Dakwah Kita Harus Seperti Mereka

share to

Sejatinya, santri adalah jiwa yang berpegang teguh terhadap al-Quran dan hadis nabawi, serta tidak menoleh ke kanan dan ke kiri (teguh pendirian) untuk selama-lamanya. Demikian yang disebut santri versi KH Hasani Nawawie sidogiri.

Di era berkembangnya teknologi-informasi (IT) yang semakin memuncak, internet telah menjadi sesuatu yang sangat penting dan menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat di berbagai belahan dunia.

Kecanggihan teknologi yang semakin bergaya telah menjadikan masyarakat gemar bergaul di dunia maya, dengan alasan menggali informasi seputar gaya hidup, kesehatan dan pendidikan. Oleh karena itu, sederhananya, para santri harus bisa berbaur di dalamnya, bukan untuk membebek dan latah seperti mereka yang di luar sana, tapi supaya dapat mewarnai dan memberikan efek positif pada pengguna dunia maya.

Mengapa dari sekian banyak media sosial, yang paling banyak diminati oleh para santri adalah facebook? Karena di facebook-lah setiap orang bisa terbuka untuk bergaul, berinteraksi bahkan dalam berbisnis sekalipun. Fasilitas yang diberikan facebook tidak tanggung-tanggung, selain daftarnya gratis, di dalamnya juga terdapat fasilitas standar yang dibutuhkan manusia dalam berkomunikasi, setidaknya untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran. Di dalamnya juga bisa terdapat grup dan fanspage yang bisa kita utak-atik sesuka hati, serta bisa bertemu dengan teman lama di beranda yang terdapat di dalamnya.

Facebook merupakan jejaring sosial yang paling sukses dalam perjalanan dunia di abad ke 21. Jejaring tersebut dirintis oleh beberapa anak muda yang berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Harvard, Amerika Serikat, yang dikomandani oleh pemuda yang bernama Mark Zuckerberg, pada 28 Oktober 2003. Jejaring ini awalnya diberi nama Facesmash, lalu pada 04 Februari 2004 berganti nama menjadi Facebook. Dan secara resmi baru diluncurkan pada 26 September 2006 ke seluruh dunia, kemudian bisa digunakan oleh setiap orang minimal berusia 13 tahun.

Melihat perkembangan yang ada saat ini, fenomena maraknya media sosial bisa diibaratkan pisau bermata dua yang menyimpan nilai positif dan negatif sekaligus. Kita tidak bisa menghindari kemajuan sebuah teknologi sepenuhnya, itulah sebabnya kita harus berhati-hati dan waspada, jangan-jangan, kita adalah korban pisau jejaring sosial yang bisa membunuh moral-religius kita.

Bergaul di facebook itu sama halnya kita bergaul di dunia nyata. Itu sebabnya, kita jangan kelewat batas mentang-mentang bebas tanpa ada hambatan, rasa takut, rasa malu, dan minder. Kita selalu dituntut untuk bisa menjaga kesopanan seta tidak boleh melempar fitnah, berbohong, menipu, dan sejenisnya. Hindarilah ngawur dalam segala hal seperti obral diri apalagi menghina dan menyakiti perasaan orang lain, meski itu hanya berupa sindiran.

Nah sekarang kita sedang berada di kondisi yang serba elektronik, oleh karena itu kita dituntut cerdas dan tanggap dalam merespon dan menangkap momen ini.

Jika dahulu wali songo berdakwah dengan berbaur pada tradisi dan kebiasaan masyarakat pribumi, maka kenapa tidak bagi orang pesantren seperti kita berdakwah dengan cara ikut berbaur dengan masyarakat dalam dunia online. Hal itu sangatlah baik dari-pada dunia maya diisi dengan sesuatu yang tidak bermanfaat sama-sekali.

/Quddus el-Nabawi

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *