Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf; Kafir Harbi Benar-benar Ada

share to

 

SERIUS: Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf ketika menyampaikan ceramahnya

Genosida Myanmar terhadap etnis muslim Rohingya, rupanya juga dirasakan oleh mayoritas umat Islam di dunia. Oleh sebab itu, Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri menggelar doa bersama bertajuk, Doa santri untuk Muslim Rohingya, Kamis (08/09) yang lalu.

Lebih dari 9 ribu santri duduk rapi di lapangan barat MMU as-Suyuti membaca Hizib Nashar dan shalawat Nariyah. Acara tersebut dihadiri oleh ulama kharismatik Pasuruan, Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf juga ulama kharismatik asal Yaman, Habib Abdullah bin Abdurrahman al-Muhdhor.

Habib Taufiq memaparkan beberapa faidah atas pembantaian yang terjadi di Myanmar. Beliau menyebutkan delapan faidah dari peristiwa pembantaian tersebut. Pertama, menurut beliau peristiwa pembantaian tersebut menunjukkan bahwa kafir harbi benar-benar ada.

“Sebenarnya banyak pembantaian yang terjadi sebelumnya. Bagaimana Kaum Kristen membantai Umat Islam di Bosnia, bagaimana Amerika membombardir Irak, dan juga bagaimana puluhan tahun (Kaum Yahudi) Israel membantai Umat Islam di Palestina. Sekarang yang bukan Yahudi yang bukan Nasrani, (Kaum Buddha) yang dalam filmnya selalu mengalah, tidak mau mengikuti nafsu, juga benci terhadap Umat Islam,” ujar Habib Taufik.

Kedua, pelajaran jihad merupakan hal yang sangat urgent di era ini. Karena musuh-musuh umat Islam sudah menampakkan kebenciannya terhadap Umat Islam.

“Berarti pelajaran jihad tidak boleh dihapus, baik di madrasah atau sekolah, hal ini untuk menghadapi kafir harbi yg kemungkinan juga ada di Indonesia. Ajarkan jihad  pada setiap santri karena itu ada dalam al-Quran,” lanjut beliau.

Ketiga, Peristiwa tersebut membuat umat muslim di Rohingya sedikit demi sedikit bangkit. Semoga dengan ini, kata beliau, perekonomian mereka semakin meningkat dan muncul bibit unggul untuk melawan pemerintahan Myanmar yang sewenang-wenang.

Keempat, semakin tampak antara orang yang peduli dengan orang yang tidak peduli. Golongan peduli menampakkannya dengan doa, dzikir dan lainnya. Sedangkan golongan tidak peduli hanya bisa nyinyir, sambil mengatakan bahwa ini merupakan urusan negara lain, atau berdalih bahwa peristiwa tersebut bukan karena agama, melainkan karena masalah politik.

Kelima. Menurut beliau, senjata yang disiapkan tidak seharusnya digunakan untuk memerangi Umat Islam, seperti penyerangan ke Yaman, dan pemboikotan terhadap Qatar. Tapi ketika Myanmar dibantai, malah diam.

Keenam, Menurut sebagian media sosial, di belakang kaum Buddha ternyata adalah Israel dan RRC. Jika informasi ini benar, ujar beliau, kita harus minta kepada pemerintah agar tidak berhubungan dengan Myanmar atau RRC, sebagaimana tidak berhubungan dengan Israel yang telah membantai Palestina.

Ketujuh, lanjut beliau, ini merupakan awal dari kebangkitan Umat Islam, karena dengan peristiwa ini hubungan Umat Islam di dunia semakin erat.

Terakahir beliau mengatakan, bahwa jihad tidak boleh hanya dengan kekuatan dan persenjataan, melainkan juga harus dengan kekuatan batin, yakni dengan doa, dzikir dan semacamnya.

“Saya mengingatkan kepada semua Umat Islam dari ormas atau organisasi apapun, dari kelompok apapun. Koen kalau tidak berbicara (untuk menentang) peristiwa ini, demi Allah kamu akan dituntut di hari kiamat. Ilingo anak putumu, sebentar lagi jika Allah memberlakukan seperti apa yang kamu lakukan, maka tidak akan ada orang yang peduli terhadap keluargamu nanti.” Pungkas Pengasuh Pondok Pesantren as-Sunny as-Salafi ini.

====
Penulis: Ach.Mustaghfiri Soffan
Editor  : N. Shalihin Damiri

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *