Hukum Bersalawat Diiringi Rebana

share to

Secara istilah, rebana (Jawa, terbang) adalah sejenis alat kesenian tradisional yang terbuat dari kayu, dibuat dalam bentuk lingkaran dan di tengah-tengahnya dilubangi. Kemudian di tempat yang dilubangi itu ditempeli kulit binatang, biasanya kulit kambing atau sapi yang telah dibersihkan bulu-bulunya.

Dewasa ini rebana sering digunakan oleh kelompok vokal seperti halnya grup nasyid. Rebana digunakan untuk mengiringi mereka dalam menyanyikan syair-syair Arab. Ada beberapa orang yang menganggap memainkan rebana hukumnya haram, karena mereka berpendapat haram memainkan segala jenis alat musik, termasuk rebana. Lantas bagaimana hukum membaca shalawat dengan diiringi rebana?

Baca juga: Memahami Hukum dan Sejarah Maulid Nabi

Hukum membaca shalawat dengan diiringi rebana adalah boleh alias mubah. Imam Bukhari meriwayatkan Hadits sahih dari Rubai’ binti Muawwadz:

قالت الربيع بنت معوذ بن عفراء جاء النبي صلى الله عليه وسلم فدخل حين بني علي فجلس على فراشي كمجلسك مني فجعلت جويريات لنا يضربن بالدف ويندبن من قتل من آبائي يوم بدر إذ قالت إحداهن وفينا نبي يعلم ما في غد فقال دعي هذه وقولي بالذي كنت تقولين

Telah berkata ar-Rubayi’ binti Mu’awwidz bin ’Afra’ : “Nabi datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (yaitu Khalid bin Dzakwaan – orang yang diajak bicara Ar-Rubayi’) dariku. Lalu beberapa anak perempuan memainkan/memukul duf (rebana) sambil menyebut kebaikan-kebaikan orang-orang yang terbunuh dari orang-orang tuaku pada waktu Perang Badar. Salah seorang dari mereka berkata : “Di antara kami terdapat seorang Nabi yang mengetahui apa yang terjadi esok hari”. Maka Nabi berkata : “Tinggalkan perkataan ini dan ucapkanlah perkataan yang engkau katakan sebelumnya.”

Sangat jelas Nabi tidak mempermasalahkan para anak perempuan yang memainkan rebana. Seandainya memainkan rebana termasuk kemunkaran tentu Nabi pasti akan melarangnya. Tapi relita yang ada justru sebaliknya, Nabi malah memerintahkan mereka untuk meneruskan nyanyian mereka.

Senada dengan Hadis tesebut, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan:

( باب ضرب الدف في النكاح والوليمة ) يجوز في الدف ضم الدال وفتحها ، وقوله : ( والوليمة ) معطوف على النكاح أي ضرب الدف في الوليمة ، وهو من العام بعد الخاص ويحتمل أن يريد وليمة النكاح خاصة ، وأن ضرب الدف يشرع في النكاح عند العقد وعند الدخول مثلا وعند الوليمة كذلك .

“(Bab perihal memukul rebana di pernikahan dan walimah)… Boleh memukul rebana di saat walimah. Ini termasuk bolehnya perkara umum setelah khusus. Dan ada kemungkinan khusus walimah nikah saja. Bahwa memukul rebana itu disyariatkan saat nikah, ketika akad nikah, dan ketika masuk dan saat resepsi.”

Baca juga: Lumpuh, Akibat Tidak Berdiri Saat Maulid

Dalam Hadis lain disebutkan:

اعلنوا هذا النكاح واجعلوه في المساجد واضربوا عليه بالدفوف

“Umumkanlah pernikahan, dan lakukanlah di masjid serta (ramaikanlah) dengan memukul duf (rebana)” (Sunan Tirmidzi, no 1089)

Mengenai hadis tersebut, Imam Ibnu Hajar al-Haitami berpendapat dalam kitab al-Fatawa al-Kubro al-Fiqhiyyah juz 4, hlm. 356:

وَفِيهِ إيمَاءٌ إلَى جَوَازِ ضَرْبِ الدُّفِّ فِي الْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ ذَلِكَ فَعَلَى تَسْلِيمِهِ يُقَاسُ بِهِ غَيْرُهُ وَأَمَّا نَقْلُ ذَلِكَ عَنْ السَّلَفِ فَقَدْ قَالَ الْوَلِيُّ أَبُو زُرْعَةَ فِي تَحْرِيرِهِ صَحَّ عَنْ الشَّيْخِ عِزِّ الدِّينِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَابْنِ دَقِيقِ الْعِيدِ وَهُمَا سَيِّدَا الْمُتَأَخِّرِينَ عِلْمًا وَوَرَعًا وَنَقَلَهُ بَعْضُهُمْ عَنْ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَكَفَاكَ بِهِ وَرِعًا مُجْتَهِدًا

“Hadits tersebut mengisyaratkan kebolehan memainkan rebana di masjid-masjid, dan diqiyaskan pula kebolehan memainkan rebana untuk acara-acara lainnya. Adapun penukilan hal itu dari ulama salaf, maka telah berkata Abu Zur’ah dalam Tahrirnya bahwa itu sah berasal dari Syaikh Izzuddin bin Abdissalam dan Ibnu Daqiq al-‘Id, keduanya adalah pemimpin ulama mutakhkhirin dalam segi keilmuan dan kewara’annya, sebagian mereka juga menukilnya dari Syekh Abu Ishaq asy-Syairazi seorang ulama mujtahid yang wara’.”

Baca Juga: Renungan Bagi Pembenci Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Dalam sebuah hadis juga diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah pulang dari suatu peperangan, kemudian seorang perempuan berkulit hitam berkata, “Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku telah bernadzar, jika Allah mengembalikamu dalam keadaan selamat, aku akan menabuh rebana di atas kepalamu”. Rasulullah bersabda, “Jika kamu bernadzar, maka lakukanlah. Jika tidak bernadzar tidak usah kau lakukan”. Wanita itu berkata, “Sungguh aku telah bernadzar”. Lalu Rasulullah SAW duduk dan wanita itu menabuh rebana”. (Sahih Ibnu Hibban, 10/232, Musnad Ahmad, 38/117)

Baca juga: Hadis-hadis Tentang Perayaan Maulid

Hadis di atas, menunjukkan bahwa Rasulullah tidak sedikitpun melarang sahabat wanita tersebut untuk mengekspresikan kecintaannya pada Baginda Nabi dengan menabuh rebana, bahkan Rasulullah memerintahkannya. Seandainya memainkan rebana hukumnya haram, pasti Rasulullah melarang wanita  itu untuk medendangkan rebananya sebagai ungkapan cinta.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa bersalawat dengan diiringi tabuhan rebana tidaklah bertentangan dengan ajaran agama Islam. Terkecuali ada perkara ‘aridli yang melahirkan terjadinya hukum lain. Lalu adakah dalil-dalil yang melarang secara khusus mendendangkan salawat dengan memainkan rebana?

Baca juga: Kitab Khusus Menjelaskan Seputar Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

 

Kanzul Hikam/Sidogiri.net

Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini!

Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya, ya!

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *