَا وَتَلاَمِيْذَنَا مِنْ أَهْلِ العِلْمِ وَأَهْلِ الخَيْرِ وَلاَ تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِّ وَالضَّيْرِ. بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Amin ya Rabbal-Alamin.

 

Pasuruan, 10 Rabiuts-Tsani 1436 H

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Nawawy Sadoellah

Katib Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri

 

*Taujihat ini dibacakan dalam acara Rapat Wali Santri yang diikuti oleh wali santri dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Gresik, Jabodetabek, Jabar, Banten, dan wali santri dari Jateng dan Jogja.

 

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *