Kekejaman Media Pada Islam

share to

Keterangan: https://www.google.com/search?safe=strict&biw

Kekejaman yang dilakukan media-media mainstream pada Islam sama sekali bukan merupakan isu yang mengehebohkan, karena bagaimanapun itu sudah menjadi tayangan rutin yang sudah biasa kita saksikan. Hal itu juga bukan merupakan sesuatu yang mengejutkan, mengingat para penguasa media mainstream itu adalah orang-orang kafir yang tentu kontra atau tidak suka pada Islam dan umat Islam. Nah, pertanyaan yang kini penting untuk dikemukakan adalah, bagaimana cara kita memberikan respons atau perlawanan? Sajian berikut diharapkan bisa memberikan perspektif yang lebih detail kepada Anda. Selamat membaca!

Kekejaman media pada islam Teror Paris dan Viral Medsos beberapa jam setelah tragedi teror di Paris pada 13 November 2015 lalu, dunia merespons aksi teror itu secara serentak. Netizen juga ramai-ramai mengecam para pelaku yang jelas sangat bajingan itu. Tapi seorang warga Brooklyn, New York, melalui akun Twitter pribadinya, @OvindarChris, sehari setelah peristiwa itu (14 November 2015) menulis tweet berikut: #Paris I’m sorry for what happened in Paris, but this happens every day and every moment in Palestine and Syiria, and no one speaks. Lalu, hal yang luar biasa kemudian terjadi. Tweet tersebut menjadi viral di media sosial, yang di-retweet B ribuan kali oleh para pengguna Twitter dari berbagai belahan dunia.

Tentu, retweet sebanyak 4.212 kali untuk tweet tersebut sudah terlalu istimewa, mengingat penulisnya sama sekali tidak terkenal; ia hanya diikuti oleh 3.921 followers saja. Kenyataan seperti itu, setidaknya bagi pribadi penulis, menyiratkan dua hal berikut: Pertama, media sosial telah menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menyuarakan opininya, ketika media mainstream telah dikuasai oleh segelintir pihak yang berkepentingan. Kedua, bahwa masih ada banyak orang yang merespons suara kebenaran di tengah-tengah kabut media mainstream yang telah menyelimuti seisi dunia. Memang, teror Paris yang menelan 130 korban tewas dari berbagai wilayah Prancis serta dari 17 negara lainnya itu, telah membuat masyarakat dunia secara ramai-ramai mengecam Islam, padahal yang terduga sebagai pelakunya adalah ISIS, karena beberapa jam setelah tragedi Paris itu, ISIS langsung merilis pengakuan bahwa merekalah pelakunya, dan bahkan mereka menyatakan, “This is just the beginning”.

Tentu, ini tak lebih dari sekadar dagelan yang tak lucu, setidaknya bagi sementara pengamat. Karena bagaimanapun, ISIS sendiri tak lain merupakan episode lanjutan dari gerakan al-Qaeda yang dibentuk, dibiayai dan dilatih oleh Amerika Serikat untuk menghabisi Uni Soviet, yang setelah misi itu selesai, alQaeda justru berbalik menyerang AS, salah satunya – konon – melalui serangan pada 11 September 2001 yang meluluhlantakkan gedung World Trade Center di New York.

Itulah sebabnya, bersamaan dengan kehebohan dunia soal teror Paris pada 13 November itu, pernyataan tegas Hillary Clinton dengan tajuk “We Created

Al-Qaeda” yang ditayangkan CNN dan di-upload ke YouTube pada 27 Desember 2011 lalu itu, kembali beredar di dunia maya, di-share secara berantai dari akun ke akun lain, hingga kembali populer dan banyak ditonton orang. Fenomena itu tentu kian meneguhkan fakta yang sama, bahwa ketika media-media mainstream sedang beramai-ramai menyudutkan Islam terkait dengan teror Paris, sebagian masyarakat dunia justru hendak mengobati para pelaku media itu dari amnesia akut mereka, dengan memutar kembali pernyataan Hillary Clinton tersebut. Di sini seakan-akan masyarakat serentak berkata: “Ngapain kalian heboh banget soal teror Paris itu? Santai saja, dan ingat bahwa ISIS itu turunannya al-Qaeda, dan al-Qaeda itu boneka yang kalian ciptakan sendiri, 20 tahun silam!” Memang, dugaan bahwa ISIS diciptakan oleh Amerika Serikat atau Israel adalah isu yang tak terlalu mengejutkan, dan bahkan lebih mendekati kebenaran. Bahkan pada

22 Juli 2015 lalu, Donald J. Trump melalui akun Twitter pribadinya, @ realDonaldTrump, merilis pernyataan yang membuat dunia terbelalak. “How come ISIS never attacks Israel? Because the dog doesn’t bite his own tail,” tulis Trump. Tak pelak, kicauan Trump itu langsung direaksi dengan ribuan retweet dan menjadi viral di media sosial, tapi tak ada bantahan apapun dari AS maupun Israel. Jadi, kalau ISIS memang dibentuk dan didanai oleh Amerika dan Israel, lalu terjadi tragedi Paris dan ISIS langsung mengaku sebagai pelakunya, maka kian tampak jika teror Paris itu tak lebih dari usaha Amerika dan Israel untuk memancing Prancis dan Eropa agar ikut terlibat dalam perang menghabisi Islam di Timur Tengah, melalui gerakan yang mereka sebut “perang melawan teror”. “Ngapain kalian heboh banget soal teror Paris itu? Santai saja, dan ingat bahwa ISIS itu turunannya al-Qaeda, dan al-Qaeda itu boneka yang kalian ciptakan sendiri, 20 tahun silam!” Paris diserang aksi terorisme, lalu ISIS mengaku sebagai pel

akunya; ini ibarat ISIS bentukan AS dan Israel itu bilang pada pemerintah Prancis: “Itu kami yang meneror. Ayo kalian kemari, serang kami!” Dan Prancis pun kemudian menghujani Suriah dengan bom – yang sangat mungkin ISIS sudah menyingkir dari daerah sasaran.

Tapi yang jelas ribuan nyawa rakyat Suriah melayang sebagai tumbalnya. Medsos adalah Jawaban? Pertanyaan yang kini relevan untuk dikemukakan adalah, apakah media sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube dan semacamnya, serta terbentuknya masyarakat internet (netizen) secara global, sudah cukup untuk menandingi kekuatan media-media mainstrem yang kerap menzalimi Islam itu? Jawaban dari pertanyaan ini tentu sangat kompleks, terlebih kini kita harus menerima fakta bahwa penguasa Medsos dan dunia internet itu tak lain adalah orang yang sama dengan penguasa media mainstream. Atau kalaupun mereka bukan orang yang sama, setidaknya mereka pasti berteman dekat.

Artinya, konspirasi melawan Islam dengan demikian tentu sangat mudah mereka lakukan, termasuk di ranah media sosial sekalipun. Karena itu tentu sama sekali tidak mengejutkan ketika media sosial dan netizen mulai menyerang AS dan Israel, mereka amat

mudah untuk bekerjasama dengan penguasa Medsos dan dunia internet untuk menetralisir serangan-serangan itu. Maka pada 26 November 2015, misalnya, portal berita www. palestinechronicle.com merilis berita bertajuk “Israel Meets with Google and YouTube to Discuss Censoring Palestinian Videos”, di mana Tzipi Hotoverly, wakil menteri luar negeri Israel, bertemu dengan perwakilan dari Google dan Youtube untuk membicarakan konten-konten “hasutan dan terorisme” yang beredar di dunia maya. Jadi inilah yang menjawab pertanyaan mengapa konten-konten yang menampilkan kekejaman Israel dan penderitaan rakyat Palestina di media sosial kerap raib entah kemana.

Problem lain adalah bahwa media sosial itu tak lebih dari mesin yang bisa direkayasa dan dikendalikan. Artinya suara yang menyeruak di media sosial tak berarti selalu merepresentasikan suara hati nurani masyarakat. Boleh jadi itu adalah suara beberapa orang yang menggunakan akun-akun bayaran, atau akun-akun robot. Pencitraan yang dilakukan oleh para politisi melalui media sosial termasuk contoh yang bagus mengenai hal ini. Jadi jika hal sedekimian bisa dilakukan oleh para politisi, maka para penguasa jejaring Medsos itu tentu bisa melakukan hal yang jauh lebih hebat lagi. Jadi, ketika Islam dan umat Islam kini terkepung oleh lawan-lawan mereka; diblokir dari berbagai akses masuk dan jalan keluar, maka umat Islam harus mencari jalur alternatif lain untuk bisa melakukan perlawanan.

Moh. Achyat Ahmad/sidogiri Edisi 111

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Chat WA dengan kami